Raja adil dan iḥsān: etika kekuasaan Kesultanan AcehThe just king and iḥsān: the ethics of power in the Aceh Sultanate
Dalam tradisi politik Aceh, tujuan kekuasaan adalah menciptakan negeri yang berkeadilan, dan raja yang adil menjadi syarat utama berdirinya kerajaan. Raja dibayangkan sebagai ‘bayangan Allah’ di muka bumi yang wajib menjalankan dua hal: adil dan iḥsān. Konsep ini tertulis dalam Tāj al-Salāṭīn, yang membahas raja adil dalam tiga pasal, dan terpatri pada mata uang bergelar ‘Sultan al-‘Adil’. Gelar ‘raja adil’ pun menjadi sebutan lazim dalam tradisi pemerintahan Aceh.
In the Acehnese political tradition, the purpose of power is to create a just realm, and a just king is the first condition of a kingdom. The ruler is imagined as the ‘shadow of God’ on earth, bound to two duties: justice (‘adl) and benevolence (iḥsān). The idea is set out in the Tāj al-Salāṭīn, which devotes three chapters to just kings, and is stamped on coins bearing the title ‘Sultan al-‘Adil’. ‘The just king’ became a customary title in Acehnese government.
Menurut Ibrahim Alfian, lebih dari dua abad lamanya semua dirham Samudera Pasai memuat ungkapan al-Sultan al-‘Adil di sisi belakangnya, dan para sultan Aceh meneruskan kebiasaan itu, termasuk pendiri kerajaan, Sultan ‘Ali Mughayat Syah (1514–1530). Alfian menafsirkan konsep adil dalam numismatik yang bermula di Pasai pada akhir abad ke-13 sebagai aktualisasi firman Allah, dan meminjam istilah Arnold Toynbee ‘minoritas kreatif’ untuk menggambarkan elite Pasai yang jauh lebih awal memberi makna politik pada kitab suci mereka.
Taufik Abdullah merumuskan bahwa keadaan adil tercapai bila penguasa sendiri adil serta memiliki iman dan iḥsān, sementara menteri dan pegawai raja bertugas menjaga kesinambungannya. Tāj al-Salāṭīn menegaskan bahwa raja harus didampingi orang berilmu dan ulama yang menunjuki arah pemerintahan, dan tidak boleh ditemani orang yang menjerumuskannya. Raja adil dibahas dalam pasal keenam hingga kedelapan — termasuk pasal tentang raja-raja kafir yang adil — dan pasal keenam mengutip Surah al-Naḥl ayat 90 tentang perintah berlaku adil dan berbuat iḥsān.
Makna sultan sendiri adalah otoritas, kekuasaan, atau pengatur. Di Aceh, penguasa tidak dipanggil khalifah atau amīr al-mu’minīn, tetapi sifat transendental kekuasaannya menuntut agar perilakunya tidak menyalahi aturan Allah. Sebutan raja adil sendiri tidak khas Aceh; ia juga dijumpai di wilayah-wilayah lain yang menegakkan pemerintahan Islam, termasuk di kalangan Syi‘ah.
According to Ibrahim Alfian, for more than two centuries every dirham of Samudera Pasai bore the phrase al-Sultan al-‘Adil on its reverse, and the sultans of Aceh continued the practice, including the kingdom’s founder, Sultan ‘Ali Mughayat Syah (1514–1530). Alfian reads the concept of justice in the coinage, beginning in Pasai at the close of the thirteenth century, as an actualisation of the Qur’an, and borrows Arnold Toynbee’s term ‘creative minority’ for the Pasai elite who gave political meaning to their scripture so early.
Taufik Abdullah formulates that a just order is achieved when the ruler himself is just and possesses faith and iḥsān, while ministers and royal officials sustain it. The Tāj al-Salāṭīn insists that a king must be accompanied by learned men and ulama who guide the conduct of government, and must not keep company with those who would lead him astray. Just kings are treated in chapters six to eight — including a chapter on just non-Muslim kings — and chapter six cites Qur’an 16:90 on the command to act with justice and iḥsān.
The word sultan itself means authority, power or governor. In Aceh the ruler was not addressed as caliph or amīr al-mu’minīn, yet the transcendent character of his office required that his conduct not violate God’s law. The title of just king was not unique to Aceh; it is found wherever Islamic government was established, including among the Shi‘a.
Gagasan kunciKey ideas
Adil dan iḥsān sebagai fondasiJustice and iḥsān as foundation
Mandat kekuasaan menuntut keadilan sekaligus kebajikan.The mandate of power demands both justice and benevolence.
Raja ditemani ulamaThe king accompanied by scholars
Keadilan dijaga oleh penasihat berilmu dan aparat kerajaan.Justice is safeguarded by learned advisers and royal officials.
Keadilan di atas koinJustice on the coinage
Gelar Sultan al-‘Adil menjadikan etika politik bagian dari simbol negara.The title Sultan al-‘Adil made political ethics part of state symbolism.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana gagasan raja adil yang didampingi ulama dapat dibaca ulang dalam sistem politik demokratis Aceh masa kini?How might the idea of a just ruler advised by scholars be reread within Aceh’s democratic political system today?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Raja adil dan iḥsān: etika kekuasaan Kesultanan Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/raja-adil-dan-ihsan/