Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Wali Nanggroe

Gelar sejak 1953 (Wali Negara) dan 1976; lembaga diamanatkan MoU 2005 dan Qanun 2008Title used from 1953 (Wali Negara) and 1976; institution mandated by the 2005 MoU and 2008 qanuns

Wali Nanggroe adalah gelar dan lembaga kepemimpinan adat yang dijanjikan dalam butir 1.1.7 MoU Helsinki. Akar historisnya bukan pada tradisi kesultanan, melainkan pada Piagam Bate Kureng 1953 era DI/TII dan klaim Hasan di Tiro pada 1976. Qanun 2008 menempatkannya sebagai pemersatu dan pembina lembaga adat. Ketidaksesuaian antara asal-usul politik gelar ini dan fungsi adat yang dibebankan kepadanya menimbulkan tumpang tindih kewenangan.

Wali Nanggroe is a title and customary leadership institution promised in point 1.1.7 of the Helsinki memorandum. Its historical roots lie not in the sultanate but in the 1953 Bate Kureng Charter of the Darul Islam era and in Hasan di Tiro's 1976 claim. The 2008 qanuns cast it as a unifier and patron of customary institutions. The mismatch between the title's political origins and the customary role assigned to it has produced overlapping authority.

Butir 1.1.7 MoU Helsinki menjanjikan Lembaga Wali Nanggroe beserta atribut seremonial dan haknya, menjadikannya lembaga tertinggi yang diajukan dalam kesepakatan. Namun penelusuran sejarah memperlihatkan bahwa gelar ini berakar pada Piagam Bate Kureng tahun 1953, ketika Tgk. Daud Beureueh menjadi Wali Negara dalam Negara Bahagian Aceh di lingkungan Negara Islam Indonesia. Pada 1976, Hasan di Tiro mengklaim gelar yang sama, dan pada 22 Mei 1977 di Gunung Halimon, Republik Islam Aceh memakai gelar Wali Nanggroe bagi Hasan di Tiro dan Waki Wali Nanggroe bagi Tgk. Muchtar Yahya Hasbi Geudong. Dalam tradisi kesultanan, urusan adat berada di bawah Sultan, bukan Wali Nanggroe.

Karena itu, terasa ganjil ketika gelar yang lahir dari kontestasi kekuasaan antara pemberontak dan negara sejak 1950-an hingga 2005 kemudian diarahkan menjadi lembaga adat. Qanun No. 8 Tahun 2008 menugasi Wali Nanggroe memelihara dan melestarikan kehidupan adat, sementara Qanun No. 10 Tahun 2008 mendefinisikannya sebagai lembaga kepemimpinan adat pemersatu masyarakat dan pembina seluruh lembaga adat melalui Majelis Adat Aceh. Ironisnya, saat qanun ditetapkan, lembaga ini belum terbentuk sehingga MAA menjalankan pembinaan sementara.

Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah Wali Nanggroe dimaksudkan sebagai pemegang adat dalam arti undang-undang pemerintahan, seperti Adat Meukuta Alam, atau sebagai penjaga adat dalam arti kebiasaan (‘urf) sebagaimana dikategorikan teori kolonial Snouck Hurgronje? Tanpa jawaban yang jelas, lembaga ini berisiko menjadi simbol tanpa otoritas yang tegas.

Qanun Aceh No. 5/2010 tentang Penanggulangan Bencana mewajibkan konsultasi dengan Wali Nanggroe dalam koordinasi lembaga adat selama penanggulangan bencana, ketentuan yang tidak memiliki padanan di provinsi lain.

Qanun Aceh No. 5 Tahun 2010 tentang penanggulangan bencana mewajibkan konsultasi dengan Wali Nanggroe dalam koordinasi lembaga adat, yang dijadikan pijakan hukum bagi usulan menjadikan mukim sebagai satuan koordinasi kesiapsiagaan.

Pada Oktober 2009, baliho dan ucapan selamat datang dari Ketua (sementara) DPRA, lengkap dengan stempel DPRA dan lambang Pemerintah Aceh, menyambut Hasan di Tiro sebagai Wali Nanggroe, sehingga memicu pertanyaan tentang dasar historis gelar itu. Kritik terhadap Qanun No. 8 Tahun 2012 menyoroti tiga hal: pemilihan Wali Nanggroe oleh sebuah komisi tanpa keterlibatan masyarakat adat, ketentuan bahwa persetujuan DPRA diperlukan bila Wali Nanggroe berurusan dengan hukum, dan struktur majelis yang menyerupai kabinet.

