Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Penguasa bayangan dan siklus pascapilkada di AcehShadow rulers and the post-election cycle in Aceh

2006–2024

Narasi antropologi politik tentang Pilkada Aceh 2024 memetakan pola berulang yang terjadi setelah setiap kemenangan: ‘panik pertama’ di kubu pemenang, terbentuknya ring kekuasaan dan penguasa bayangan, perebutan kursi kabinet ‘basah’ dan ‘kering’, perkelahian demi meu‘en proyek, tim sukses yang patah hati, serta klaim dukungan ‘orang kuat’ di Jakarta. Pola ini dinilai menjelaskan mengapa hampir dua dekade pembangunan pascadamai tidak banyak mengangkat kesejahteraan rakyat. Pilkada digambarkan sebagai ritual harapan dalam sistem ‘kekuasaan sebagai rampasan’, dengan pemilih sebagai pihak yang paling dirugikan.

A political-anthropological narrative of Aceh’s 2024 regional election maps a pattern repeated after every victory: ‘first panic’ in the winning camp, the formation of power rings and a shadow ruler, a scramble for ‘wet’ and ‘dry’ cabinet seats, fights over meu‘en proyek (playing with projects), heartbroken campaign teams, and claims of backing from ‘strongmen’ in Jakarta. The pattern is said to explain why nearly two decades of post-peace development have done little to raise popular welfare. The election is portrayed as a ritual of hope within a system of ‘power as spoils’, with voters the greatest losers.

Pemilihan Gubernur Aceh 2024 hanya diikuti dua pasangan: Muzakir Manaf dan Fadhlullah yang diusung Partai Aceh, dengan basis mantan kombatan dan sentimen nasionalis Aceh, serta Bustami Hamzah dan Fadhil Rahmi, pasangan teknokrat dan mantan senator yang disebut sebagai pilihan ulama Tu Sop dan memadukan profesionalisme dengan legitimasi keulamaan. Kontes dua kutub ini menaikkan taruhan karena hasilnya menentukan lingkar elite mana yang mengendalikan urusan politik dan ekonomi selama lima tahun. Narasi antropologi politik ini tidak memprediksi pemenang, melainkan menawarkan skenario tentang apa yang lazim terjadi setelah sebuah pasangan menang, berdasarkan pengamatan sejak 2009 dan percakapan di warung kopi Banda Aceh.

Kemenangan berlangsung dalam dua tahap: ‘menang yang dimenangkan’ berdasarkan hitung cepat, lalu ‘menang yang dianggap menang’. Setelah itu datang ‘panik pertama’: kubu pemenang segera menata ulang kuasa, dan berbagai kelompok, dari penyandang dana, relawan, ulama, mantan kombatan, hingga pengusaha, berlomba menarasikan jasanya. ‘Kita’ berubah menjadi ‘mereka’, pemenang diisolasi dari kerumunan, dan tim inti menyaring siapa yang boleh bertemu. Dalam beberapa minggu setelah pelantikan, gubernur dan wakilnya cenderung berjarak, dan terbentuk ‘ring satu’, ‘ring dua’, dan ‘ring tiga’. Orang yang paling dipercaya pemimpin menjadi penguasa bayangan, penjaga gerbang antara ‘orang luar’ dan ‘orang dalam’.

Arena paling panas berikutnya adalah kabinet. Dinas-dinas diperingkat secara informal sebagai ‘basah’, seperti pekerjaan umum, kesehatan, dan perhubungan yang dekat dengan dana pembangunan, atau ‘kering’ sebagai hadiah hiburan. Partai dan penyokong menitipkan ‘pesanan’, praktik ‘setor sana sini’ berlangsung, dan harga sebuah jabatan menjadi mahal. Di depan publik, calon pejabat menampilkan kesalehan dan kewibawaan, dan uji kelayakan digelar dengan melibatkan media, intelektual, dan ulama yang memberi restu keagamaan, sementara keputusan sesungguhnya diambil di balik pintu. Penguasa bayangan bertindak sebagai ‘bartender politik’ yang meracik janji agar semua pihak puas, dan logika pengembalian modal menuntut toke penyandang dana, sekutu politik, dan pendukung di balik layar memperoleh bagian.

