Jabatan dan gelar istana Kesultanan Aceh menurut Adat MajelisCourt offices and titles of the Aceh Sultanate in the Adat Majelis
Adat Majelis Raja-raja dalam Mābaina al-Salāṭīn memuat "salasilah taraf berdiri segala hulubalang", daftar panjang yang memperlihatkan hierarki jabatan Kesultanan Aceh: kadi, orang kaya, menteri, ceteria, fakih, imam, bentara, keujruen, tandil, syahbandar dan pejabat Balai Furdah. Daftar ini memadukan gelar Melayu, Arab, Persia-India dan Aceh, mencatat penambahan taraf pada masa Sultanah Safiatuddin, dan menunjukkan bahwa hampir setiap jabatan disertai hak memungut adat atas pelabuhan, pekan atau wilayah.
The Adat Majelis Raja-raja in the Mābaina al-Salāṭīn contains the "salasilah taraf berdiri segala hulubalang", a long list revealing the hierarchy of offices of the Aceh Sultanate: the kadi, orang kaya, menteri, ceteria, fakih, imams, bentara, keujruen, tandil, syahbandars and officials of the Balai Furdah. The list blends Malay, Arabic, Persian-Indian and Acehnese titulature, records additions to rank under Sultanah Safiatuddin, and shows that almost every office carried a right to levy customary dues on the port, the market or a territory.
Bagian Adat Majelis Raja-raja menutup uraian upacaranya dengan "salasilah taraf berdiri segala hulubalang", yakni urutan tempat berdiri para pembesar ketika menghadap sultan. Urutan ini dibuka oleh Kadi Malikul Adil, lalu Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja Mangkubumi, Orang Kaya Laksamana Seri Perdana Menteri, Orang Kaya Seri Paduka Tuan, Orang Kaya Raja Bendahara dan Orang Kaya Raja Lela. Teks mencatat bahwa pada masa Sultanah Tajul Alam Safiatuddin taraf itu dianugerahkan pula kepada Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang, Orang Kaya Seri Maharaja Lela, Orang Kaya Seri Paduka Raja, Orang Kaya Maharaja Sentosa, Orang Kaya Udahna Lela dan sejumlah orang kaya lain. Dalam audiensi hari Sabtu, empat dan delapan orang kaya utama dipanggil satu per satu dengan gelar lengkapnya, lalu duduk berlapis-lapis menurut tarafnya. Daftar ini, dengan demikian, bukan sekadar inventaris nama, melainkan peta kedudukan politik yang dipentaskan setiap kali istana berkumpul.
Susunan daftar itu sendiri memperlihatkan lapisan-lapisan yang berbeda. Sesudah orang kaya utama menyusul deretan panjang ceteria (antara lain Ceteria Raja Lahad, Ceteria Serba Yaman, Ceteria Raja Dilam dan Ceteria Syahbandar Muktabar Khan), kemudian para menteri seperti Menteri Utama Diraja, Menteri Seri Paduka Indera, Menteri Paduka Seri Raja yang juga panglima kuda, dan Menteri Tun Cahya Lela Makota. Lapisan berikutnya adalah keujruen dan tandil "orang dalam kota Daruddunia", disusul belasan fakih bergelar, lalu bentara. Teks menyebut secara khusus "bentara yang kedelapan" dan mencatat asal jabatan masing-masing: Bentara Maharaja Paduka adalah "jabatan anak Maharaja Diraja", Bentara Megat Sati Indera "jabatan anak Laksamana", sedangkan Raja Tengah Bungsu memegang jabatan yang terkait dengan Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang. Rumusan ini menunjukkan bahwa sebagian jabatan diwariskan dalam keluarga pembesar tertentu, sehingga taraf istana sekaligus merekam jaringan kekerabatan elite.
Beberapa gelar menunjuk fungsi yang jelas. Orang Kaya Seri Maharaja Lela adalah panglima bandar yang memimpin Balai Furdah, dan pada tahun 1607 dialah yang ditugaskan menuliskan majelis-majelis kerajaan. Orang Kaya Raja Lela Makota bergelar Panglima Deli dan membawahi perahu-perahu dari Deli. Orang Kaya Laksamana dikaitkan dengan wilayah Ujong Pekan, sedangkan Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja Mangkubumi menerima adat dari kedai-kedai pekan melalui penghulu pematam. Daftar ini juga memuat pejabat wilayah taklukan dan daerah, seperti Orang Kaya Besar di Perak, Temenggung Seri Dewa Raja Perak, Bentara Seri Lela Diraja Perak, Seri Simara Keujruen orang Kedah, Raja Lela Perkasa Asahan, Hakim Pidie Raja Dewa Makota dan Hakim Pidie Maharaja Purba. Kehadiran nama Perak, Kedah, Deli dan Asahan di dalam satu daftar taraf memperlihatkan bahwa jangkauan politik Aceh pada abad ke-17 diterjemahkan ke dalam bahasa protokol istana: wilayah seberang hadir di Bandar Aceh melalui wakil-wakil yang diberi tempat berdiri.
