Tun Sri Lanang, uleebalang pertama SamalangaTun Sri Lanang, first uleebalang of Samalanga
Tun Sri Lanang (Tun Muhammad, Datuk Bendahara Paduka Raja) adalah bendahara Johor yang dibawa ke Aceh setelah penaklukan Batu Sawar pada 1613, lalu diangkat Sultan Iskandar Muda menjadi uleebalang pertama Samalanga (1615–1659). Ia dikenal sebagai pengarang Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), dan keturunannya menurunkan baik dinasti Ampon Chik Samalanga maupun kesultanan Johor, Pahang, Terengganu dan Selangor. Ia hidup dan wafat di Aceh, dan makamnya di Lancok, Samalanga, menjadikannya mata rantai sejarah Aceh dan dunia Melayu.
Tun Sri Lanang (Tun Muhammad, Datuk Bendahara Paduka Raja) was the Johor bendahara brought to Aceh after the conquest of Batu Sawar in 1613 and appointed by Sultan Iskandar Muda as the first uleebalang of Samalanga (1615–1659). He is known as the author of the Sulalatus Salatin (Malay Annals), and his descendants include both the Ampon Chik dynasty of Samalanga and the royal houses of Johor, Pahang, Terengganu and Selangor. He lived and died in Aceh, and his grave at Lancok, Samalanga, makes him a link between Acehnese and wider Malay history.
Tun Muhammad, yang lebih dikenal dengan nama timangan Tun Sri Lanang, adalah bendahara (perdana menteri) Kesultanan Johor-Pahang pada awal abad ke-17. Silsilah keluarga yang disusun Lembaga Kebudayaan Atjeh tahun 1958 berdasarkan sarakata Sultan Aceh menelusuri leluhurnya hingga Bukit Siguntang Mahameru dan Batu Sawar Darussalam, melalui deretan bendahara Johor lama. Ketika Sultan Iskandar Muda menghancurkan Batu Sawar pada tahun 1613, Sultan Alauddin Riayat Syah III, adiknya Raja Abdullah, Raja Husein (kelak Sultan Iskandar Thani), Putri Kamaliah (Putroe Phang) dan Tun Sri Lanang dibawa ke Aceh. Pemindahan para bangsawan ini merupakan bagian dari kebijakan Iskandar Muda memindahkan penduduk negeri taklukan ke Aceh inti; W. Linehan mencatat sekitar dua puluh dua ribu orang dari Johor, Pahang, Kedah, Perak dan Deli dipindahkan untuk mengisi Aceh yang terkuras perang.
Atas saran Putri Kamaliah, Iskandar Muda mengangkat Tun Sri Lanang menjadi raja (uleebalang) pertama Samalanga dan daerah taklukannya. Tradisi lisan Samalanga mengisahkan proses itu dalam cerita yang dikenal sebagai Peristiwa Laut. Dua belas pemuka negeri yang dipimpin Hakim Peut Misei, yang telah membuka negeri Samalanga, berselisih tentang siapa yang berhak menjadi raja dan menghadap sultan. Iskandar Muda bersedia mengangkat salah seorang dari mereka asalkan cincin kerajaan yang disiapkan Putri Pahang cocok di jari kelingkingnya. Cincin itu tidak cocok bagi mereka, tetapi pas di jari Tun Sri Lanang, yang menyamar sebagai pawang perahu yang mengantar mereka. Dalam perjalanan pulang ia dibuang ke laut di perairan Laweung, lalu diselamatkan oleh Maharaja Lela Keujruen Cureh. Sultan murka, mengirim Maharaja Goerah, T. Nek Meuraksa Panglima Nyak Doom dan Maharaja Lela mengawal Tun Sri Lanang ke Samalanga, dan menjatuhkan hukuman mati kepada Hakim Peut Misei dan sebelas rekannya.