Meu‘en proyek, ‘bermain proyek’, adalah praktik paling mengakar dalam ekonomi politik ini, dari pucuk pimpinan hingga bawahan. Proyek seperti jalan dan gedung sekolah direbut jaringan yang bersaing untuk keuntungan finansial, sehingga hasilnya tidak selesai, bermutu buruk, atau dibangun berulang kali, seperti gorong-gorong yang tak henti diperbaiki. Kontraktor menang tender karena loyalitas, bukan kompetensi, dan anggaran harus mengalir ke ‘saku baju’. Konflik berlangsung senyap dan saling sandera kepentingan menjadi hal biasa; agama tidak menjadi kriteria. Kepala dinas menghadapi tekanan terus-menerus dari ‘kita’ dan ‘mereka’, sementara aktor berpengalaman memakai pola ‘Orang Bapak’, perantara patron, untuk mengakses sumber daya dinas.

Tim sukses yang kecewa mengeluh di warung kopi, dan lawan di dalam hierarki kekuasaan mulai mengorganisasi oposisi untuk melemahkan pemimpin, termasuk dengan memecah tim sukses. Bila gubernur dan wakil berpisah jalan, penguasa bayangan hanya melayani gubernur, dan wakil menjadi simbol tanpa kuasa material. Bentrokan tim di lapangan, terlebih bila terkait loyalis partai, mengganggu pembangunan dan mengubah konflik kecil menjadi saling sandera kepentingan di dalam dan di luar parlemen. Pada saat yang sama sebagian aktor mengklaim akses ke istana, lingkar ketua partai, atau jaringan intelijen, ‘mencatut’ nama orang kuat untuk menenangkan sekutu atau menakut-nakuti lawan, bertindak sebagai makelar, dan menyebarkan desas-desus warung kopi sebagai ‘info A1’.

Rantai kuasa ini menghubungkan orang kuat di Jakarta dengan orang kuat di Aceh untuk tekanan, penempatan jabatan, proyek, dan intimidasi, dan sejak masa pascatsunami dan pasca-MoU pengaruh itu dinilai lebih memperdalam fragmentasi elite ketimbang memulihkan daerah. Kesimpulannya pesimistis: warga tidak semestinya berharap banyak pada pembangunan setelah Pilkada 2024, karena hampir dua puluh tahun pembangunan belum mengangkat kesejahteraan secara berarti. Rantai sebab-akibatnya bermula dari lahirnya ‘mereka’ dan ‘kita’, penguasa bayangan, perpecahan gubernur dan wakil, hingga manipulasi terstruktur yang mengalihkan anggaran dari kesejahteraan. Pembacaan ini berguna sebagai etnografi politik tentang bagaimana demokrasi elektoral di daerah pascakonflik dapat berubah menjadi siklus harapan dan kekecewaan.

The 2024 Aceh gubernatorial election had only two tickets: Muzakir Manaf and Fadhlullah, backed by Partai Aceh with a base of former combatants and Acehnese nationalist sentiment, and Bustami Hamzah and Fadhil Rahmi, a technocrat and former senator pairing described as the choice of the cleric Tu Sop, combining professionalism with clerical legitimacy. This two-pole contest raised the stakes, since the result would decide which elite circle controlled political and economic affairs for five years. The political-anthropological narrative does not predict the winner but offers scenarios of what usually happens after a ticket wins, based on observation since 2009 and conversations in Banda Aceh coffee shops.

