Surat Sultan Alauddin Manshur Syah kepada Sultan Abdulmajid dari Turki Usmani (1850)Sultan Alauddin Manshur Syah's letter to the Ottoman Sultan Abdulmecid (1850)
1850
Pada 13 Jumadilawal 1266 H, yang disetarakan dengan 27 Maret 1850, Sultan Alauddin Manshur Syah dari Aceh menulis kepada Sultan Abdulmajid Khan di Istanbul. Surat bercap dan bertanda tangan itu menyatakan rakyat Aceh dan Sumatra sebagai rakyat Usmani, melaporkan perluasan kekuasaan Belanda di Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan pelabuhan Sumatra, menyebut surat-surat sebelumnya yang tidak berbalas, dan memohon titah khalifah untuk menyatukan para pemimpin Muslim berjihad melawan Belanda. Naskahnya ditranskripsi Annabel Gallop dan rekan dan diangkat kembali oleh MAPESA.
On 13 Jumada al-Ula 1266 AH, given as 27 March 1850, Sultan Alauddin Manshur Syah of Aceh wrote to Sultan Abdulmecid Khan in Istanbul. The sealed and signed letter declared the people of Aceh and Sumatra to be Ottoman subjects, reported Dutch expansion in Java, Borneo, Sulawesi and the Sumatran ports, mentioned earlier unanswered letters, and asked for the caliph's decree to unite Muslim rulers in jihad against the Dutch. It was transcribed by Annabel Gallop and colleagues and brought back to attention by MAPESA.
Hubungan Aceh dengan Turki Usmani adalah salah satu benang merah sejarah diplomasi Aceh. Sejak abad keenam belas, ketika Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar mengirim utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis dan memperoleh meriam serta para ahli, Aceh memandang Usmani sebagai pelindung dunia Islam dan sekutu potensial. Ingatan tentang hubungan itu bertahan dalam simbol, cerita dan dokumen selama berabad-abad. Surat Sultan Alauddin Manshur Syah kepada Sultan Abdulmajid Khan pada 1850 adalah salah satu dokumen terpenting yang memperlihatkan bagaimana ingatan itu dihidupkan kembali menghadapi ancaman kolonial Belanda di abad kesembilan belas.
Surat itu ditulis pada 13 Jumadilawal 1266 Hijriah, yang dalam tulisan MAPESA disetarakan dengan 27 Maret 1850. Pengirimnya memperkenalkan diri sebagai Paduka Seri Sultan Alauddin Manshur Syah Johan Berdaulat Zilullah fil Alam, gelar yang menegaskan kedudukan sultan sebagai bayang-bayang Allah di bumi. Surat dilengkapi cap dan tanda tangan bergaya tughra, sebuah pilihan yang memperlihatkan kesadaran akan tata krama diplomatik Usmani. Penerimanya adalah Sultan Abdulmajid Khan, khalifah Usmani di Istanbul yang memerintah pada masa reformasi Tanzimat. Teksnya ditulis dalam aksara Arab, memadukan prosa Melayu dengan bagian-bagian berbahasa Arab, dan transkripsinya diterbitkan oleh Annabel Gallop dan rekan-rekannya dalam kajian tentang Islam, perdagangan dan politik di kawasan Samudra Hindia.
Isi surat menggambarkan keadaan dunia Melayu dari sudut pandang Aceh. Sultan menyatakan bahwa rakyat Aceh dan Sumatra adalah rakyat Usmani, sebuah klaim politik yang menempatkan Aceh di bawah payung kekhalifahan. Ia kemudian melaporkan perluasan kekuasaan Belanda di Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan pelabuhan-pelabuhan Sumatra, termasuk pembuangan para sultan, kerja paksa, pembatasan ibadah haji dan penindasan terhadap para ulama. Gambaran ini mencerminkan pengetahuan yang beredar di Aceh tentang nasib kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, yang sampai melalui jaringan dagang, haji dan ulama.
Surat juga memuat sejarah diplomasi yang tidak berbalas. Sultan menyebut bahwa surat-surat sebelumnya pada tahun 1253 dan 1261 Hijriah serta sebuah utusan yang dikirim pada 1265 Hijriah tidak mendapat jawaban, dan bahwa surat ini dikirim dengan kapal uap ke Mekah. Ia memohon titah dari khalifah untuk menyatukan para pemimpin Muslim berjihad melawan Belanda, dan meminta agar jawaban disampaikan kepada kerabatnya, Muhammad Ghauts, yang memimpin utusan Aceh pada 1265 Hijriah menuju Istanbul melalui Tanah Suci dan nasibnya belum diketahui ketika surat ditulis, serta melalui Gubernur Mekah kepada Syaikh Ismail bin Abdullah al-Khalidi. MAPESA mencatat Muhammad Ghauts Saiful Alam Syah sebagai duta luar biasa dan berkuasa penuh Sultan Manshur Syah, dan pada Agustus 2017 menggelar ekspedisi swadaya ke pesisir barat-selatan Aceh untuk menelusuri bandar-bandar yang tergambar pada peta yang dikaitkan dengannya. Nama Syaikh Ismail al-Khalidi menarik karena menghubungkan diplomasi Aceh dengan jaringan tarekat Khalidiyah di Haramain, salah satu jaringan ulama yang berpengaruh di dunia Melayu pada abad kesembilan belas.
Judul tulisan MAPESA menyebut surat ini sebagai permintaan izin penyerangan ke Batavia, yang menekankan sifat ofensif permohonan sultan. Terlepas dari tafsir itu, isi surat memperlihatkan bahwa Aceh pada pertengahan abad kesembilan belas tidak memandang dirinya sebagai kerajaan terpencil, melainkan bagian dari umat Islam global yang menghadapi ekspansi kolonial bersama. Aceh berusaha membangun aliansi transnasional dengan bahasa keagamaan dan politik yang dipahami di Istanbul, Mekah dan dunia Melayu.
Surat ini juga perlu dibaca dalam konteks regional. Traktat London 1824 antara Inggris dan Belanda mengakui kemerdekaan Aceh, tetapi pada pertengahan abad itu Belanda terus memperluas pengaruhnya di pantai barat dan timur Sumatra. Bagi Aceh, ancaman itu bukan sekadar teoretis. Upaya mencari dukungan Usmani menjadi strategi untuk memperoleh pengakuan internasional dan perlindungan. Strategi serupa diulang menjelang dan selama Perang Aceh, ketika para utusan Aceh kembali mendekati Istanbul, dan Belanda mencurigai kemungkinan campur tangan kekuatan lain.
Struktur surat juga menarik untuk dicermati. Bagian pembuka memuat puji-pujian kepada Allah dan Rasul serta pujian kepada khalifah, disusul pengenalan diri pengirim, uraian keadaan, permohonan dan petunjuk tentang jalur jawaban. Susunan ini mengikuti konvensi surat diplomatik Islam yang dikenal luas, sehingga memperlihatkan bahwa juru tulis istana Aceh menguasai tradisi kanselari yang berlaku di dunia Islam pada masa itu.
Dari sisi naskah, surat ini adalah contoh tradisi surat-menyurat diplomatik kesultanan Melayu yang kaya, dengan kepala surat berisi puji-pujian, gelar-gelar panjang, cap kerajaan dan bahasa yang memadukan Melayu dan Arab. Tradisi ini telah banyak dikaji Annabel Gallop, terutama dalam kajian tentang cap dan surat raja-raja Melayu. Penggunaan tanda tangan bergaya tughra memperlihatkan adaptasi Aceh terhadap gaya kanselari Usmani, sebuah tanda keakraban budaya diplomatik antara kedua dunia.
Dari pihak Usmani, pertengahan abad kesembilan belas adalah masa yang sulit untuk menanggapi permohonan dari negeri yang jauh. Kekhalifahan sedang menjalankan reformasi Tanzimat di dalam negeri, menghadapi tekanan Rusia dan kekuatan Eropa, dan beberapa tahun kemudian terlibat dalam Perang Krimea. Keterbatasan ini membantu menjelaskan mengapa surat-surat Aceh sebelumnya tidak berbalas dan mengapa harapan Aceh akan bantuan militer Usmani sulit terwujud, meskipun ikatan simbolik dan keagamaan antara keduanya tetap kuat.
Surat ini juga dapat dibaca berdampingan dengan karya lain dari masa pemerintahan sultan yang sama, termasuk sebuah peta Asia Tenggara bertarikh 1850 yang dikaji MAPESA dalam sebuah video dan dihubungkan dengan sultan Aceh. Bila keduanya memang berasal dari lingkungan istana yang sama, maka surat dan peta itu memperlihatkan istana Aceh yang memiliki pengetahuan geografis dan politik tentang kawasan yang luas, serta berupaya menempatkan Aceh dalam peta kekuatan dunia Islam dan kolonial pada masanya.