Jabatan di daerah inti diatur dengan ketelitian geografis. Para bentara Pidie disebut berkawal di Pidie, Padang Tiji, Seuruli, Gigieng dan Kiran, sementara batas kawal para hulubalang Pase dirinci dengan nama gunung, sungai dan alur. Kawal Orang Kaya Maharaja, misalnya, membentang dari Keureutoe di barat hingga Pasi Puteh di timur, dari Gunung Hitam di darat hingga tempat berlabuh pukat di laut. Negeri "hadarat tuan kita yang di Pase" dibatasi Gunung Punteuet di barat, Gunto Puntong di timur dan Gunung Hitam di darat, sedangkan kawal Hakim Samakurok, Bentara Blang Mangat, Keujruen Bayu, Seri Laut dan Hakim Sungai saling bertumpu satu sama lain. Uraian ini menjadikan teks taraf sebagai dokumen tata ruang: jabatan tidak hanya menunjuk kedudukan di hadapan raja, tetapi juga wilayah tertentu yang menjadi tanggung jawab dan sumber penghasilan pemegangnya.
Jabatan keagamaan menempati posisi tertinggi dalam urutan. Kadi Malikul Adil memohon keberangkatan sultan ke masjid pada hari raya, menjadi orang pertama yang melakukan junjung duli, menunggang gajah Gangsar dalam perarakan Hari Raya Haji dan mewakili sultan menyembelih kurban. Menurut Dastur, ia menerima seratus dua puluh tahil setahun dari hak dacing yang dikelola Syahbandar Saiful Muluk, dua puluh tahil di antaranya untuk Seri Raja Fakih. Di bawah kadi berdiri Syekh Syarif, Fakih Jataraya, Keujruen Biang dan Penghulu Biang. Daftar fakih bergelar memakai pola gelar Arab, seperti Fakih Malikul Mukmin, Malikul Amin, Malikus Sadik, Malikuz Zahir dan Malikul Mansur, sedangkan para imam bergelar Imam Malikul Islam, Imam Sati Ulama, Imam Sati Hukama dan Imam Malikul Habib; Imam Bale Pidie tercatat pula sebagai imam daerah. Dalam perarakan Hari Raya Haji tampil Syekh Syamsuddin, yang lazim diidentifikasi dengan Syamsuddin as-Sumatrani, Syaikh al-Islam pada masa Iskandar Muda. Penempatan ulama di puncak taraf selaras dengan pandangan kitab bahwa kerajaan berdiri di atas hukum syarak dan adat sekaligus.
Kerja tulis-menulis kerajaan dipegang para kerukun (kerkun). Penghulu Kerukun Raja Sati Muda memegang daftar adat di Balai Furdah dan menerbitkan surat kejelasan bagi nakhoda, sedangkan Kerukun Katibul Muluk Seri Indera Suara, gelar yang berasal dari bahasa Arab kātib al-mulūk atau juru tulis raja, dan Kerukun Seri Indera Muda bertugas di Balai Besar. Perintah raja turun dalam bentuk "cap" yang dibawa megat ke balai-balai, dengan rumusan tetap "insya Allah Taala, sabda yang maha mulia". Tarakata Balai Besar dan daftar Balai Furdah menjadi dua arsip utama tempat setiap perubahan adat dicatat. Ketika sultan memerintahkan agar suatu majelis "ditandakan surat seperti dalam tarakata", perintah itu disampaikan sekaligus kepada Orang Kaya Seri Maharaja Lela dan para kerukun, sehingga pejabat pelabuhan dan juru tulis istana terikat dalam satu rantai administrasi tertulis.