Sebagai uleebalang, Tun Sri Lanang dikenal bukan hanya cakap memerintah tetapi juga alim. Iskandar Muda berharap pengangkatannya memajukan Islam di pesisir timur Aceh, dan pada masanya Samalanga tumbuh sebagai pusat pengajaran agama, tradisi yang bertahan hingga kini dengan julukan kota santri. Beberapa masjid, seperti Masjid Matang Wakeuh, dinisbatkan kepada zamannya. Hj. Buyong Adil mencatat bahwa ia berguru kepada ulama terkemuka Aceh, di antaranya Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani dan Nuruddin ar-Raniri. Keluarganya pun mendapat kehormatan: putranya Tun Rembau menjadi panglima Aceh, dan seorang cucunya dinikahkan dengan Sayyid Zainal Abidin, kerabat Iskandar Muda. Ia wafat pada tahun 1659 dan dimakamkan di Lancok, Samalanga, meskipun lokasi pasti makamnya masih diperdebatkan (lihat paragraf di bawah).
Tun Sri Lanang dikenal luas sebagai pengarang Sulalatus Salatin ("Pertuturan Segala Raja-Raja"), yang menurut R.O. Winstedt digarap sejak Februari 1614 hingga Januari 1615 ketika ia menjadi tawanan di Aceh. Mukadimah naskah itu menyembunyikan nama pengarang di balik sebutan "fakir", sehingga Winstedt menganggapnya sekadar penyunting. Pandangan ini dibantah dengan merujuk Bustan al-Salatin karya Nuruddin ar-Raniri, yang menyebut "Bendahara Paduka Raja yang mengarang kitab misrat Sulalatus Salatin" dan menyusunnya pada hari Ahad bulan Rabiul Awal 1021 H. Malaysia kini menempatkan Tun Sri Lanang sebagai pujangga agung, sementara di Aceh sendiri namanya relatif jarang dikenal.
Kisah hidupnya juga menyingkap politik antara Aceh dan kerajaan-kerajaan Semenanjung. Tun Sri Lanang dipandang berpihak kepada Aceh dalam menghadapi Portugis, yang ia anggap kewajiban jihad, sementara Sultan Johor memilih bekerja sama dengan Portugis. Akibatnya keturunannya tersisih di Johor selama sekitar enam dekade dan jabatan bendahara beralih kepada keluarga Laksamana Tun Abdul Jamil, sebelum dikembalikan pada 1688 kepada cucunya, Tun Abdul Majid (anak Tun Mat Ali), yang menjadi bendahara Johor, Pahang, Riau dan Lingga (1688–1697). Dari Tun Abdul Majid lahir zuriat sultan-sultan Terengganu, Pahang, Johor dan Selangor. Di Aceh, garis Tun Rembau, dikenal sebagai T. Cik di Blang Panglima Perkasa, menurunkan dinasti Ampon Chik Samalanga yang hingga abad ke-20 masih memakai gelar Bendahara. Penulis kolonial seperti Winstedt dan Linehan menggambarkan Tun Sri Lanang sebagai tawanan dan menuduh Aceh berlaku kejam; M. Adli Abdullah membaca gambaran itu sebagai bias orientalis, dan menawarkan Tun Sri Lanang sebagai perekat hubungan Aceh dan Malaysia.
Riwayat hidupnya di Johor kini lebih jelas. Menurut A. Halim Nasir (1995), Tun Muhammad lahir pada 1565 di Bukit Seluyut, Kota Tinggi, putra Orang Kaya Paduka Raja Ahmad dan Tun Genggang, dan diangkat menjadi bendahara pada 1580 oleh Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah. Sepeninggal sultan itu ia ingin menabalkan Raja Abdullah, tetapi karena Raja Abdullah menolak, ia menabalkan kakaknya, Raja Mansur, sebagai Sultan Alauddin Riayat Syah III. Catatan Belanda menyebut namanya dalam perjanjian persahabatan dengan Laksamana Matelief pada 23 September 1606, ketika ia menolak ikut mengepung Melaka. Ia berusia sekitar 48 tahun ketika dibawa ke Aceh, dan menurut Muhammad Haji Salleh menghabiskan sekitar 46 tahun hidupnya di Aceh hingga wafat pada usia 94 tahun.