Pada abad ke-21, jabatan Wali Nanggroe dipegang oleh Malik Mahmud. Lembaga ini dapat dibaca sebagai satu-satunya capaian GAM dalam mengembalikan simbol Kesultanan, meskipun tanpa menempatkan keturunan sultan di dalamnya.

Bagi sebagian ulama, penetapan Malik Mahmud sebagai Wali Nanggroe ke-9 menyingkirkan ulama yang pada masa kerajaan berdiri di samping kekuasaan; ulama dan Wali Nanggroe disebut dua lembaga penyeimbang keistimewaan Aceh yang belum disegani.

Point 1.1.7 of the Helsinki memorandum promised an Institution of Wali Nanggroe with all its ceremonial attributes and entitlements, making it the highest institution proposed in the agreement. Historical tracing, however, shows that the title is rooted in the 1953 Bate Kureng Charter, under which Tgk. Daud Beureueh became Wali Negara of a constituent State of Aceh within the Islamic State of Indonesia. In 1976 Hasan di Tiro claimed the same title, and on 22 May 1977 at Gunung Halimon the Islamic Republic of Aceh conferred the title Wali Nanggroe on Hasan di Tiro and Waki Wali Nanggroe on Tgk. Muchtar Yahya Hasbi Geudong. In the sultanate tradition, matters of custom fell under the Sultan, not a Wali Nanggroe.

It is therefore striking that a title born of a power struggle between insurgents and the state, from the 1950s to 2005, was redirected into a customary institution. Qanun No. 8 of 2008 tasks the Wali Nanggroe with maintaining and preserving customary life, while Qanun No. 10 of 2008 defines it as the customary leadership institution that unites society and oversees all customary institutions through the Aceh Customary Council (MAA). Ironically, when the qanuns were enacted the institution did not yet exist, so the MAA exercised that oversight in the interim.

A fundamental question follows: is the Wali Nanggroe meant to hold adat in the sense of governmental law, like the Adat Meukuta Alam, or to guard adat in the sense of custom (‘urf), as categorised by Snouck Hurgronje's colonial theory? Without a clear answer, the institution risks becoming a symbol without well-defined authority.

Aceh Qanun 5/2010 on Disaster Management requires consultation with the Wali Nanggroe in coordinating customary institutions during disaster management, a provision with no parallel in other provinces.

Aceh Qanun No. 5/2010 on disaster management requires consultation with the Wali Nanggroe in coordinating customary institutions, cited as the legal footing for proposals to make the mukim a preparedness coordination unit.

In October 2009, billboards and greetings from the interim chair of the Aceh parliament (DPRA), bearing the DPRA stamp and the Aceh government emblem, welcomed Hasan di Tiro as Wali Nanggroe, prompting questions about the historical basis of the title. Critics of Qanun No. 8 of 2012 highlighted three points: selection of the Wali Nanggroe by a commission without the involvement of customary communities, the requirement of DPRA consent should the Wali Nanggroe face legal proceedings, and councils structured like a cabinet.

In the twenty-first century the office of Wali Nanggroe has been held by Malik Mahmud. The institution can be read as GAM's sole achievement in restoring a symbol of the sultanate, albeit without reinstating the sultan's descendants.

For some ulama, installing Malik Mahmud as ninth Wali Nanggroe sidelined the ulama who had stood beside power in the sultanate; ulama and the Wali Nanggroe are called Aceh's two balancing institutions, not yet commanding respect.

Gagasan kunciKey ideas

Asal-usul politik, fungsi adatPolitical origins, customary function

Gelar pemberontakan diubah menjadi lembaga pelestarian adat.An insurgent title was turned into an institution for preserving custom.

Tumpang tindih kewenanganOverlapping authority

MoU, qanun, serta warisan DI/TII dan RIA menghasilkan tafsir kewenangan yang saling bertabrakan.The MoU, the qanuns and the legacies of DI/TII and RIA produce conflicting readings of authority.

Adat sebagai hukum atau kebiasaanAdat as law or as custom

Posisi Wali Nanggroe bergantung pada makna adat yang dipilih.The Wali Nanggroe's position depends on which meaning of adat is adopted.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Dapatkah sebuah lembaga adat memperoleh legitimasi sejarah jika asal-usulnya terletak pada perjuangan politik modern?Can a customary institution gain historical legitimacy when its origins lie in modern political struggle?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Wali Nanggroe”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/wali-nanggroe/