Kelompok yang paling erat dengan perniagaan berdiri "di kanan Geundrang" dan, menurut teks, "tiada tarafnya" dalam barisan hulubalang. Mereka adalah Syahbandar Saiful Muluk, Syahbandar Seri Rama Sati, Syahbandar Mu'izzul Muluk, Penghulu Kerukun Raja Sati Muda, Seri Perba Khan, para nazir dan dalal, serta Keujruen Blang dan Penghulu Blang. Pembagian kerja di Balai Furdah dirinci: Syahbandar Saiful Muluk mengurus dacing, Syahbandar Seri Rama Sati mengurus jung, sedangkan Syahbandar Mu'izzul Muluk mengurus kuda. Teks juga mencatat bahwa Syahbandar Muktabar Khan adalah "anak-anakan Gujarat" bernama Nakhoda Muktabar Khan yang diberi jabatan pada masa Sultanah Safiatuddin dan dirangkap dengan jabatan penghulu kawal. Catatan ini memperlihatkan bagaimana pedagang asing dapat diserap ke dalam birokrasi pelabuhan melalui gelar, sebuah mekanisme yang membuat kosmopolitanisme Bandar Aceh dilembagakan, bukan sekadar ditoleransi.
Lingkungan istana diisi oleh lapisan pegawai yang luas. Bentara bertindak sebagai juru bicara upacara; Bentara Biang dan "bentara berdiri di tengah" memohonkan setiap tahap acara, dan bentara pembawa salih memikul pedang kebesaran. Biduanda, megat, gundangan, meremang dan budak Syah Alam melayani sultan dari dekat, sementara "hamba Syah Alam yang di kanan Geundrang" dipimpin oleh Tandil Ratikan Seri Negara Indera dan Tandil Mujahid Syik Seri Dewa Putera. Keujruen dan tandil mengepalai berbagai satuan: Keujruen Geundrang Seri Udahna Kembaran memimpin genderang, sementara ada pula keujruen gajah, keujruen kuda dan keujruen kuala. Pasukan terdiri atas laskar, pengawinan pembawa tombak, mitar pembawa bedil istanggar dan sidang jenggi bersenjata pedang Habsyi. Ruang istana juga bertingkat: Kota Daruddunia, Balai Besar, Balai Pedang, Balai Hulubalang, Balairung, Balai Furdah, pintu cermin Jumat, Medan Khayali dan mahligai Jitakandran.
Martabat jabatan diwujudkan secara material. Dalam jamuan sesudah audiensi Sabtu, air dan nasi disajikan dalam mundam dan ceper suasa bagi Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja hingga Orang Kaya Raja Makota, sedangkan pejabat di bawahnya menerima wadah perak. Jabatan juga merupakan sumber penghasilan, karena hampir setiap pejabat memiliki "adat" yang dipungut dari pelabuhan, pekan atau wilayah. Dastur Adat Hasil Negeri yang diturunkan Iskandar Muda pada 1050 H menetapkan, misalnya, bahwa Bentara Blang Mangat di Pase menyerahkan empat ratus emas dan empat ratus kempit beras setahun kepada sultan, Hakim Samakurok jumlah yang sama, sedangkan Keujruen Bayu dan Hakim Krueng masing-masing dua bungkal emas dan lima puluh kempit beras. Di Samalanga, Keujruen Syik menyerahkan dua bungkal lima mayam emas dan seratus dua puluh gunca padi. Hubungan antara pusat dan pemegang jabatan daerah dengan demikian bersifat timbal balik: gelar memberi hak memungut, dan hak itu diimbangi kewajiban upeti tahunan.
Taraf berdiri juga dapat dibaca berdampingan dengan sumber asing. Kajian-kajian modern mencatat bahwa sumber-sumber abad ke-17 tentang pemerintahan Aceh hampir selalu menyebut orang kaya sebagai pejabat dan anggota dewan kerajaan, yang terhubung dengan istana melalui perdagangan atau fungsi resmi. Takeshi Ito (1984), dengan merujuk dagh-register Belanda tahun 1644, berpendapat bahwa gelar Orang Kaya Seri Maharaja Lela dan Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang menunjuk satu orang yang sama, seorang Melayu yang memegang jabatan panglima bandar lebih dari dua puluh tahun hingga wafatnya pada 1663. Dalam kajian tentang Tun Sri Lanang, M. Adli Abdullah memakai identifikasi ini untuk menghubungkan gelar Seri Paduka Tuan Seberang dengan tokoh asal Johor tersebut. Perbandingan semacam ini memperlihatkan bahwa gelar dalam teks adat dapat berpindah dari satu pemegang ke pemegang lain, sehingga gelar yang sama tidak selalu berarti orang yang sama, dan sebaliknya.