Disertasi M. Adli Abdullah di Universiti Sains Malaysia (2015) menelusuri kariernya di Aceh melalui sarakata, Mābaina al-Salāṭīn dan catatan VOC. Dalam sumber Aceh ia bergelar Orang Kaya Datok Bendahara Seri Paduka Tuan Seberang, disingkat Datok Bahra dalam lidah Melayu Aceh. Takeshi Ito, berdasarkan Dagh-Register Van Oudtschoorn (22 Juli 1644), menyimpulkan bahwa "Maradia Lilla" (Orang Kaya Seri Maharaja Lela) dan "Siry Paducca Tuan" adalah orang yang sama, seorang Melayu yang menjabat panglima bandar dan disebut sebagai "panglima atau gubernur orang asing" dalam dewan; sebuah laporan Belanda tahun 1655 menyebutnya paman Temenggung Perak. Menurut catatan VOC, pada 1640 Sultan Iskandar Thani mengangkatnya menjadi Orang Kaya Laksamana Maharaja Lela, dan Sourij pada 1642 menyebutnya orang kedua dalam dewan kerajaan. Setelah 1641, ketika pembesar asing dipersoalkan, ia meminta kepastian kedudukannya; Sultanah Safiatuddin memerintahkan Kerukun Katibul Muluk menyalin ulang sarakata Samalanga dan mengangkatnya sebagai Panglima Bandar Darussalam. Bab pelabuhan Mābaina al-Salāṭīn mencatat "adat bawab panglima bandar" yang disusun "tatkala ia panglima bandarnya Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang", dan pada 1055 H ia pula yang memohon agar tarakata majelis kerajaan disalin. Atas dasar ini M. Adli Abdullah menilai Tun Sri Lanang ikut menyusun dan menjaga Adat Aceh, khususnya aturan pelabuhan, sejalan dengan pendapat H.M. Zainuddin bahwa kedudukannya sebagai orang kaya adalah menjaga adat yang ditetapkan Iskandar Muda. Laporan Belanda menyebut ia memegang jabatan panglima bandar hingga wafat pada 1663, sedangkan sarakata menyebut 1658 dan silsilah Samalanga 1659.
Gelar yang ia sandang di Aceh juga menyimpan keterangan tentang asal-usulnya. Ungkapan "Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang" muncul berulang kali dalam sarakata kenegerian Samalanga dan dalam Adat Aceh, dan G.L. Tichelman (1933) telah mencatat bahwa Tuan Seberang adalah pembesar dari Semenanjung yang dibawa ke Aceh. Dalam pemakaian Aceh, "seberang" menunjuk negeri-negeri Semenanjung Melayu, dan kebiasaan menyebut seseorang menurut tempat asalnya, seperti Teungku Chik di Tiro atau Teungku Chik Awe Geutah, menjelaskan mengapa nama pribadinya tenggelam di balik gelar. Disertasi Adli Abdullah tidak menemukan gelar Tuan Seberang yang diberikan kepada pembesar Aceh lain, sementara pembesar asli Aceh dikenal dengan gelar seperti Panglima Polem, Panglima Mesjid Raya atau Panglima Pidie. Daniel Crecelius dan E.A. Beardow (1979) mencatat bahwa gelar Seri Paduka Tuan merupakan penghormatan khusus yang hanya diberikan kepada orang-orang terhormat di Aceh. Mābaina al-Salāṭīn sendiri menyebut bahwa pada 1055 H, pada masa Sultanah Safiatuddin, Orang Kaya Seri Maharaja Lela Seri Paduka Tuan Seberang memohon agar tarakata Balai Besar disalin, sehingga, bila identifikasi Takeshi Ito diterima, bekas bendahara Johor ini juga ikut memelihara arsip hukum Kesultanan Aceh.
Di Samalanga ia dikenang sebagai Tok Dad atau Tok Banda, orang alim yang "le akai" (banyak akal), dan sebagian penutur bahkan menganggapnya putra asli Samalanga yang pernah berperang melawan Portugis di Johor. Tradisi lisan juga menyebut ia berkeluarga di Johor lalu menikah lagi di Aceh. Versi Shellabear dari Sulalatus Salatin menyebut seorang putra yang lahir di Aceh dari seorang gundik, Tun Rembau, bergelar Seri Paduka Tuan di Aceh dan Panglima Bandar Darussalam, dengan anak-anak antara lain Tun Aceh dan Tun Perak, sedangkan silsilah Samalanga mencatat dua putra, Tun Jenal dan Teuku Chik di Blang. Gelar Bendahara dipegang satu orang dalam keluarga pada satu masa dan diwariskan setelah pemegangnya wafat; pemegang terakhir, Teuku Iskandar Bendahara, wafat pada Juni 2013.
