Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Ulama perbatasan: Subulussalam dan Aceh TamiangBorderland ulama: Subulussalam and Aceh Tamiang

PascadamaiPost-peace

Di daerah perbatasan provinsi, persoalan yang dihadapi ulama berbeda dari isu separatisme di pusat Aceh. Di Subulussalam, ulama gelisah dengan isu kristenisasi dan penguasaan lahan kosong oleh kelompok agama tertentu, dan sebagian warga merasa bukan bagian dari Aceh karena menanti provinsi baru. Di Aceh Tamiang, isu utamanya adalah sentimen etnis Aceh–Tamiang, ingatan penyelundupan di pesisir Selat Melaka, munculnya jejaring radikal, dan dayah yang merasa terabaikan.

In the provincial borderlands, ulama face issues different from the separatism debated at Aceh's centre. In Subulussalam, ulama are anxious about Christianisation and the acquisition of vacant land by particular religious groups, and some residents feel they are not part of Aceh as they await a new province. In Aceh Tamiang, the main issues are Acehnese–Tamiang ethnic sentiment, memories of smuggling on the Malacca Strait coast, emerging radical networks and dayah that feel neglected.

Subulussalam memperlihatkan bagaimana isu agama, tanah, dan pemekaran saling bertaut. Kegelisahan ulama tentang kristenisasi berkait dengan penguasaan lahan, dan isu ini dapat menjadi persoalan baru di masa depan. Harapan akan provinsi baru bahkan melahirkan pola pikir bahwa membangun daerah tidak perlu serius karena dalam beberapa tahun akan berpisah. Ketidakpastian identitas administratif ini memperlemah ikatan dengan pusat provinsi di Banda Aceh.

Aceh Tamiang, yang berbatasan dengan Sumatra Utara, memperlihatkan wajah lain. Warga masih fasih bercerita tentang penyelundupan di desa-desa dekat bibir pantai Selat Melaka. Sentimen etnis Aceh dan Tamiang lebih menonjol ketimbang isu separatisme, dan di kawasan ini mulai tampak jejaring radikal. Pimpinan dayah perbatasan mengeluhkan tidak lagi didukung pemerintah provinsi dan bertanya siapa yang dapat menyuarakan ‘duka’ mereka.

Kedua kasus memperlihatkan bahwa perbatasan bukan sekadar garis administratif, tetapi zona tempat identitas, ekonomi gelap, dan pengaruh luar bertemu. Bagi studi pertahanan dan keamanan, ulama perbatasan adalah aktor kunci yang sering terlupakan: mereka berada di garis depan berbagai pengaruh, tetapi berada di pinggir perhatian kebijakan.

Subulussalam shows how religion, land and partition intertwine. Ulama anxiety about Christianisation is tied to land acquisition, and the issue may become a new problem in future. Hopes for a new province even produced the view that there is no need to develop the area seriously, since it would separate within a few years. This administrative uncertainty weakens ties with the provincial centre in Banda Aceh.

Aceh Tamiang, bordering North Sumatra, shows another face. Residents still readily recount smuggling through villages near the Malacca Strait shoreline. Acehnese–Tamiang ethnic sentiment is more salient than separatism, and radical networks have begun to appear. Leaders of border dayah complain that the provincial government no longer supports them and ask who can voice their ‘grief’.

Both cases show that borders are not mere administrative lines but zones where identity, illicit economies and outside influences meet. For defence and security studies, borderland ulama are key yet often forgotten actors: on the front line of many influences, but at the margins of policy attention.

Gagasan kunciKey ideas

Perbatasan sebagai zona temuBorder as meeting zone

Identitas, ekonomi gelap, dan pengaruh luar berkelindan di perbatasan.Identity, illicit economies and outside influence intertwine at the border.

Pemekaran yang melemahkanPartition that weakens

Penantian provinsi baru menggerus komitmen membangun daerah.Waiting for a new province erodes commitment to local development.

Ulama di garis depanUlama on the front line

Ulama perbatasan menghadapi isu paling sensitif dengan dukungan paling minim.Border ulama face the most sensitive issues with the least support.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang dibutuhkan agar daerah perbatasan merasa menjadi bagian utuh dari Aceh, bukan sekadar pinggiran?What would it take for the borderlands to feel a full part of Aceh rather than its periphery?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Ulama perbatasan: Subulussalam dan Aceh Tamiang”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ulama-perbatasan-subulussalam-dan-tamiang/