Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Dari orientasi kerja ke orientasi karya: khittah intelektual AcehFrom career to creative work: the intellectual mission of Aceh

Konsep ini mengkritik rekayasa pendidikan di Aceh yang mengarahkan generasi muda pada bidang ‘angka’ dan ‘bahasa’ demi pekerjaan cepat, sementara jurusan pemikiran sepi peminat. Akibatnya, Islamologi lebih mengisi lapangan kerja daripada lapangan pemikiran, dan reproduksi orang bijak merosot. Dengan meminjam konsep ‘masyarakat pasca-peradaban’ Malek Bennabi, gejala ini dibaca sebagai demoralisasi jiwa akibat materialisme. Jalan keluarnya adalah kembali pada khittah intelektual: belajar untuk berkarya, bukan sekadar untuk bekerja.

This concept criticises the engineering of education in Aceh that steers the young towards ‘numbers’ and ‘languages’ for quick employment, while disciplines of thought attract few students. As a result, Islamology fills the job market rather than the field of thought, and the reproduction of sages declines. Borrowing Malek Bennabi’s notion of a ‘post-civilisational society’, the trend is read as a demoralisation of the soul brought on by materialism. The remedy is a return to an intellectual mission: learning in order to create, not merely to be employed.

Minat belajar Islam di Aceh tinggi sejak taman kanak-kanak, dengan model Islam Terpadu, SD IT, sekolah berasrama, hingga SMA akselerasi, dan banyak pelajarnya berprestasi di tingkat nasional dan internasional. Namun di perguruan tinggi mereka memilih ekonomi, kedokteran, bahasa Inggris, atau keguruan; di UIN Ar-Raniry, jurusan aqidah dan filsafat, perbandingan agama, dan perbandingan mazhab kalah peminat. Hasilnya adalah ‘tenaga siap kerja’, bukan ‘tenaga siap berpikir’. Sebagai pembanding, di Jawa lembaga-lembaga Kristen seperti sekolah tinggi filsafat di Jakarta dan Salatiga serta penerbit Kanisius, juga program CRCS UGM dan ICRS, menjadikan studi religi pilihan favorit.

Islamologi di Aceh lebih ditujukan membentuk masyarakat beramal saleh, sehingga hampir tidak ada ruang bagi pemikiran di luar kelaziman. Pada level sekolah menengah ia memang menghasilkan ‘masyarakat ilmu’, tetapi semangat itu meredup di perguruan tinggi. Secara tersurat masyarakat diarahkan menjadi ‘masyarakat religius’, tetapi secara tersirat ia cenderung menjadi ‘masyarakat sakit’, dan manusia terdidik menjadi ‘manusia organik’ dalam sistem kapitalisme.

Empat langkah ditawarkan: menanamkan kecintaan pada Dunia Aceh yang berisi adat, budaya, dan religi warisan endatu; menanamkan semangat ilmu yang tidak materialistis, misalnya agar orang Aceh kembali percaya pada dokter dan ekonom lokal; membentuk individu berdaya saing global yang mampu ‘sulu’ (tegak), bukan jago kandang; dan menjadikan studi Aceh inti pendidikan, bukan sekadar muatan lokal bahasa. Tujuannya adalah menjadikan studi religi sebagai jalan menjadi Aceh.

Enthusiasm for Islamic learning in Aceh begins early, with ‘integrated Islamic’ kindergartens and primary schools, boarding schools and accelerated high schools, and many of their pupils win national and international competitions. At university, however, they choose economics, medicine, English or teacher training; at UIN Ar-Raniry, programmes in creed and philosophy, comparative religion and comparative jurisprudence attract few. The outcome is a workforce ‘ready to work’ rather than ‘ready to think’. By comparison, in Java Christian institutions such as the philosophy colleges in Jakarta and Salatiga and the publisher Kanisius, as well as the CRCS programme at UGM and the ICRS consortium, have made religious studies a favoured choice.

Islamology in Aceh aims chiefly at forming a community of pious practice, leaving little room for unconventional thought. It does produce a ‘knowledge society’ up to secondary level, but that spirit fades at university. Explicitly, society is steered towards being a ‘religious society’; implicitly, it drifts towards being a ‘sick society’, and educated people become ‘organic humans’ within a capitalist system.

Four steps are proposed: instilling love for the Acehnese world of adat, culture and religion inherited from the ancestors; nurturing a non-materialist spirit of learning, so that, for instance, Acehnese regain trust in local doctors and economists; forming globally competitive individuals able to stand upright (sulu) rather than champions only at home; and making Aceh studies the core of education rather than a local-content language subject. The aim is for religious study to become a path to becoming Acehnese.

Gagasan kunciKey ideas

Rekayasa ‘angka’ dan ‘bahasa’Engineering by ‘numbers’ and ‘languages’

Pilihan studi didikte oleh peluang kerja cepat.Study choices are dictated by quick job prospects.

Masyarakat pasca-peradabanPost-civilisational society

Bennabi menggambarkan tunduknya masyarakat pada ‘benda-benda’ dan demoralisasi jiwa.Bennabi describes society’s subjection to ‘things’ and the demoralisation of the soul.

Khittah intelektualThe intellectual mission

Belajar untuk terus menggali ilmu, karena kekuasaan pada akhirnya memerlukan ilmu.Learning to keep seeking knowledge, since power ultimately depends on knowledge.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana lembaga pendidikan dapat menghormati kebutuhan ekonomi keluarga sambil tetap melahirkan pemikir dan peneliti?How can educational institutions respect families’ economic needs while still producing thinkers and researchers?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Dari orientasi kerja ke orientasi karya: khittah intelektual Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/orientasi-kerja-dan-orientasi-karya/