Beberapa persoalan tentang dirinya masih terbuka. Tanggal wafatnya berbeda menurut sumber: silsilah Samalanga mencatat 1069 H/1659, sarakata menyebut 1658, sedangkan laporan Belanda yang dikutip Ito dan Reid (1985) menyebut panglima bandar pada masa Sultanah Safiatuddin itu wafat pada 1663. Penilaian tentang kedudukannya sebagai ulama juga tidak seragam: sebagian penulis menekankan keilmuannya dan hubungannya dengan para ulama besar Aceh, sedangkan Teuku Iskandar (2001) menegaskan bahwa pengarang Sulalatus Salatin itu bukan seorang ulama melainkan pembesar istana yang bergelar Bendahara Paduka Raja. Ketegangan-ketegangan ini tidak mengurangi arti pentingnya, tetapi justru memperlihatkan bahwa riwayat Tun Sri Lanang tersusun dari tiga lapis sumber yang berbeda sifatnya: sastra istana Melayu, dokumen kerajaan Aceh dan arsip VOC, ditambah tradisi lisan Samalanga. Menyelaraskan ketiganya merupakan salah satu pekerjaan penting bagi kajian hubungan Aceh dan dunia Melayu.
Tun Muhammad, better known by his sobriquet Tun Sri Lanang, was bendahara (chief minister) of the Johor-Pahang sultanate in the early seventeenth century. The family genealogy compiled by the Lembaga Kebudayaan Atjeh in 1958 from a sarakata of the Sultan of Aceh traces his ancestry to Bukit Siguntang Mahameru and Batu Sawar Darussalam through a line of bendahara of old Johor. When Sultan Iskandar Muda destroyed Batu Sawar in 1613, Sultan Alauddin Riayat Syah III, his brother Raja Abdullah, Raja Husein (later Sultan Iskandar Thani), Princess Kamaliah (Putroe Phang) and Tun Sri Lanang were taken to Aceh. Their removal formed part of Iskandar Muda's policy of resettling the populations of conquered lands in Aceh's heartland; W. Linehan records some twenty-two thousand people moved from Johor, Pahang, Kedah, Perak and Deli to repopulate a country drained by war.
On the advice of Princess Kamaliah, Iskandar Muda appointed Tun Sri Lanang as the first raja (uleebalang) of Samalanga and its dependencies. Samalanga oral tradition tells the story as the Peristiwa Laut (Sea Incident). Twelve local notables led by Hakim Peut Misei, who had opened up the land of Samalanga, quarrelled over who should rule and went before the sultan. Iskandar Muda agreed to appoint one of them provided that a royal ring prepared by the Pahang princess fitted his little finger. The ring fitted none of them, but it fitted Tun Sri Lanang, who had disguised himself as the boatman who carried them. On the voyage home he was thrown overboard off Laweung and rescued by Maharaja Lela Keujruen Cureh. The enraged sultan sent Maharaja Goerah, T. Nek Meuraksa Panglima Nyak Doom and Maharaja Lela to escort Tun Sri Lanang to Samalanga and had Hakim Peut Misei and his eleven companions executed.
As uleebalang, Tun Sri Lanang was reputed to be learned as well as an able administrator. Iskandar Muda hoped his appointment would advance Islam on Aceh's east coast, and under him Samalanga grew into a centre of religious instruction, a tradition that survives in its reputation as a town of santri. Several mosques, such as that of Matang Wakeuh, are attributed to his time. Hj. Buyong Adil records that he studied with leading Acehnese scholars, among them Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani and Nuruddin ar-Raniri. His family was also honoured: his son Tun Rembau became an Acehnese commander, and a granddaughter married Sayyid Zainal Abidin, a kinsman of Iskandar Muda. He died in 1659 and was buried at Lancok, Samalanga, although the exact site of his grave is still debated (see below).
Tun Sri Lanang is widely credited as the author of the Sulalatus Salatin ("Genealogy of Kings"), which according to R.O. Winstedt was composed between February 1614 and January 1615 while he was a captive in Aceh. The preface conceals the author behind the self-designation "fakir", which led Winstedt to regard him merely as an editor. That view is countered by reference to Nuruddin ar-Raniri's Bustan al-Salatin, which names "Bendahara Paduka Raja who composed the book Sulalatus Salatin" and dates its composition to a Sunday in Rabiul Awal 1021 AH. Malaysia today honours Tun Sri Lanang as a great man of letters, while in Aceh itself his name remains comparatively little known.
