Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Sufisme Aceh dan pembentukan Islam KejawenAcehnese Sufism and the making of Javanese Islam

Abad ke-16–17 dan sesudahnya16th–17th centuries and after

Menurut Simuh, pengaruh dalam Islam Kejawen tidak hanya berasal dari Hindu, tetapi juga dari Aceh. Jalurnya dua: kepustakaan Melayu karya Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry, dan Abdurrauf as-Singkili, serta penyebaran tarekat Syattariyah oleh murid-murid Abdurrauf. Ajaran martabat tujuh dari alam pikiran sufi Aceh kemudian menghiasi serat-serat suluk Jawa di Cirebon dan Surakarta. Temuan ini menempatkan Aceh sebagai salah satu sumber pembentuk Islam Jawa.

According to Simuh, the influences on Javanese Islam came not only from Hinduism but also from Aceh. There were two channels: the Malay writings of Hamzah Fansuri, Shamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri and Abdurrauf al-Singkili, and the spread of the Shattariyya order by Abdurrauf's disciples. The seven-grades doctrine of Acehnese Sufi thought later adorned Javanese suluk poems in Cirebon and Surakarta. This places Aceh among the sources that shaped Javanese Islam.

Simuh, pengkaji tasawuf dan mantan rektor di Yogyakarta, menelusuri dua jalur pengaruh Aceh terhadap kejawen. Jalur pertama adalah kepustakaan Melayu karya empat ulama yang membentuk alam pikiran sufi Aceh pada abad ke-16 dan ke-17. Karya-karya mereka sangat dipengaruhi paham wahdat al-wujūd Ibn ‘Arabi, yang di Aceh dikenal sebagai wujūdiyyah atau martabat tujuh. Jalur kedua adalah tarekat Syattariyah yang disebarkan murid-murid Abdurrauf as-Singkili. Salah satunya, Abdul Muhyi, wali yang dikeramatkan di Priangan, menjadi titik tolak penyebaran tarekat ini hingga berkembang subur di Cirebon.

Di Cirebon kemudian muncul berbagai gubahan serat suluk berbahasa Jawa dalam tembang macapat yang isinya didominasi ajaran martabat tujuh. Muncul pula gubahan Jawa atas kitab Tuḥfah karya Muhammad ibn Fadlullah al-Gujarati, yang menjadi sumber ajaran martabat tujuh; gubahan ini diperkirakan ditulis di Tegal. Konsep-konsep martabat tujuh dalam serat suluk Cirebon ini lalu diserap oleh tradisi suluk di Kartasura dan Surakarta. Adapun etika dan filsafat moral kejawen disebut lebih banyak menyerap ajaran al-Ghazali melalui budaya pesantren Jawa.

Temuan ini membalik asumsi umum bahwa arus budaya hanya mengalir dari Jawa ke luar. Dalam bidang keagamaan, Aceh justru menjadi pemberi, dan Islam yang dianut Jawa dipandang banyak dibawa dari Aceh. Persoalan kejawen yang kerap dianggap khas Jawa ternyata menyimpan jejak wacana sufi yang pernah memicu kontroversi di Aceh pada masa Hamzah Fansuri. Dengan demikian, studi tentang Islam Jawa tidak lengkap tanpa membaca naskah dan jaringan tarekat Aceh, dan sebaliknya sejarah sufisme Aceh dapat dilacak gema panjangnya dalam sastra Jawa.

Simuh, a writer on Sufism and former rector in Yogyakarta, traced two channels of Acehnese influence on kejawen. The first is the Malay literature of four scholars who shaped Acehnese Sufi thought in the sixteenth and seventeenth centuries. Their works were strongly influenced by Ibn 'Arabi's wahdat al-wujūd, known in Aceh as wujūdiyya or the seven grades of being. The second is the Shattariyya order spread by Abdurrauf al-Singkili's disciples. One of them, Abdul Muhyi, a revered saint of the Priangan, became the starting point from which the order flourished in Cirebon.

In Cirebon numerous Javanese suluk poems in macapat metres appeared, dominated by the seven-grades doctrine. A Javanese rendering of the Tuḥfa of Muhammad ibn Fadlullah al-Gujarati, the source of the seven-grades teaching, also emerged and is thought to have been written in Tegal. The seven-grades concepts in the Cirebon suluk were later absorbed into the suluk tradition of Kartasura and Surakarta. The ethics and moral philosophy of kejawen, by contrast, are said to draw mainly on al-Ghazali through Javanese pesantren culture.

These findings overturn the common assumption that culture flowed only outward from Java. In religion Aceh was the giver, and much of the Islam held in Java is seen as having come from Aceh. Kejawen, often regarded as uniquely Javanese, turns out to carry traces of a Sufi discourse that once stirred controversy in Aceh in Hamzah Fansuri's time. The study of Javanese Islam is therefore incomplete without reading Acehnese texts and tarekat networks, and conversely the long echo of Acehnese Sufism can be traced in Javanese literature.

Gagasan kunciKey ideas

Dua jalur pengaruhTwo channels of influence

Kepustakaan Melayu dan tarekat Syattariyah.Malay literature and the Shattariyya order.

Martabat tujuh dalam tembangSeven grades in verse

Ajaran sufi Aceh dilantunkan dalam serat suluk bermacapat.Acehnese Sufi doctrine sung in macapat suluk poems.

Aceh sebagai pemberiAceh as giver

Dalam agama, arus pengaruh mengalir dari Aceh ke Jawa.In religion, influence flowed from Aceh to Java.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa ajaran yang menjadi tabu di Aceh justru dapat berkembang dalam tembang suluk di Jawa?Why could a doctrine that became taboo in Aceh flourish in Javanese suluk verse?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Sufisme Aceh dan pembentukan Islam Kejawen”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/sufisme-aceh-dan-islam-kejawen/