Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Antropologi kosmopolitan: ekspansi orang Aceh sebagai ekspansi kebudayaanCosmopolitan anthropology: Acehnese expansion as cultural expansion

Gagasan ini membaca perantauan orang Aceh ke Jawa, Semenanjung Melayu, dan Tanah Suci sebagai ekspansi kebudayaan yang bersifat kosmopolitan. Dengan bertumpu pada Adam Kuper dan Joel S. Kahn, antropologi dipandang sebagai kajian tentang hubungan antarbudaya, bukan budaya-budaya yang terisolasi. Orang Aceh dilihat sebagai pembawa budayanya ke tempat lain sekaligus pembelajar budaya bangsa lain. Bagaimana diaspora Aceh menegosiasikan budayanya di perantauan masih belum dikaji secara serius.

This idea reads Acehnese migration to Java, the Malay Peninsula and the Holy Land as a cosmopolitan expansion of culture. Drawing on Adam Kuper and Joel S. Kahn, anthropology is seen as the study of intercultural relations rather than of isolated cultures. Acehnese people appear both as carriers of their culture to other places and as learners of other peoples' cultures. How the Acehnese diaspora negotiates its culture abroad has yet to be studied seriously.

Joel S. Kahn menganalisis kisah seorang nenek Minangkabau yang keturunannya tersebar di berbagai tempat di Indonesia, lalu menyimpulkan bahwa antropologi modern hampir selalu merupakan antropologi kosmopolitanisme, dan bahwa antropologi sendiri adalah praktik kosmopolitan. Pemahaman klasik yang lahir di Eropa dan Amerika Utara antara dua perang dunia, yang berupaya menghasilkan pengetahuan tentang ‘budaya lain’ melalui etnografi relativistik dan teori induktif, dianggap tidak lagi memadai. Bagi studi Aceh, kerangka ini memungkinkan antropologi yang berangkat dari orang Aceh yang membawa budayanya ke tempat dan budaya lain.

Contoh historis yang diajukan beragam. Pendakwah dari Aceh dan Pasai disebut berperan dalam lahirnya kerajaan Islam di Jawa. Orang Aceh ikut mendirikan Pulau Pinang bersama Francis Light dan membangun kampung Aceh di kawasan permukiman India. Orang Aceh di Melaka berjuang melawan Portugis agar Melaka tetap menjadi kerajaan Islam, dan pengalaman di Kedah juga dicatat. Di Mekkah, harta wakaf Aceh masih melayani jemaah haji hingga kini. Dari sini lahir rumusan kontras bahwa orang Jawa ke Aceh, sebagai transmigran Orde Baru atau serdadu kolonial, ‘membawa masalah’, sedangkan orang Aceh ke Jawa ‘menyelesaikan masalah’. Rumusan ini bernada polemis dan lebih tepat dibaca sebagai ekspresi kebanggaan kolektif daripada temuan empiris.

Agenda risetnya jelas: bagaimana diaspora Aceh mempertahankan budayanya, menegosiasikannya dengan budaya tempatan, atau meninggalkannya. Pertanyaan ini relevan bagi komunitas Aceh di Malaysia, di Tanah Suci, dan di berbagai negara lain.

Contoh historis yang diajukan meliputi Syed Hussain al-Aidid, orang Aceh yang disebut ikut mendirikan Pulau Pinang bersama Francis Light dan membangun kampung Aceh di permukiman India, orang Aceh yang membela Melaka dari Portugis, jejak di Kedah, dan wakaf Aceh di Mekah yang masih melayani jemaah haji.

Joel S. Kahn analysed the story of a Minangkabau grandmother whose descendants were scattered across Indonesia, concluding that modern anthropology is almost always an anthropology of cosmopolitanism and that anthropology itself is a cosmopolitan practice. The classical understanding developed in Europe and North America between the two world wars, which aimed to produce knowledge of ‘other cultures’ through relativistic ethnography and inductive theory, is judged no longer adequate. For Aceh studies this framework allows an anthropology that starts from Acehnese people carrying their culture to other places and cultures.

The historical examples are varied. Preachers from Aceh and Pasai are credited with a role in the emergence of Islamic kingdoms in Java. Acehnese helped found Penang alongside Francis Light and built an Acehnese quarter within the Indian settlement there. Acehnese in Malacca fought the Portuguese to keep it an Islamic kingdom, and experiences in Kedah are also noted. In Mecca, Acehnese endowments still serve pilgrims today. From this comes a contrasting formula: Javanese who came to Aceh, as New Order transmigrants or colonial soldiers, ‘brought problems’, whereas Acehnese who went to Java ‘solved problems’. The formula is polemical and is better read as an expression of collective pride than as an empirical finding.

The research agenda is clear: how the Acehnese diaspora maintains its culture, negotiates it with host cultures, or abandons it. The question applies to Acehnese communities in Malaysia, in the Holy Land and in many other countries.

Historical examples include Syed Hussain al-Aidid, an Acehnese said to have co-founded Penang with Francis Light and to have built an Acehnese quarter in the Indian settlement, Acehnese who defended Melaka against the Portuguese, traces in Kedah, and the Acehnese endowment (wakaf) in Mecca that still serves pilgrims.

Gagasan kunciKey ideas

Budaya sebagai relasiCulture as relation

Identitas Aceh terbentuk dalam hubungan dengan budaya lain, bukan dalam isolasi.Acehnese identity is formed in relation to other cultures, not in isolation.

Membawa budaya ke luarCarrying culture outward

Perantauan Aceh dibaca sebagai penyebaran nilai, ilmu, dan lembaga, bukan sekadar migrasi ekonomi.Acehnese migration is read as the spread of values, learning and institutions, not merely economic movement.

Diaspora sebagai celah risetDiaspora as research gap

Strategi budaya komunitas Aceh di perantauan masih menunggu kajian mendalam.The cultural strategies of Acehnese communities abroad still await in-depth study.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang tetap ‘Aceh’ pada cucu perantau Aceh di Pinang atau Mekkah, dan bagaimana kita mengukurnya?What remains ‘Acehnese’ in the grandchildren of Acehnese migrants in Penang or Mecca, and how might we measure it?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Antropologi kosmopolitan: ekspansi orang Aceh sebagai ekspansi kebudayaan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/antropologi-kosmopolitan-aceh/