His life also illuminates the politics between Aceh and the peninsular kingdoms. Tun Sri Lanang is portrayed as siding with Aceh against the Portuguese, a struggle he regarded as a religious duty, whereas the Sultan of Johor chose to cooperate with them. As a result his descendants were sidelined in Johor for some six decades, and the office of bendahara passed to the family of Laksamana Tun Abdul Jamil until it was restored in 1688 to his grandson Tun Abdul Majid (son of Tun Mat Ali), bendahara of Johor, Pahang, Riau and Lingga (1688–1697). From Tun Abdul Majid descend the sultans of Terengganu, Pahang, Johor and Selangor. In Aceh, the line of Tun Rembau, known as T. Cik di Blang Panglima Perkasa, produced the Ampon Chik dynasty of Samalanga, which still bore the title Bendahara in the twentieth century. Colonial writers such as Winstedt and Linehan cast Tun Sri Lanang as a prisoner and accused Aceh of cruelty; M. Adli Abdullah reads this as orientalist bias and proposes Tun Sri Lanang as a bridge between Aceh and Malaysia.
His life in Johor is now clearer. According to A. Halim Nasir (1995), Tun Muhammad was born in 1565 at Bukit Seluyut, Kota Tinggi, the son of Orang Kaya Paduka Raja Ahmad and Tun Genggang, and was appointed bendahara in 1580 by Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah. On that sultan's death he wished to install Raja Abdullah, but when Raja Abdullah refused he installed his elder brother Raja Mansur as Sultan Alauddin Riayat Syah III. Dutch records name him in the treaty of friendship with Admiral Matelief of 23 September 1606, in which he declined to join a siege of Melaka. He was about forty-eight when he was taken to Aceh and, according to Muhammad Haji Salleh, spent some forty-six years of his life there before dying at the age of ninety-four.
M. Adli Abdullah's doctoral thesis at Universiti Sains Malaysia (2015) traces his Acehnese career through sarakata, the Mābaina al-Salāṭīn and VOC records. In Acehnese sources he bears the title Orang Kaya Datok Bendahara Seri Paduka Tuan Seberang, shortened to Datok Bahra in Acehnese Malay. Takeshi Ito, on the basis of Van Oudtschoorn's Dagh-Register (22 July 1644), concluded that "Maradia Lilla" (Orang Kaya Seri Maharaja Lela) and "Siry Paducca Tuan" were the same person, a Malay who served as panglima bandar and was described as "panglima or governor of foreigners" on the council; a Dutch report of 1655 calls him an uncle of the Temenggung of Perak. According to VOC records, in 1640 Sultan Iskandar Thani made him Orang Kaya Laksamana Maharaja Lela, and Sourij in 1642 called him the second man on the royal council. After 1641, when foreign grandees came under challenge, he sought assurance about his position; Sultana Safiatuddin ordered the Kerukun Katibul Muluk to recopy the Samalanga sarakata and appointed him Panglima Bandar Darussalam. The port section of the Mābaina al-Salāṭīn records an "adat bawab panglima bandar" drawn up "when its panglima bandar was Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang", and in 1055 AH it was he who requested that the tarakata of royal assemblies be recopied. On this basis M. Adli Abdullah judges that Tun Sri Lanang helped compile and safeguard the Adat Aceh, especially its port regulations, in line with H.M. Zainuddin's view that his role as orang kaya was to uphold the adat laid down by Iskandar Muda. Dutch reports have him holding the office of panglima bandar until his death in 1663, whereas the sarakata gives 1658 and the Samalanga genealogy 1659.