Bagi Acehnologi, surat 1850 menguatkan tesis tentang Aceh sebagai peradaban maritim-kosmopolitan yang terhubung dengan Haramain dan Istanbul, serta tentang peran agama sebagai bahasa politik perlawanan. Ia juga memperlihatkan bahwa gagasan Aceh sebagai bagian dari umat yang lebih luas sudah hidup jauh sebelum Perang Aceh, dan kemudian menjadi salah satu fondasi ideologis perlawanan terhadap Belanda. Publikasi ulang oleh MAPESA membuat dokumen ini dikenal kembali oleh masyarakat Aceh, sejalan dengan upaya menghadirkan sumber-sumber primer Aceh yang tersimpan di luar negeri.
Bagi pembaca Aceh hari ini, surat ini juga mengandung pelajaran tentang diplomasi kecil menghadapi kekuatan besar. Aceh tidak memiliki armada dan pasukan yang sebanding dengan Belanda, tetapi memiliki modal simbolik berupa sejarah hubungan dengan Usmani, posisi di jalur haji dan jaringan ulama. Modal inilah yang dipakai sultan untuk menyusun argumen, mencari sekutu dan menegaskan kedaulatan, sebuah pola yang kelak berulang dalam diplomasi Aceh pada masa perang dan sesudahnya.
Penelitian lanjutan dapat menelusuri arsip Usmani di Istanbul untuk mengetahui apakah surat ini tiba dan bagaimana Istanbul menanggapinya, membandingkannya dengan surat-surat Aceh lain kepada Usmani, serta mengkaji peran para perantara di Mekah dalam diplomasi Aceh. Surat ini juga dapat dibandingkan dengan Maklumat Perang Belanda 1873, yang justru berusaha meyakinkan rakyat Aceh bahwa Belanda tidak memusuhi Islam, untuk melihat bagaimana kedua pihak bersaing dalam menggunakan bahasa agama. Kajian semacam itu akan memperkaya pemahaman tentang politik luar negeri Aceh pada abad kesembilan belas.
Aceh's relationship with the Ottoman Empire is one of the threads running through its diplomatic history. From the sixteenth century, when Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar sent envoys to Istanbul to seek help against the Portuguese and obtained cannon and specialists, Aceh saw the Ottomans as protectors of the Islamic world and potential allies. The memory of that relationship endured in symbols, stories and documents for centuries. Sultan Alauddin Manshur Syah's letter to Sultan Abdulmecid Khan in 1850 is one of the most important documents showing how that memory was revived in the face of Dutch colonial threat in the nineteenth century.
The letter was written on 13 Jumada al-Ula 1266 AH, given by MAPESA as 27 March 1850. Its sender introduces himself as Paduka Seri Sultan Alauddin Manshur Syah Johan Berdaulat Zilullah fil Alam, a title affirming the sultan as God's shadow on earth. It bears a seal and a tughra-style signature, a choice reflecting awareness of Ottoman diplomatic etiquette. The recipient was Sultan Abdulmecid Khan, the Ottoman caliph in Istanbul who reigned during the Tanzimat reforms. The text is in Arabic script, mixing Malay prose with Arabic passages, and its transcription was published by Annabel Gallop and colleagues in a study of Islam, trade and politics across the Indian Ocean.
The letter describes the Malay world from Aceh's point of view. The sultan declares the people of Aceh and Sumatra to be Ottoman subjects, a political claim placing Aceh under the caliphate's umbrella. He then reports Dutch expansion in Java, Borneo, Sulawesi and the Sumatran ports, including the exile of sultans, forced labour, restrictions on the hajj and the persecution of ulama. This picture reflects knowledge circulating in Aceh about the fate of other kingdoms in the archipelago, carried by trade, pilgrimage and scholarly networks.
The letter also records unanswered diplomacy. The sultan notes that earlier letters in 1253 and 1261 AH and a delegation sent in 1265 AH received no reply, and that this letter was sent by steamship to Mecca. He asks the caliph for a decree uniting Muslim rulers in jihad against the Dutch, and asks that the reply be sent to his kinsman Muhammad Ghauts, who had led an Acehnese delegation in 1265 AH towards Istanbul via the Holy Land and whose fate was unknown when the letter was written, and through the Governor of Mecca to Shaykh Ismail bin Abdullah al-Khalidi. MAPESA records Muhammad Ghauts Saiful Alam Syah as the sultan's envoy extraordinary and plenipotentiary, and in August 2017 mounted a self-funded expedition along Aceh's south-west coast to trace the ports shown on a map associated with him. The name of Shaykh Ismail al-Khalidi is telling, linking Acehnese diplomacy with the Khalidiyya Sufi network in the Haramayn, one of the most influential scholarly networks in the nineteenth-century Malay world.
MAPESA's title describes the letter as a request for permission to attack Batavia, emphasising the offensive nature of the sultan's appeal. Whatever the interpretation, the letter shows that mid-nineteenth-century Aceh did not see itself as a remote kingdom but as part of a global Muslim community facing colonial expansion together. Aceh sought to build a transnational alliance in religious and political language understood in Istanbul, Mecca and the Malay world.
The letter should also be read in regional context. The 1824 Treaty of London between Britain and the Netherlands recognised Aceh's independence, but by mid-century the Dutch were steadily extending their influence on Sumatra's west and east coasts. For Aceh the threat was not theoretical. Seeking Ottoman support was a strategy for international recognition and protection. The strategy recurred before and during the Aceh War, when Acehnese envoys again approached Istanbul and the Dutch feared intervention by other powers.
The letter's structure is also worth noting. The opening contains praise of God, the Prophet and the caliph, followed by the sender's self-introduction, an account of conditions, the request and directions for the reply. This arrangement follows widely known conventions of Islamic diplomatic letters, showing that Aceh's court scribes mastered the chancery tradition of the Islamic world of the time.
As a manuscript the letter exemplifies the rich diplomatic correspondence of Malay sultanates, with opening praises, long titles, royal seals and language blending Malay and Arabic. Annabel Gallop has studied this tradition extensively, especially the seals and letters of Malay rulers. The tughra-style signature shows Aceh's adaptation to Ottoman chancery style, a sign of shared diplomatic culture between the two worlds.
For the Ottomans, the mid-nineteenth century was a difficult time to answer appeals from distant lands. The caliphate was pursuing the Tanzimat reforms at home, facing pressure from Russia and the European powers, and a few years later became embroiled in the Crimean War. These limits help explain why Aceh's earlier letters went unanswered and why its hopes of Ottoman military aid were hard to realise, even as symbolic and religious ties between the two remained strong.
The letter can also be read alongside other works from the same reign, including a map of Southeast Asia dated 1850 that MAPESA discussed in a video and linked to the Acehnese sultan. If both indeed came from the same court milieu, the letter and the map reveal an Acehnese court with geographical and political knowledge of a wide region, seeking to place Aceh on the map of Islamic and colonial power in its time.
For Acehnologi, the 1850 letter supports the thesis of Aceh as a maritime-cosmopolitan civilisation connected with the Haramayn and Istanbul, and of religion as the political language of resistance. It also shows that the idea of Aceh as part of a wider umma was alive long before the Aceh War and later became one of the ideological foundations of resistance to the Dutch. MAPESA's republication has made the document known again to Acehnese readers, part of an effort to bring Aceh's primary sources held abroad back into view.
For Acehnese readers today the letter also holds lessons about small-state diplomacy facing great powers. Aceh had no fleet or army comparable to the Dutch, but it had symbolic capital: a history of ties with the Ottomans, a position on the hajj route and networks of ulama. The sultan used this capital to build an argument, seek allies and assert sovereignty, a pattern that recurred in Acehnese diplomacy during the war and after.
Further research could search the Ottoman archives in Istanbul to learn whether the letter arrived and how Istanbul responded, compare it with other Acehnese letters to the Ottomans, and examine the role of intermediaries in Mecca in Acehnese diplomacy. The letter can also be compared with the Dutch war proclamation of 1873, which sought instead to convince the Acehnese that the Dutch were not hostile to Islam, to see how both sides competed in the use of religious language. Such study would deepen understanding of Aceh's foreign policy in the nineteenth century.
Gagasan kunciKey ideas
Aceh sebagai rakyat UsmaniAceh as Ottoman subjects
Klaim politik untuk memperoleh perlindungan kekhalifahan.A political claim to win the caliphate's protection.
Diplomasi tak berbalasUnanswered diplomacy
Surat 1253 dan 1261 H serta utusan 1265 H tidak mendapat jawaban.Letters of 1253 and 1261 AH and an envoy of 1265 AH went unanswered.
Jaringan HaramainHaramayn networks
Jawaban diminta melalui utusan Muhammad Ghauts, Gubernur Mekah dan ulama Khalidiyah.Replies were to come via the envoy Muhammad Ghauts, the Governor of Mecca and a Khalidiyya scholar.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah surat 1850 sampai ke Istanbul, dan bagaimana arsip Usmani mencatat tanggapan terhadap permohonan Aceh?Did the 1850 letter reach Istanbul, and how do the Ottoman archives record the response to Aceh's appeal?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Surat Sultan Alauddin Manshur Syah kepada Sultan Abdulmajid dari Turki Usmani (1850)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/surat-sultan-alauddin-manshur-syah-kepada-sultan-abdulmajid-1850/