Perpaduan gelar Melayu (seri, paduka, maharaja, temenggung), Arab (malikul adil, katib, fakih), Persia-India (khan, nazir, dalal, syahbandar) dan Aceh (keujruen, peutua, imeum, mukim) memperlihatkan Aceh sebagai kerajaan kosmopolitan yang membangun birokrasinya dari berbagai tradisi Samudera Hindia. Bagi studi Aceh, daftar taraf ini penting karena menyediakan bahan untuk merekonstruksi struktur kekuasaan dari dalam, bukan semata dari catatan pengunjung Eropa. Persoalan terbuka masih banyak: sejauh mana daftar itu mencerminkan keadaan satu masa atau merupakan akumulasi dari beberapa pemerintahan, bagaimana hubungan antara orang kaya di pusat dan uleebalang di daerah berubah dari abad ke-17 hingga ke-19, dan bagaimana gelar-gelar ini bertahan atau lenyap dalam ingatan masyarakat setelah kesultanan runtuh.
The Adat Majelis Raja-raja closes its account of ceremonies with the "salasilah taraf berdiri segala hulubalang", the order in which the dignitaries stood when attending the sultan. The order opens with the Kadi Malikul Adil, followed by Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja Mangkubumi, Orang Kaya Laksamana Seri Perdana Menteri, Orang Kaya Seri Paduka Tuan, Orang Kaya Raja Bendahara and Orang Kaya Raja Lela. The text notes that under Sultanah Tajul Alam Safiatuddin this rank was also conferred on Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang, Orang Kaya Seri Maharaja Lela, Orang Kaya Seri Paduka Raja, Orang Kaya Maharaja Sentosa, Orang Kaya Udahna Lela and a number of other orang kaya. At the Saturday audience the four and the eight leading orang kaya were called one by one by their full titles and then sat in tiers according to rank. The list is therefore not merely an inventory of names but a map of political standing, performed whenever the court assembled.
The arrangement of the list itself reveals distinct strata. After the leading orang kaya comes a long row of ceteria (among them Ceteria Raja Lahad, Ceteria Serba Yaman, Ceteria Raja Dilam and Ceteria Syahbandar Muktabar Khan), then ministers such as Menteri Utama Diraja, Menteri Seri Paduka Indera, Menteri Paduka Seri Raja, who was also commander of the horse, and Menteri Tun Cahya Lela Makota. The next stratum consists of the keujruen and tandil "of the people inside the Daruddunia citadel", followed by over a dozen titled fakih and then the bentara. The text singles out "the eight bentara" and records the origin of each office: Bentara Maharaja Paduka is "the office of the son of Maharaja Diraja", Bentara Megat Sati Indera "the office of the son of the Laksamana", while Raja Tengah Bungsu held an office linked to Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang. Such formulas show that some offices were inherited within particular noble families, so that court rank also recorded the kinship networks of the elite.
Several titles point to clear functions. Orang Kaya Seri Maharaja Lela was the panglima bandar (harbour master) who presided over the Balai Furdah, and in 1607 it was he who was charged with writing down the royal majelis. Orang Kaya Raja Lela Makota bore the title Panglima Deli and had charge of the vessels from Deli. Orang Kaya Laksamana was associated with the Ujong Pekan district, while Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja Mangkubumi received dues from the market stalls through the penghulu pematam. The list also includes officials of subject and outlying territories, such as the Orang Kaya Besar in Perak, Temenggung Seri Dewa Raja Perak, Bentara Seri Lela Diraja Perak, Seri Simara Keujruen of the Kedah people, Raja Lela Perkasa Asahan, and the judges of Pidie Raja Dewa Makota and Maharaja Purba. The presence of Perak, Kedah, Deli and Asahan within a single order of rank shows how Aceh's seventeenth-century political reach was translated into the language of court protocol: overseas territories were present in Bandar Aceh through representatives who were assigned a place to stand.