The title he bore in Aceh also holds information about his origins. The phrase "Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang" appears repeatedly in the sarakata of the Samalanga domain and in the Adat Aceh, and G.L. Tichelman (1933) had already noted that the Tuan Seberang was a dignitary from the Peninsula brought to Aceh. In Acehnese usage, "seberang" (the far shore) refers to the states of the Malay Peninsula, and the custom of naming a person after his place of origin, as with Teungku Chik di Tiro or Teungku Chik Awe Geutah, explains why his personal name disappeared behind the title. Adli Abdullah's dissertation found no instance of the title Tuan Seberang being given to any other Acehnese dignitary, whereas native Acehnese grandees were known by titles such as Panglima Polem, Panglima Mesjid Raya or Panglima Pidie. Daniel Crecelius and E.A. Beardow (1979) note that the title Seri Paduka Tuan was a special honour bestowed only on persons of high standing in Aceh. The Mābaina al-Salāṭīn itself states that in 1055 AH, under Sultanah Safiatuddin, Orang Kaya Seri Maharaja Lela Seri Paduka Tuan Seberang requested that the tarakata of the Balai Besar be copied, so that, if Takeshi Ito's identification is accepted, this former bendahara of Johor also helped preserve the legal archive of the Aceh Sultanate.
In Samalanga he is remembered as Tok Dad or Tok Banda, a learned man who was "le akai" (resourceful), and some narrators even regard him as a native son of Samalanga who had fought the Portuguese in Johor. Oral tradition also holds that he had a family in Johor and married again in Aceh. Shellabear's version of the Sulalatus Salatin mentions a son born in Aceh to a concubine, Tun Rembau, styled Seri Paduka Tuan di Aceh and Panglima Bandar Darussalam, whose children included Tun Aceh and Tun Perak, while the Samalanga genealogy records two sons, Tun Jenal and Teuku Chik di Blang. The title Bendahara was held by one member of the family at a time and passed on at the holder's death; the last holder, Teuku Iskandar Bendahara, died in June 2013.
Several questions about him remain open. The date of his death differs between sources: the Samalanga genealogy records 1069 AH/1659, the sarakata gives 1658, while the Dutch report cited by Ito and Reid (1985) states that the panglima bandar under Sultanah Safiatuddin died in 1663. Assessments of his standing as a religious scholar also vary: some writers stress his learning and his ties with the great ulama of Aceh, whereas Teuku Iskandar (2001) insists that the author of the Sulalatus Salatin was not an ulama but a court grandee bearing the title Bendahara Paduka Raja. These tensions do not diminish his importance but rather show that the life of Tun Sri Lanang is assembled from layers of sources of very different kinds: Malay court literature, Acehnese royal documents and VOC archives, together with the oral tradition of Samalanga. Reconciling them is one of the important tasks for the study of the relationship between Aceh and the Malay world.
Gagasan kunciKey ideas
Dari bendahara ke uleebalangFrom bendahara to uleebalang
Bangsawan Johor yang dipindahkan ke Aceh menjadi pendiri dinasti penguasa lokal Samalanga.A Johor noble resettled in Aceh became founder of Samalanga's ruling house.
Peristiwa LautThe Sea Incident
Tradisi lisan tentang cincin kerajaan dan percobaan pembunuhan di laut melegitimasi pengangkatannya.Oral tradition of the royal ring and the attempt on his life at sea legitimises his appointment.
Pengarang Sulalatus SalatinAuthor of the Sulalatus Salatin
Kesaksian ar-Raniri dalam Bustan al-Salatin menjadi argumen kuat bagi kepengarangannya.Ar-Raniri's testimony in the Bustan al-Salatin is a strong argument for his authorship.
Satu leluhur, dua duniaOne ancestor, two worlds
Keturunannya memerintah di Samalanga dan di kesultanan-kesultanan Semenanjung Malaysia.His descendants ruled both in Samalanga and in the sultanates of the Malay Peninsula.
Tuan dari seberangThe lord from across the water
Gelar Tuan Seberang menandai asal Semenanjung dan sekaligus kedudukan istimewa dalam hierarki Aceh.The title Tuan Seberang marks his Peninsular origin and at the same time a privileged place in the Acehnese hierarchy.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah Sulalatus Salatin, yang sebagian besar disusun di Aceh, perlu dibaca ulang sebagai produk lingkungan intelektual Aceh dan bukan semata karya Johor?Should the Sulalatus Salatin, largely composed in Aceh, be reread as a product of Aceh's intellectual milieu rather than solely as a Johor text?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Tun Sri Lanang, uleebalang pertama Samalanga”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/tun-sri-lanang/