Victory comes in two stages: ‘winning as counted’ by quick count, then ‘winning as acknowledged’. Then comes the ‘first panic’: the winning camp quickly reorganises power, and various groups, from financiers, volunteers, ulama and former combatants to businesspeople, compete to narrate their contributions. ‘We’ becomes ‘they’, the winner is isolated from the crowd, and the inner team screens who may meet him. Within weeks of the inauguration, governor and deputy tend to drift apart, and ‘ring one’, ‘ring two’ and ‘ring three’ take shape. The person the leader trusts most becomes the shadow ruler, the gatekeeper between ‘outsiders’ and ‘insiders’.

The next hottest arena is the cabinet. Agencies are informally ranked as ‘wet’, such as public works, health and transport, close to development funds, or ‘dry’, as consolation prizes. Parties and backers place ‘orders’, the practice of ‘paying here and there’ takes hold, and the price of a post becomes high. In public, candidate officials display piety and authority, and fit-and-proper tests are staged with media, intellectuals and ulama providing religious endorsement, while the real decisions are made behind closed doors. The shadow ruler acts as a ‘political bartender’ mixing promises so that everyone is satisfied, and the logic of recouping investment demands that financier toke, political allies and backstage supporters get their share.

Meu‘en proyek, ‘playing with projects’, is the most entrenched practice in this political economy, from top leadership down to subordinates. Projects such as roads and school buildings are captured by competing networks for financial gain, so that they are left unfinished, poorly built or rebuilt again and again, like drainage ditches endlessly repaired. Contractors win tenders through loyalty, not competence, and budgets must flow into ‘shirt pockets’. Conflict is silent and mutual hostage-taking of interests becomes normal; religion is not a criterion. Agency heads face constant pressure from ‘us’ and ‘them’, while experienced actors use the ‘Orang Bapak’ pattern, a patron-broker, to access agency resources.

Disappointed campaign teams complain in coffee shops, and rivals within the power hierarchy begin organising opposition to weaken the leader, including by splitting campaign teams. If governor and deputy part ways, the shadow ruler serves only the governor, and the deputy becomes a symbol without material power. Clashes between teams in the field, especially when linked to party loyalists, disrupt development and turn small conflicts into mutual hostage-taking inside and outside parliament. At the same time some actors claim access to the palace, a party chair’s circle or intelligence networks, ‘borrowing’ strongmen’s names to reassure allies or intimidate rivals, acting as brokers and passing off coffee-shop rumours as ‘A1 info’.

This chain of power links strongmen in Jakarta with strongmen in Aceh for pressure, appointments, projects and intimidation, and since the post-tsunami and post-MoU period that influence is judged to have deepened elite fragmentation rather than restored the region. The conclusion is pessimistic: citizens should not expect much development after the 2024 election, because nearly twenty years of development have not significantly raised welfare. The causal chain begins with the emergence of ‘them’ and ‘us’, the shadow ruler and the split between governor and deputy, and ends in structured manipulation that diverts budgets from welfare. The reading is useful as a political ethnography of how electoral democracy in a post-conflict region can turn into a cycle of hope and disappointment.

Gagasan kunciKey ideas

Panik pertamaFirst panic

Kemenangan memecah koalisi menjadi kita dan mereka yang berebut jasa.Victory splits the coalition into us and them competing for credit.

Penguasa bayanganThe shadow ruler

Orang kepercayaan pemimpin menjadi penjaga gerbang dan bartender politik.The leader’s confidant becomes gatekeeper and political bartender.

Meu‘en proyek

Proyek pembangunan diperlakukan sebagai mainan dan sumber rente.Development projects treated as toys and sources of rent.

Ilusi orang kuatThe illusion of strongmen

Klaim akses ke Jakarta dipakai menekan lawan, jarang menghasilkan pembangunan.Claimed access to Jakarta used to pressure rivals, rarely yielding development.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah siklus pascapilkada ini watak politik Aceh, atau hasil sistem yang dapat diubah melalui transparansi anggaran?Is this post-election cycle a trait of Acehnese politics, or the product of a system that budget transparency could change?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Penguasa bayangan dan siklus pascapilkada di Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/penguasa-bayangan-pascapilkada/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →