Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Ketambe: menjaga hutan, menanggung banjirKetambe: guarding the forest, bearing the flood

Ketambe di Aceh Tenggara adalah gerbang Taman Nasional Gunung Leuser dan rumah stasiun penelitian orangutan yang didirikan pada 1971. Warganya, sebagian besar Alas dan Gayo, telah lama menjaga hutan, menjadi asisten lapangan bagi primatologi dunia, dan hidup dari pertanian serta ekowisata. Namun banjir akhir November 2025 menghapus sebuah dusun, masjid, penginapan, dan puluhan rumah, sementara jalan nasional Kutacane–Blangkejeren putus. Paradoks desa penjaga, hutan terjaga tetapi kampung tersapu, memperlihatkan bahwa ketangguhan harus dibangun pada skala daerah aliran sungai, bukan desa demi desa.

Ketambe in Southeast Aceh is the gateway to Gunung Leuser National Park and home to an orangutan research station founded in 1971. Its residents, mostly Alas and Gayo, have long guarded the forest, served as field assistants for world primatology and lived from farming and ecotourism. Yet the floods of late November 2025 erased a hamlet, a mosque, an inn and dozens of houses, while the Kutacane–Blangkejeren national road was cut. The paradox of the guardian village, forest intact but village swept away, shows that resilience must be built at the scale of the river basin, not village by village.

Ketambe adalah nama desa dan kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Warganya sebagian besar orang Alas dan Gayo, dengan sebagian warga Batak. Pertanyaan yang diajukan kawasan ini tidak nyaman: mengapa komunitas yang telah menjaga hutannya selama puluhan tahun harus menanggung bencana yang sumbernya berada di hulu? Kajian lapangan pada Oktober 2026, melalui wawancara dengan petani, pemandu, porter, pemilik penginapan, peramu obat, perangkat desa, dan penjaga hutan yang diperiksa silang dengan sumber publik, menolak dua narasi yang lazim, yakni ‘cuaca ekstrem’ dan ‘warga merusak lingkungan’, dan menunjuk tata kelola pada skala sungai dan daerah aliran sungai sebagai inti persoalan.

TNGL ditetapkan sebagai Cagar Biosfer pada 1981 dan pada 2004 menjadi Warisan Dunia UNESCO sebagai bagian dari Hutan Hujan Tropis Sumatra bersama Kerinci Seblat dan Bukit Barisan Selatan. Luasnya yang semula tercatat sekitar 1.094.692 hektare dikoreksi menjadi 838.872 hektare melalui keputusan menteri pada 2014, dengan 625.115 hektare di Aceh. Sungai Alas, yang disebut sungai terpanjang di Aceh, membelah taman nasional, melewati Ketambe, dan bermuara di Samudra Hindia. Warga menyebut harimau, badak, gajah, dan orangutan sebagai satwa kunci yang kesehatannya menjadi tanda kesehatan hutan dan manusia.

Stasiun Penelitian Ketambe didirikan pada 1971 oleh peneliti Belanda Herman D. Rijksen, mula-mula sebagai tempat rehabilitasi dan penelitian; orangutan rehabilitasi dipindahkan ke Bohorok pada 1979. Areal penelitiannya sekitar 450 hektare di antara Lawe Ketambe dan Lawe Alas, dikelola Balai Besar TNGL bersama Forum Konservasi Leuser, dan terhubung dengan Universitas Utrecht, tempat primatolog Sri Suci Utami Atmoko meraih doktor. Stasiun ini terbakar pada Juli 2011 di tengah konflik pengelolaan, dibuka kembali pada November 2015, terhenti oleh COVID-19, dan pada 2021 diperkirakan sekitar 50 orangutan hidup di sekitarnya. Warga telah bekerja sebagai asisten lapangan selama puluhan tahun, sehingga primatologi global dapat dikatakan memikul utang pengetahuan yang jarang diakui kepada warga Ketambe.

Banjir dan longsor sejak 25 November 2025, yang dikaitkan BMKG dengan anomali atmosfer Siklon Senyar di Selat Malaka, melanda 16 kecamatan di Aceh Tenggara. Di Ketambe, tiga santri sebuah pesantren di Seldok terseret arus: satu selamat, satu meninggal, dan satu dinyatakan hilang. Sekitar 50 meter jalan nasional Kutacane–Blangkejeren runtuh di Gampong Ketambe, memutus penghubung antara lembah Alas dan dataran tinggi Gayo, menunda bantuan, dan menghentikan ekonomi. Lebih dari 50 rumah dan dua penginapan hilang, termasuk penginapan yang dibangun pada 1986 dan melayani pelancong hampir empat dasawarsa; rumah imam dan masjid ikut lenyap, dan pada awal Januari 2026 satu dusun dinyatakan hilang dari peta. Kerugiannya tidak hanya material: masjid adalah pusat ritme sosial, penginapan menyimpan arsip tamu dan jaringan kepercayaan, dan hilangnya tapak rumah memutus ikatan fisik warga dengan tanahnya. Pada September 2026 tiga desa di Aceh Tenggara kembali dilanda banjir, tanpa korban jiwa.

