Acehnologi — Studi tentang Panglima Laot di AcehAcehnologi — Studying the Panglima Laot institution
Naskah tidak bertanggal; memuat konteks hingga setidaknya 2012Undated manuscript; contains contexts extending to at least 2012
Panduan membaca bagian “Studi tentang Panglima Laot di Aceh” dalam naskah Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, dengan petikan sumber, konteks penafsiran, serta hubungan dengan entri tematik dan modul belajar.
Source-reading guide to Studying the Panglima Laot institution in the Acehnologi manuscript.
Bagian naskah: Studi tentang Panglima Laot di Aceh.
Entri ini adalah panduan sumber. Petikan terpilih di bawah mempertahankan suara penulis dan bukan ringkasan lengkap seluruh bab. Argumen, penilaian, dan generalisasi di dalam petikan merupakan pandangan penulis pada konteks penyusunan naskah; pembaca perlu membedakannya dari fakta yang telah diuji secara mandiri.
Petikan 1 — Bab ini adalah mengenai sejarah Panglima La’ôt di Aceh. Studia ini ingin menjelaskan bagaimana keadaan Panglima La’ôt dan perannya di dalam sejarah serta bagaimana keberadaannya saat sekarang, terutama ketika tidak ada lagi lembaga Sultan sebagai simbol tertinggi rakyat Aceh. Banyak yang beranggapan bahwa Panglima La’ôt sudah ada di Aceh sejak empat ratus tahun yang lalu.
Petikan 2 — Banyak diantara nelayan yang saya jumpai mengatakan bahwa Panglima La’ôt adalah sebagai ‘pengawal’ masyarakat nelayan. Namun untuk melihat hal ini, saya ingin mengetesnya dari sisi lain, yaitu Khanduri La’ôt. Di desa Ujong Bak Teungeh, Aceh Pidie, mereka tidak lagi menyelenggarakan khanduri, karena dipandang berlawanan dengan ajaran Islâm.
Petikan 3 — Aspek yang terakhir adalah adanya keperluan untuk melanjutkan kesinambungan peran Panglima La’ôt Aceh yang sudah digagas sejak tahun 2000 di Banda Aceh. Karena ini lembaga ini dibangun atas kasus boat Thailand, sekarang menjadi lembaga adat yang cukup berpengaruh, maka tugas selanjutnya adalah bagaimana melanjutkan agar kerja sama yang sudah terbangun ini terjaga demi kepentingan nelayan seluruh Aceh. Saya menduga bahwa reformulasi Panglima La’ôt ini akan berhasil jika mereka bisa membangun sebuah sistem kaderisasi yang cukup baik.
Cara membaca: catat pertanyaan utama, bukti atau pengalaman yang dipakai, dan batas generalisasi. Bandingkan dengan entri tematik yang ditautkan. Istilah seperti “sekarang”, nama jabatan, keadaan lembaga, aturan hukum, dan angka tidak dimutakhirkan secara otomatis.
Rujukan: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. naskah Acehnologi yang diberikan penulis, naskah tidak bertanggal yang diberikan penulis pada 24 Oktober 2026. Nomor bab dan pembagian bagian belum konsisten; rujukan memakai judul bagian dalam tubuh naskah. Metadata berkas bukan tahun penerbitan. Sejumlah foto dan uraian menyebut 2012 serta masa pascadamai. Bagian “Studi tentang Panglima Laot di Aceh”.
Beberapa catatan rujukan yang menyertai bagian ini dalam naskah (ejaan dan kelengkapan bibliografi mengikuti sumber):
Kurien , Voice of Panglima Laot: Analysis of an Opinion Survey and Its Implications for Co-Management Interventio ns. iii.
Miftachuddin Cut Adek, "Apakah Laut Tak Lagi Asin, " Serambi Indones ia, 4 June 2009.
Ahmad Humam Hamid, "Kemiskinan Kronis Di Aceh, " Serambi Indones ia, 16 Mei 2009.
The World Bank, "GAM Reintegration Needs Assessment: Enhancing Peace through Community-Level Development Programming," (Banda Aceh: The World Bank, 2006). 13.
Sanusi, "Kearifan Lokal Dan Peranan Panglima Laot Dalam Proses Pemukiman Dan Penataan Kembali Kawasan Pesisir Aceh Pasca-Tsunami." Lubis, "Panglima Laot Dan Pawang: Perannja Dalam Masyarakat Nelayan Aceh (Studi Kasus Banda Aceh Dan Aceh Timur)." Abdullah, Tripa, dan Muttaqin , Selama Kearifan Adalah Kekayaan: Eksistensi Panglima Laot Dan Hukom Adat Laot Di Ac eh. Semuel Agustinus Patty, "Modernisasi Dan Dua Masyarakat Nelayan Di Aceh," (Banda Aceh: Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, 1975). Anwar M. Daud, "Transformasi Nelayan Tradisional: Studi Kasus Di Kecamatan Susoh Dan Sawang Kabupaten Aceh Selatan," (Banda Aceh: Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya, Universitas Syiah Kuala, 1995), Fadholi Said, "Nelayan Di Pusong Lama: Studi Sosial Ekonomi," (Banda Aceh: Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial 1981). Bathlimus, M. Adli Abdullah, dan Saifuddin Bantasyam, "Pola Penguasaan Wilayah Laut Masyarakat Nelayan Di Kecamatan Krueng Raya, Aceh Besar: Studi Tentang Kepemilikan Wilayah Laut, Unit Sosial Pemegang Hak, Legalitas Beserta Pelaksanaannya," (Banda Aceh: Fakultas Hukum, Universitas Syiah Kuala, 2003).
J.F. Holleman, ed. , Van Vollenhoven on Indonesian Adat L aw (The Hague: Martinus Nijhof, 1981). 67.
A source-reading guide to “Studying the Panglima Laot institution” in Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad’s Acehnologi manuscript. The Indonesian extracts preserve the author’s voice; the linked thematic entry supplies a separate conceptual overview. Read the manuscript as a situated intellectual argument, distinguishing interpretation, field observation, and normative proposals. Dates and institutional descriptions belong to the period discussed, rather than automatically describing present-day Aceh.
Reference: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. author-supplied Acehnologi manuscript, undated manuscript supplied by its author on 24 October 2026. Chapter numbering and part divisions are inconsistent; references identify body headings. File metadata is not a publication date. Several captions and passages refer to 2012 and the post-peace period. Section “Studi tentang Panglima Laot di Aceh”.
Gagasan kunciKey ideas
Sumber dan tafsirSource and interpretation
Petikan dibedakan dari penjelasan editorial dan dibaca dalam konteks zamannya.Extracts are distinguished from editorial explanation and read in their historical context.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apa bukti yang mendukung argumen pada bagian ini, dan apa yang masih perlu diuji?What supports this section’s argument, and what remains to be tested?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Acehnologi — Studi tentang Panglima Laot di Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/acehnologi-draft-studi-tentang-panglima-laot-di-aceh/