Offices in the core territories were regulated with geographical precision. The bentara of Pidie are said to keep watch at Pidie, Padang Tiji, Seuruli, Gigieng and Kiran, while the boundaries of the jurisdictions of the hulubalang of Pase are specified by the names of mountains, rivers and streams. The jurisdiction of Orang Kaya Maharaja, for instance, stretched from Keureutoe in the west to Pasi Puteh in the east, and from Gunung Hitam inland to the anchorage of the seine nets at sea. The domain "of our lord in Pase" was bounded by Gunung Punteuet in the west, Gunto Puntong in the east and Gunung Hitam inland, while the jurisdictions of Hakim Samakurok, Bentara Blang Mangat, Keujruen Bayu, Seri Laut and Hakim Sungai abutted one another. These descriptions make the text of rank a document of spatial order: an office denoted not only a position before the ruler but also a particular territory for which its holder was responsible and from which he drew his income.
Religious office stands at the head of the order. The Kadi Malikul Adil requested the sultan's departure for the mosque on feast days, was the first to perform the junjung duli, rode the elephant Gangsar in the procession of the Feast of the Sacrifice and slaughtered the sacrificial animal on the sultan's behalf. According to the Dastur he received one hundred and twenty tahil a year from the weighing dues administered by Syahbandar Saiful Muluk, twenty tahil of which went to Seri Raja Fakih. Below the kadi stood Syekh Syarif, Fakih Jataraya, Keujruen Biang and Penghulu Biang. The titled fakih follow an Arabic pattern, such as Fakih Malikul Mukmin, Malikul Amin, Malikus Sadik, Malikuz Zahir and Malikul Mansur, while the imams were styled Imam Malikul Islam, Imam Sati Ulama, Imam Sati Hukama and Imam Malikul Habib; an Imam Bale Pidie also appears as a regional imam. In the procession of the Feast of the Sacrifice appears Syekh Syamsuddin, commonly identified with Syamsuddin as-Sumatrani, the Syaikh al-Islam under Iskandar Muda. Placing the ulama at the top of the order accords with the kitab's view that the kingdom rested on both sharia and adat.
The kingdom's written business was in the hands of the kerukun (kerkun). The Penghulu Kerukun Raja Sati Muda kept the register of dues at the Balai Furdah and issued clearance letters to ship captains, while the Kerukun Katibul Muluk Seri Indera Suara, a title derived from the Arabic kātib al-mulūk, "secretary of kings", and the Kerukun Seri Indera Muda served at the Balai Besar. Royal orders went out as a "cap" (seal) carried by a megat to the various halls, with the fixed formula "God Most High willing, the word of the most exalted". The tarakata of the Balai Besar and the register of the Balai Furdah were the two main archives in which every change of adat was recorded. When the sultan ordered that a majelis be "recorded in writing as in the tarakata", the order was addressed jointly to Orang Kaya Seri Maharaja Lela and the kerukun, so that port officials and court scribes were bound into a single chain of written administration.
The group most closely tied to commerce stood "to the right of the Geundrang" and, according to the text, "had no rank" in the line of the hulubalang. They were Syahbandar Saiful Muluk, Syahbandar Seri Rama Sati, Syahbandar Mu'izzul Muluk, Penghulu Kerukun Raja Sati Muda, Seri Perba Khan, the nazir and dalal, and the Keujruen Blang and Penghulu Blang. The division of labour at the Balai Furdah is spelled out: Syahbandar Saiful Muluk dealt with the scales, Syahbandar Seri Rama Sati with junks, and Syahbandar Mu'izzul Muluk with horses. The text also records that Syahbandar Muktabar Khan was "an adopted son of Gujarat" named Nakhoda Muktabar Khan, who was given office under Sultanah Safiatuddin and combined it with the post of penghulu kawal. This note shows how foreign merchants could be absorbed into the port bureaucracy through titles, a mechanism by which the cosmopolitanism of Bandar Aceh was institutionalised rather than merely tolerated.
The palace environment was staffed by a broad stratum of servants. The bentara acted as ceremonial spokesmen; the Bentara Biang and the "bentara standing in the middle" requested each stage of a ceremony, and the bentara pembawa salih bore the sword of state. Biduanda, megat, gundangan, meremang and the budak Syah Alam served the sultan at close quarters, while the "servants of Syah Alam to the right of the Geundrang" were led by Tandil Ratikan Seri Negara Indera and Tandil Mujahid Syik Seri Dewa Putera. Keujruen and tandil headed various units: Keujruen Geundrang Seri Udahna Kembaran led the drums, and there were also keujruen of elephants, horses and the river mouth. The troops comprised laskar, pengawinan bearing spears, mitar carrying istanggar muskets and the sidang jenggi armed with Abyssinian swords. Palace space too was tiered: the Kota Daruddunia, Balai Besar, Balai Pedang, Balai Hulubalang, Balairung, Balai Furdah, the Friday mirror gate, the Medan Khayali and the Jitakandran pavilion.
