Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Hikayat Prang SabiHikayat Prang Sabi (Epic of the Holy War)

Digubah 1881Composed 1881

Hikayat Prang Sabi adalah syair epik berbahasa Aceh yang digubah Teungku Chik Pante Kulu dalam pelayaran pulang dari Mekkah ke Aceh pada 1881. Hikayat ini menjadi sumber semangat perang rakyat Aceh melawan Belanda, sehingga perang itu sendiri dikenal sebagai Prang Sabi. Teksnya dibaca di dayah, meunasah, dan rumah sebelum orang berangkat bertempur, serta disalin berulang kali. Ia adalah contoh paling jelas bagaimana pengalaman haji diterjemahkan menjadi energi perlawanan.

The Hikayat Prang Sabi is an Acehnese-language epic composed by Teungku Chik Pante Kulu on his voyage home from Mecca in 1881. It became the chief source of martial inspiration in Aceh’s war against the Dutch, so much so that the war itself came to be called Prang Sabi. The text was recited in dayah, meunasah and homes before people went into battle, and was copied again and again. It is the clearest example of how the experience of hajj was translated into the energy of resistance.

Menurut A. Hasjmy, jiwa Muhammad Pante Kulu dibentuk oleh dua arus besar yang ia jumpai di Tanah Suci: gerakan kebangkitan yang dikaitkan dengan Muhammad bin Abdul Wahhab dan seruan pembaruan Sayyid Jamaluddin al-Afghani. Sebagai seorang berjiwa seni, ia gemar membaca diwan para penyair perang masa Nabi, seperti Hassan bin Tsabit dan Ka‘ab bin Zuhair, serta kisah para pahlawan Islam seperti Khalid bin Walid, Umar bin Khattab, Hamzah, dan Thariq bin Ziyad. Bahan-bahan inilah yang dipadukan menjadi hikayat dalam bahasa Aceh.

Ibrahim Alfian mencatat bahwa selama perang, hikayat ini dibaca di dayah, meunasah, rumah-rumah, dan tempat lain sebelum orang pergi berperang. Di daerah yang telah diduduki Belanda, pembacaannya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Penyebarannya tidak hanya melalui pembacaan lisan, tetapi juga melalui penyalinan naskah berkali-kali agar menjangkau pelosok Aceh. Dengan demikian, hikayat ini berfungsi sebagai media mobilisasi massa yang bekerja lewat tradisi lisan dan tulis sekaligus.

Pengaruhnya terbaca pula dalam sikap para pemimpin perang. Sekitar 1890, mereka justru menganjurkan rakyat untuk tidak berangkat haji demi memperkuat barisan menghadapi Belanda, karena perang melawan kafir dipandang lebih mendesak. Hikayat Prang Sabi memperlihatkan ironi sejarah: semangat yang dibawa pulang dari Mekkah kemudian mendorong orang menunda perjalanan ke Mekkah demi jihad di tanah sendiri.

Hikayat ini dipandang memicu citra Belanda sebagai kafir dan semangat phoh kaphé, yang membuat Belanda menjuluki pejuang Aceh “Aceh pungó”; satu tafsir mengaitkannya dengan Tgk. Chik Kuta Karang, atribusi yang berbeda dari yang lazim dan perlu diperiksa.

A. Hasjmy menganalisis hikayat ini dari tiga segi: seni bahasa (keindahan, bahasa, seni, ekspresi, ilham, ketegasan), seni pendidikan (pendidikan akal, akhlak, rasa, dan keindahan), serta dakwah Islamiyah (tujuan, kebijaksanaan, dan hubungan dakwah dengan khayal). Ia menyebutnya epic poetry yang berhasil gemilang.

Ali Hasjmy menganalisis karya ini dari tiga segi: seni bahasa (keindahan, bahasa, seni, ekspresi, ilham, ketegasan), seni pendidikan (akal, akhlak, rasa, keindahan), dan dakwah Islamiyah (tujuan, kebijaksanaan, serta pertautan dakwah dan khayal), dan menyebut penciptanya, Teungku Chik Pante Kulu, ‘Penyair Perang’ terbesar di dunia.

Menurut A. Hasjmy, Tgk. Chik Pante Kulu menggubah hikayat ini dalam perjalanan pulang dari Mekkah pada 1881. James T. Siegel mencatat bahwa para gerilyawan membacakannya sebelum bertempur. Snouck Hurgronje mencatat pula bahwa pengarang salah satu versinya, Teungku Kutakarang, berteori bahwa orang Aceh adalah keturunan Arab, Persia, dan Turki, dan salah satu versi hikayat ini telah memuat tema kemunduran moral yang kelak dipakai PUSA.

Konsep kaphe dan prang sabi menjadi ideologi perang melawan Belanda; dalam logika ini musuh adalah yang tidak sekeyakinan dan mengganggu kehidupan rakyat Aceh.

According to A. Hasjmy, Muhammad Pante Kulu was shaped by two great currents he encountered in the Holy Land: the revivalist movement associated with Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab and the reformist call of Sayyid Jamal al-Din al-Afghani. Artistic by temperament, he loved the diwans of the war poets of the Prophet’s time, such as Hassan ibn Thabit and Ka‘b ibn Zuhayr, and the stories of Muslim heroes such as Khalid ibn al-Walid, ‘Umar ibn al-Khattab, Hamza and Tariq ibn Ziyad. These materials were fused into a hikayat in Acehnese.

Ibrahim Alfian records that during the war the hikayat was read in dayah, meunasah, private homes and elsewhere before people went to fight. In areas already occupied by the Dutch it was recited in secret. It spread not only through oral performance but also through repeated copying of manuscripts to reach every corner of Aceh. The hikayat thus worked as a medium of mass mobilisation through oral and written tradition at once.

Its influence can also be read in the stance of war leaders. Around 1890 they actually urged people not to go on hajj in order to strengthen the ranks against the Dutch, since war against the unbelievers was deemed more pressing. The Hikayat Prang Sabi reveals a historical irony: a spirit brought home from Mecca later moved people to postpone their journey to Mecca for the sake of jihad at home.

The hikayat is seen as fuelling the image of the Dutch as infidels and the phoh kaphé spirit that led the Dutch to call Acehnese fighters ‘Aceh pungó’; one reading attributes it to Tgk. Chik Kuta Karang, an attribution that departs from the usual one and needs checking.

A. Hasjmy analysed the hikayat from three angles: verbal art (beauty, language, artistry, expression, inspiration, firmness), educational art (training of intellect, morals, feeling and aesthetic sense) and Islamic preaching (aims, wisdom, and the relation of preaching to imagination). He called it a brilliantly successful epic poem.

Ali Hasjmy analysed the work along three lines — verbal art (beauty, language, artistry, expression, inspiration, decisiveness), the art of education (reason, morals, feeling, aesthetics) and Islamic preaching (purpose, wisdom, the interplay of preaching and imagination) — and called its author, Teungku Chik Pante Kulu, the world's greatest ‘War Poet’.

According to A. Hasjmy, Tgk. Chik Pante Kulu composed the hikayat on his voyage home from Mecca in 1881. James T. Siegel notes that guerrillas recited it before going into battle. Snouck Hurgronje also recorded that the composer of one version, Teungku Kutakarang, theorised that the Acehnese descended from Arabs, Persians and Turks, and one version of the hikayat already carried the theme of moral decline later taken up by PUSA.

The concepts of kaphe and prang sabi became the ideology of war against the Dutch; in this logic the enemy is whoever does not share the faith and disturbs Acehnese life.

Gagasan kunciKey ideas

Haji melahirkan sastra perangHajj gives birth to war poetry

Pengalaman di Mekkah dipadatkan menjadi epik berbahasa Aceh.Experiences in Mecca were distilled into an Acehnese-language epic.

Teks sebagai senjataText as weapon

Pembacaan dan penyalinan menjadi strategi mobilisasi.Recitation and copying served as strategies of mobilisation.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa sastra lisan begitu efektif sebagai alat mobilisasi dalam masyarakat yang sedang berperang?Why is oral literature so effective as a tool of mobilisation in a society at war?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Hikayat Prang Sabi”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hikayat-prang-sabi/