Inilah paradoks desa penjaga. Warga menyatakan hutan di sekitar mereka utuh, tidak ada longsor di Ketambe, dan pemandu tidak melihat pembalakan liar di dekatnya; mereka menyebut banjir itu banjir kiriman dari Gayo Lues di hulu. Ketambe terletak di pertemuan Lawe Ketambe dan Lawe Alas yang membawa air dari dataran tinggi Gayo. Data lain memperumit gambaran: analisis spasial HAkA pada 2018 menemukan Aceh Tenggara memiliki kawasan TNGL yang paling rusak di Aceh, 19.554 dari 281.845 hektare, dan Walhi Aceh mengaitkan kayu yang terbawa banjir dengan pembukaan sawit, pembalakan liar, dan tambang emas ilegal di sepanjang sungai. Konsep eksternalitas spasial menjelaskan ketidakadilannya: biaya tindakan di hulu jatuh kepada warga hilir yang tidak menikmati manfaatnya. Warga desa penjaga mensubsidi bentang alam dengan jasa ekosistem tanpa kompensasi, lalu menanggung kerugian yang tidak mereka sebabkan.

Ekonomi Ketambe sebagian besar bertumpu pada pertanian, dan hanya sebagian kecil pada wisata. Ketambe adalah gerbang resmi TNGL dengan orangutan sebagai daya tarik utama; pengunjungnya kebanyakan orang Eropa dan Amerika, jauh melampaui wisatawan domestik, dan perjalanan dari Medan memakan tujuh hingga delapan jam. Kegiatan wisata meliputi trekking, arung jeram di Sungai Alas, dan pertunjukan Saman pada malam hari. Upah pemandu dan porter sekitar Rp200.000 per hari. Warga merumuskan etika ekowisata sebagai menjual objek tanpa merusak subjek: wisatawan datang untuk hutan yang utuh, sehingga hutan harus tetap utuh. Dua guncangan dalam lima tahun, COVID-19 lalu banjir 2025, membuat pemandu tidak lagi menerima tamu. Bronjong pengaman tebing yang rusak atau terguling bahkan dinilai warga dapat memperparah banjir, contoh maladaptasi ketika infrastruktur dianggarkan sebagai proyek tanpa biaya pemeliharaan.

Warga juga jenuh terhadap negara: pendataan berulang, kunjungan tanpa tindak lanjut, dan janji yang tidak ditepati. Ketika pemerintah pusat pada Juni 2026 menyatakan tidak ada lagi pengungsi di tenda, ukuran keberhasilan lokal justru berbeda: mata pencaharian pulih, tamu kembali, dan tanah aman. Pelajaran Ketambe dapat dirumuskan menjadi lima: ketangguhan harus dibangun pada skala DAS yang memadukan hulu dan hilir melalui forum pengelolaan yang berwenang, pemantauan publik tutupan hutan dan sedimentasi, serta pembayaran jasa lingkungan; peringatan dini lokal perlu dipadukan dengan peringatan BMKG; setiap bangunan pengaman harus memiliki anggaran pemeliharaan; pemulihan ekonomi harus mencakup jalan, penginapan, upah layak, dan diversifikasi; dan kepercayaan harus dibangun kembali melalui bantuan yang sampai, transparansi, dan pengakuan atas kerja konservasi warga. Sungai Alas terus mengalir dari dataran tinggi Gayo ke Samudra Hindia; Ketambe telah menjaga hutannya, dan kini giliran negara dan para pemangku kepentingan sepanjang DAS menjaga sungainya.

Ketambe is the name of a village and a subdistrict in Southeast Aceh Regency bordering Gunung Leuser National Park (TNGL). Its residents are mostly Alas and Gayo, with some Batak. The question this area poses is uncomfortable: why must a community that has guarded its forest for decades bear a disaster whose source lies upstream? Fieldwork in October 2026, through interviews with farmers, guides, porters, innkeepers, herbalists, village officials and forest guards cross-checked against public sources, rejects two common narratives, ‘extreme weather’ and ‘residents damage the environment’, and points to governance at the scale of the river and watershed as the core of the problem.

TNGL was designated a Biosphere Reserve in 1981 and in 2004 became a UNESCO World Heritage Site as part of the Tropical Rainforest Heritage of Sumatra, together with Kerinci Seblat and Bukit Barisan Selatan. Its area, once recorded at about 1,094,692 hectares, was corrected to 838,872 hectares by a ministerial decision in 2014, with 625,115 hectares in Aceh. The Alas River, described as Aceh’s longest river, cuts through the park, passes Ketambe and empties into the Indian Ocean. Residents call the tiger, rhinoceros, elephant and orangutan key species whose health is a sign of the health of forest and people.

The Ketambe Research Station was founded in 1971 by the Dutch researcher Herman D. Rijksen, initially as a site for rehabilitation and research; rehabilitated orangutans were moved to Bohorok in 1979. Its research area of about 450 hectares between the Lawe Ketambe and the Lawe Alas is managed by the TNGL Office together with the Forum Konservasi Leuser and is linked to Utrecht University, where the primatologist Sri Suci Utami Atmoko earned her doctorate. The station burned in July 2011 amid a management conflict, reopened in November 2015, was halted by COVID-19, and in 2021 about 50 orangutans were estimated to live around it. Residents have worked as field assistants for decades, so global primatology can be said to carry a rarely acknowledged knowledge debt to the people of Ketambe.

Floods and landslides from 25 November 2025, which BMKG linked to the atmospheric anomaly of Cyclone Senyar in the Strait of Malacca, struck 16 subdistricts in Southeast Aceh. In Ketambe, three students of a pesantren in Seldok were swept away: one survived, one died and one was declared missing. About 50 metres of the Kutacane–Blangkejeren national road collapsed at Gampong Ketambe, cutting the link between the Alas valley and the Gayo highlands, delaying aid and halting the economy. More than 50 houses and two inns were lost, including an inn built in 1986 that had served travellers for nearly four decades; the imam’s house and the mosque also vanished, and in early January 2026 one hamlet was declared gone from the map. The losses were not only material: the mosque was the centre of social rhythm, the inn held an archive of guests and networks of trust, and the loss of house sites severed residents’ physical bond with their land. In September 2026 three villages in Southeast Aceh were flooded again, without casualties.

This is the paradox of the guardian village. Residents say the forest around them is intact, there were no landslides in Ketambe and guides saw no illegal logging nearby; they call the flood a flood ‘sent’ from Gayo Lues upstream. Ketambe lies at the confluence of the Lawe Ketambe and the Lawe Alas, which carry water from the Gayo highlands. Other data complicate the picture: a 2018 spatial analysis by HAkA found that Southeast Aceh had the most damaged TNGL area in Aceh, 19,554 of 281,845 hectares, and Walhi Aceh linked the timber carried by the flood to oil palm clearing, illegal logging and illegal gold mining along the rivers. The concept of spatial externality explains the injustice: the costs of upstream actions fall on downstream residents who did not enjoy the benefits. Guardian villagers subsidise the landscape with ecosystem services without compensation, then bear losses they did not cause.

Ketambe’s economy rests mostly on farming, and only a small part on tourism. Ketambe is the official gateway to TNGL, with orangutans as the main attraction; its visitors are mostly European and American, far outnumbering domestic tourists, and the journey from Medan takes seven to eight hours. Tourist activities include trekking, rafting on the Alas River and evening Saman performances. Guides and porters earn about Rp200,000 a day. Residents formulate the ethic of ecotourism as selling the object without damaging the subject: tourists come for intact forest, so the forest must stay intact. Two shocks in five years, COVID-19 and then the 2025 flood, have left guides without guests. Damaged or overturned gabion bank protections are even judged by residents capable of worsening floods, an example of maladaptation when infrastructure is budgeted as a project without maintenance funds.

Residents are also weary of the state: repeated data collection, visits without follow-up and unkept promises. When the central government declared in June 2026 that no flood refugees remained in tents, the local measure of success was different: livelihoods restored, guests returning and land made safe. Ketambe’s lessons can be put as five: resilience must be built at the watershed scale, linking upstream and downstream through an empowered management forum, public monitoring of forest cover and sedimentation, and payments for environmental services; local early warning should be combined with BMKG warnings; every protective structure must have a maintenance budget; economic recovery must include roads, inns, fair wages and diversification; and trust must be rebuilt through aid that arrives, transparency and recognition of residents’ conservation work. The Alas River keeps flowing from the Gayo highlands to the Indian Ocean; Ketambe has guarded its forest, and now it is the turn of the state and stakeholders along the watershed to guard the river.

Gagasan kunciKey ideas

Paradoks desa penjagaThe guardian-village paradox

Hutan terjaga, tetapi kampung tersapu oleh air dan kayu dari hulu.The forest is intact, yet the village is swept away by water and timber from upstream.

Eksternalitas spasialSpatial externality

Biaya izin dan perusakan di hulu ditanggung warga hilir.The costs of upstream permits and damage are borne downstream.

Utang pengetahuanKnowledge debt

Primatologi dunia bertumpu pada kerja asisten lapangan warga Ketambe.World primatology rests on the work of Ketambe’s field assistants.

Maladaptasi bronjongGabion maladaptation

Bangunan pengaman tanpa pemeliharaan berubah menjadi ancaman.Protective structures without maintenance become threats.

Ketangguhan skala DASWatershed-scale resilience

Ketangguhan tidak dapat dibangun desa demi desa.Resilience cannot be built village by village.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana negara membalas jasa desa yang menjaga hutan ketika bencana justru datang dari wilayah yang tidak dijaganya?How should the state repay a village that guards the forest when disaster comes from areas it does not guard?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Ketambe: menjaga hutan, menanggung banjir”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ketambe/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →