Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Acehnologi — Mata Kebudayaan AcehAcehnologi — The eye of Acehnese culture

Naskah tidak bertanggal; memuat konteks hingga setidaknya 2012Undated manuscript; contains contexts extending to at least 2012

Panduan membaca bagian “Mata Kebudayaan Aceh” dalam naskah Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, dengan petikan sumber, konteks penafsiran, serta hubungan dengan entri tematik dan modul belajar.

Source-reading guide to The eye of Acehnese culture in the Acehnologi manuscript.

Skema kenal diri dan relasi kosmologis dalam pembahasan Mata Kebudayaan Aceh
Skema kenal diri dan relasi kosmologis dalam pembahasan Mata Kebudayaan AcehSelf knowledge and cosmological relations in the section on Acehnese culture Diagram dalam naskah Acehnologi

Bagian naskah: Mata Kebudayaan Aceh.

Entri ini adalah panduan sumber. Petikan terpilih di bawah mempertahankan suara penulis dan bukan ringkasan lengkap seluruh bab. Argumen, penilaian, dan generalisasi di dalam petikan merupakan pandangan penulis pada konteks penyusunan naskah; pembaca perlu membedakannya dari fakta yang telah diuji secara mandiri.

Petikan 1 — Dalam bab ini, ingin dikupas tentang kebudayaan Aceh di tepi laut. Dua istilah tersebut memang kerap terdengar yakni bagaimana reproduksi kebudayaan Aceh di bibir pantai. Karena itu, tidak sedikit pula kajian mengenai kedua hal tersebut, dimana sejak kedatangan Islam ke Aceh hingga keinginan untuk mengaktifkan kembali pelabuhan di Aceh.

Petikan 2 — The doctrine that human activity in general … express the entire personality of the individual or the group, and are intelligible only to the degree to which they do so … expressionism claims that all the works of men are above all voices speaking, are not objects detached from their makers, are part of a living process of communication between persons and not independently existing entities, beautiful or ugly, interesting or boring, upon which external observers may direct to cool and dispassionate gaze with which scientist … look on object in nature. This connected with the further notions that every form of human self-expression is some sense artistic, and that self-expression is part of the essence of human being as such; which in turn entail such distinctions as those between integral and divided, or committed and uncommitted (that is, unfulfilled), lives; and thence lead to concept of various hindrances, human and non-human, to the self realization which is the richest and most harmonious form of self-expression that all creatures, whether or not they are aware of it, live for.

Petikan 3 — Selanjutnya, untuk menggali kebudayaan Aceh, maka tidak dapat dipungkiri kajian sejarah kebudayaan merupakan hal yang mutlak dilakukan. Dari kajian model ini diharapkan akan terus membantu bagaimana kait kelindan kebudayaan Aceh yang telah disemai selama ratusan tahun, bisa dibangkitkan kembali dalam konteks era modern. Dalam hal ini, kontribusi Persia di Aceh dirasakan cukup signifikan.

Cara membaca: catat pertanyaan utama, bukti atau pengalaman yang dipakai, dan batas generalisasi. Bandingkan dengan entri tematik yang ditautkan. Istilah seperti “sekarang”, nama jabatan, keadaan lembaga, aturan hukum, dan angka tidak dimutakhirkan secara otomatis.

Rujukan: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. naskah Acehnologi yang diberikan penulis, naskah tidak bertanggal yang diberikan penulis pada 24 Oktober 2026. Nomor bab dan pembagian bagian belum konsisten; rujukan memakai judul bagian dalam tubuh naskah. Metadata berkas bukan tahun penerbitan. Sejumlah foto dan uraian menyebut 2012 serta masa pascadamai. Bagian “Mata Kebudayaan Aceh”.

Beberapa catatan rujukan yang menyertai bagian ini dalam naskah (ejaan dan kelengkapan bibliografi mengikuti sumber):

(Bustamam-Ahmad 2012b)

Mengenai kajian tentang Aku secara filosofis, baca (Noerhadi 1979)

(Bustamam-Ahmad 2010)

Tentang meta-teori, baca (Ritzer 1996, 621-650)

Baca misalnya (I. Abdullah 2003)

(S. M. Al-Attas 1970, 143)

A source-reading guide to “The eye of Acehnese culture” in Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad’s Acehnologi manuscript. The Indonesian extracts preserve the author’s voice; the linked thematic entry supplies a separate conceptual overview. Read the manuscript as a situated intellectual argument, distinguishing interpretation, field observation, and normative proposals. Dates and institutional descriptions belong to the period discussed, rather than automatically describing present-day Aceh.

Reference: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. author-supplied Acehnologi manuscript, undated manuscript supplied by its author on 24 October 2026. Chapter numbering and part divisions are inconsistent; references identify body headings. File metadata is not a publication date. Several captions and passages refer to 2012 and the post-peace period. Section “Mata Kebudayaan Aceh”.

Gagasan kunciKey ideas

Sumber dan tafsirSource and interpretation

Petikan dibedakan dari penjelasan editorial dan dibaca dalam konteks zamannya.Extracts are distinguished from editorial explanation and read in their historical context.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa bukti yang mendukung argumen pada bagian ini, dan apa yang masih perlu diuji?What supports this section’s argument, and what remains to be tested?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Acehnologi — Mata Kebudayaan Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/acehnologi-draft-mata-kebudayaan-aceh/