Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Salin agama dan tamóng islam: dua cara memaknai masuk IslamSalin agama and tamóng islam: two ways of construing conversion

Orang Jawa dalam tradisi Serat Darmagandul menyebut masuk Islam sebagai salin agama, ‘berganti pakaian’, sedangkan orang Aceh menyebutnya tamóng islam, ‘masuk ke dalam’ Islam. Metafora pakaian mengisyaratkan bahwa adat dan cara pandang lama dapat diteruskan di bawah identitas baru, sedangkan metafora bangunan menggambarkan Islam sebagai tempat berteduh dan bermukim. Islamisasi di Jawa dipandang bermula dari kalangan raja, di Aceh dari rakyat biasa. Di puncak tasawuf, keduanya bertemu pada pemikiran wahdat al-wujūd.

In the tradition of the Serat Darmagandul the Javanese call conversion to Islam salin agama, 'changing clothes', whereas the Acehnese call it tamóng islam, 'entering' Islam. The clothing metaphor implies that old customs and outlooks may continue under a new identity, while the building metaphor presents Islam as a shelter and dwelling. Islamisation in Java is seen as beginning with kings, in Aceh with ordinary people. At the summit of Sufism the two meet in the thought of wahdat al-wujūd.

Dalam Serat Darmagandul, perpindahan orang Jawa ke Islam dilukiskan sebagai meninggalkan agama Buddha lalu ‘salin agama Rasul’. Dialog-dialognya menampilkan penguasa yang mengajak bawahannya berganti agama, dan kisah Sayid Rakhmat yang memohon izin raja Majapahit untuk mengajarkan syariat di Ampel. Islam di sini menyerupai pakaian: dapat dikenakan, disimpan, atau, dalam istilah populer, menjadi ‘Islam KTP’. Pergantian baju tidak selalu diikuti pergantian hati dan pikiran, dan adat sehari-hari tidak perlu diubah. Pola ini dibandingkan dengan kelompok Sam-Sam di Thailand yang mengaku Muslim tetapi tetap berperilaku seperti penganut Buddha.

Orang Aceh memakai ungkapan tamóng islam. Islam dibayangkan sebagai bangunan tempat seseorang masuk dan dapat tinggal selamanya, meskipun metafora ini juga mengandung kemungkinan keluar. Perbedaan metafora sejalan dengan perbedaan jalur islamisasi: di Jawa dimulai dari kalangan ksatria, ketika raja yang dipandang titisan dewa berganti agama, antara lain karena faktor keluarga seperti kisah Putri Campa, lalu kasta di bawahnya mengikuti; di Aceh, islamisasi dipandang bermula dari rakyat biasa.

Pada tingkat tertinggi, kedua tradisi bertemu. Di Jawa, para rohaniawan keraton mempelajari paham manunggaling kawula gusti dalam kitab Hidayat Jati karya R. Ng. Ronggowarsito, yang menurut M. Rasjidi sarat istilah tasawuf seperti insān kāmil dari al-Jili. Di Aceh, padanannya adalah ilmu tarekat dan kontroversi Hamzah Fansuri, yang menurut Azyumardi Azra merupakan sarjana pertama di dunia Melayu yang diketahui berafiliasi dengan tarekat tertentu. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa keislaman Aceh dibangun sebagai ‘rumah’ yang menuntut perubahan isi, meski di puncaknya tetap berbagi wacana mistik dengan Jawa.

In the Serat Darmagandul the Javanese turn to Islam is described as leaving Buddhism to 'change into the religion of the Prophet'. Its dialogues show rulers urging subordinates to convert, and tell of Sayid Rakhmat asking the Majapahit king's leave to teach the sharia at Ampel. Islam here resembles clothing: it can be worn, put away or, in popular parlance, become 'identity-card Islam'. A change of clothes need not be followed by a change of heart and mind, and daily custom need not change. The pattern is compared with the Sam-Sam of Thailand, who profess Islam yet continue to behave as Buddhists.

The Acehnese use the expression tamóng islam. Islam is imagined as a building one enters and may live in forever, although the metaphor also contains the possibility of leaving. The difference of metaphor matches a difference in routes of Islamisation: in Java it began with the ksatriya class, when a king regarded as divine incarnation converted, partly for family reasons as in the story of the Champa princess, and the castes below followed; in Aceh Islamisation is seen as beginning with ordinary people.

At the highest level the two traditions meet. In Java court mystics studied the doctrine of manunggaling kawula gusti in the Hidayat Jati of R. Ng. Ronggowarsito, which according to M. Rasjidi is full of Sufi terms such as al-Jili's insān kāmil. In Aceh the counterpart is tarekat learning and the controversy over Hamzah Fansuri, whom Azyumardi Azra identifies as the first scholar in the Malay world known to be affiliated with a particular Sufi order. The comparison shows Acehnese Islam built as a 'house' that demands a change of contents, while at its summit still sharing a mystical discourse with Java.

Gagasan kunciKey ideas

Metafora pakaianThe clothing metaphor

Salin agama memungkinkan kesinambungan adat dan cara pandang pra-Islam.Salin agama allows pre-Islamic custom and outlook to continue.

Metafora bangunanThe building metaphor

Tamóng islam membayangkan Islam sebagai tempat tinggal yang mengubah penghuninya.Tamóng islam imagines Islam as a dwelling that transforms its occupants.

Dari atas atau dari bawahFrom above or from below

Islamisasi Jawa bermula dari raja; Aceh dari rakyat.Java's Islamisation began with kings; Aceh's with commoners.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa konsekuensi bagi kehidupan beragama bila Islam dipahami sebagai rumah, bukan sebagai pakaian?What follows for religious life when Islam is understood as a house rather than as clothing?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Salin agama dan tamóng islam: dua cara memaknai masuk Islam”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/salin-agama-dan-tamong-islam/