RDEDII: Re-search, Describe, Explain, Discourse, Interpretation, Implication
RDEDII adalah urutan proses teoretisasi ilmu dalam paradigma frikatifisasi ilmu: re-search, describe, explain, discourse, interpretation, dan implication. Setiap tahap memiliki dimensi ontologis (apa), epistemologis (bagaimana), dan aksiologis (kegunaan). Penelitian yang kokoh harus menjangkau tiga lapis objek, yakni manusia, alam, dan Tuhan, sebagaimana dilakukan para filosof terdahulu. Dikotomi ilmu lahir ketika ketiga lapis itu dikaji terpisah, sehingga paradigma ini menuntut RDEDII dihembuskan ‘dalam satu tarikan nafas’.
RDEDII is the sequence of theorisation in the fricativization paradigm: re-search, describe, explain, discourse, interpretation and implication. Each stage has an ontological (what), epistemological (how) and axiological (purpose) dimension. Sound research must reach three layers of object, namely humankind, nature and God, as earlier philosophers did. The dichotomy of knowledge arises when these layers are studied apart, so the paradigm demands that RDEDII be breathed out ‘in a single breath’.
RDEDII dirumuskan sebagai akar keilmuan yang mendasari seseorang melakukan teoretisasi. Tahap-tahapnya berpasangan dengan tingkat-tingkat berpikir: dari menelusuri ulang (re-search), menggambarkan, menjelaskan, menautkan dengan wacana, menafsirkan, hingga menimbang implikasi. Proses ini sangat bergantung pada paradigma meta-teoretis yang dianut peneliti, disadari atau tidak. Karena itu pemahaman tentang apa, bagaimana, dan untuk apa setiap tahap menjadi syarat mutlak untuk membangun suatu pemikiran.
Dimensi khas RDEDII terletak pada objek penelitiannya. Para filosof dahulu selalu memulai riset dari manusia, alam, dan Tuhan, dan kemunculan filsafat dalam Islam pun bertolak dari ketiganya. Dari kajian manusia ditelaah akal (reason) dan jiwa (self); dari kajian alam ditelaah gerak semesta dan dampaknya bagi alam dan makhluk; dari kajian ketuhanan ditelaah wujud ‘kerajaan Tuhan’. Peneliti yang tidak pernah menelusuri ketiga lapis ini dinilai belum memiliki basis epistemologis yang cukup kuat untuk masuk ke tahap frikatif.
Melalui RDEDII, setiap wilayah itu menurunkan paradigma dan teori, yang hingga kini kadang masih utuh, kadang tercerai-berai. Orang yang mengkaji manusia tidak tertarik pada ketuhanan; orang yang mengkaji alam tidak menghubungkannya dengan manusia sebagai khalifah. Dari situ lahir dikotomi keilmuan. Pengetahuan yang bertolak dari realitas kehidupan tanpa memperhatikan kosmologi dan gerak alam dinilai akan melahirkan pemikiran parsial.
RDEDII juga dipakai sebagai alat baca. Dengannya ditunjukkan bahwa paradigma integrasi-interkoneksi bermula dari tahap implikatif, dan bahwa akar tradisi interkoneksi ilmu mudah ditemukan dalam karya ulama Aceh.
RDEDII is formulated as the root that underlies a scholar's work of theorisation. Its stages pair with the levels of thinking: re-searching, describing, explaining, linking to discourse, interpreting and weighing implications. The process depends heavily on the meta-theoretical paradigm a researcher holds, consciously or not. Understanding the what, how and what-for of each stage is therefore an absolute condition for building a body of thought.
RDEDII's distinctive dimension lies in its objects. Earlier philosophers always began research from humankind, nature and God, and philosophy in Islam likewise grew from these three. The study of humankind examines reason and the self; the study of nature examines the motion of the universe and its effects on nature and creatures; the study of the divine examines the reality of the ‘kingdom of God’. A researcher who has never re-searched these three layers is judged to lack a strong enough epistemological base to enter the fricative stage.
Through RDEDII each domain generated paradigms and theories that today are sometimes intact and sometimes scattered. Those who study humans are uninterested in the divine; those who study nature fail to connect it with humanity's role as vicegerent. Hence the dichotomy of knowledge. Knowledge that starts from lived reality without regard to cosmology and the motion of nature is held to produce partial thinking.
RDEDII also serves as a reading tool. With it, the integration-interconnection paradigm is shown to begin at the implicative stage, and the roots of interconnected knowledge are shown to be easy to find in the works of Aceh's ulama.
Gagasan kunciKey ideas
Tiga dimensi setiap tahapThree dimensions per stage
Ontologi, epistemologi, dan aksiologi melekat pada setiap langkah teoretisasi.Ontology, epistemology and axiology attach to every step of theorisation.
Manusia, alam, TuhanHumankind, nature, God
Riset yang utuh harus menjangkau ketiga lapis objek.Complete research must reach all three layers of object.
Satu tarikan nafasA single breath
Menyatukan kembali wilayah-wilayah ilmu yang tercerai untuk mengatasi dikotomi.Reuniting scattered domains of knowledge to overcome dichotomy.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Dapatkah seorang ahli sosiologi Aceh memenuhi tuntutan riset ‘manusia, alam, dan Tuhan’ tanpa keluar dari disiplinnya?Can a sociologist of Aceh meet the demand to research ‘humankind, nature and God’ without leaving the discipline?
Kutip entri ini:Cite this entry: “RDEDII: Re-search, Describe, Explain, Discourse, Interpretation, Implication”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/rdedii/