The dignity of office was expressed materially. At the meal after the Saturday audience, water and rice were served in mundam and ceper vessels of suasa alloy to those from Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja down to Orang Kaya Raja Makota, while lower officials received silver vessels. Office was also a source of income, since almost every official had "adat" (dues) levied on the port, the market or a territory. The Dastur Adat Hasil Negeri issued by Iskandar Muda in 1050 AH stipulates, for example, that Bentara Blang Mangat in Pase delivered four hundred emas and four hundred kempit of rice a year to the sultan, Hakim Samakurok the same amount, and Keujruen Bayu and Hakim Krueng two bungkal of gold and fifty kempit of rice each. In Samalanga, Keujruen Syik delivered two bungkal and five mayam of gold and one hundred and twenty gunca of paddy. The relationship between the centre and regional office-holders was thus reciprocal: a title conferred the right to levy, and that right was balanced by the duty of annual tribute.
The order of rank can also be read alongside foreign sources. Modern studies note that seventeenth-century sources on Acehnese government almost always refer to orang kaya as officials and members of the royal council, connected with the court through trade or official function. Takeshi Ito (1984), drawing on a Dutch dagh-register of 1644, argued that the titles Orang Kaya Seri Maharaja Lela and Orang Kaya Seri Paduka Tuan Seberang referred to one and the same person, a Malay who held the office of panglima bandar for more than twenty years until his death in 1663. In his study of Tun Sri Lanang, M. Adli Abdullah uses this identification to link the title Seri Paduka Tuan Seberang with that figure of Johor origin. Such comparisons show that titles in adat texts could pass from one holder to another, so that the same title did not always mean the same person, and vice versa.
The blend of Malay titles (seri, paduka, maharaja, temenggung), Arabic ones (malikul adil, katib, fakih), Persian-Indian ones (khan, nazir, dalal, syahbandar) and Acehnese ones (keujruen, peutua, imeum, mukim) shows Aceh as a cosmopolitan kingdom that built its bureaucracy out of several Indian Ocean traditions. For Aceh studies the order of rank matters because it supplies material for reconstructing the structure of power from within, not only from the reports of European visitors. Many questions remain open: how far the list reflects a single period or is an accumulation from several reigns, how the relationship between the orang kaya at the centre and the uleebalang in the regions changed from the seventeenth to the nineteenth century, and how these titles survived or vanished from popular memory after the sultanate fell.
Gagasan kunciKey ideas
Ulama di puncak tarafUlama at the head of rank
Kadi Malikul Adil berdiri paling depan dan memimpin junjung duli.The Kadi Malikul Adil stands first and leads the junjung duli.
Jabatan sebagai prebendaOffice as prebend
Hampir setiap gelar disertai hak memungut adat dari pelabuhan, pekan atau wilayah, diimbangi kewajiban upeti tahunan.Almost every title came with a right to levy dues on the port, market or territory, balanced by a duty of annual tribute.
Birokrasi tertulisA written bureaucracy
Para kerukun menjaga tarakata dan daftar sebagai arsip hukum kerajaan.The kerukun kept the tarakata and registers as the kingdom's legal archive.
Wilayah dalam protokolTerritory in protocol
Wakil Perak, Kedah, Deli dan Asahan diberi tempat berdiri, sehingga jangkauan kerajaan tampil dalam upacara.Representatives of Perak, Kedah, Deli and Asahan were given a place to stand, so the kingdom's reach was displayed in ceremony.
Gelar kosmopolitanCosmopolitan titulature
Unsur Melayu, Arab, Persia-India dan Aceh berpadu dalam satu hierarki, termasuk pedagang Gujarat yang diangkat menjadi syahbandar.Malay, Arabic, Persian-Indian and Acehnese elements merge in one hierarchy, including a Gujarati merchant raised to syahbandar.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana hak-hak adat yang melekat pada setiap jabatan membentuk kelas orang kaya dan hubungannya dengan sultan dari abad ke-17 hingga ke-18?How did the customary dues attached to each office shape the orang kaya class and its relationship with the sultan from the seventeenth to the eighteenth century?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Jabatan dan gelar istana Kesultanan Aceh menurut Adat Majelis”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/jabatan-dan-gelar-istana-kesultanan-aceh/