Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Aceh dan gagasan politik Malaysia: Mahathir, 1Malaysia dan gagasan 1-MelayuAceh and Malaysian political ideas: Mahathir, 1Malaysia and the idea of '1-Malay'

Hubungan Aceh dengan Semenanjung Melayu tidak hanya bersifat historis, tetapi juga hidup dalam imajinasi politik Aceh kontemporer. Sosok Mahathir Mohamad dikenal luas di Aceh sebagai pembaru, Malaysia menjadi tempat berlindung dan menuntut ilmu bagi orang Aceh pada masa konflik, dan slogan 1Malaysia memancing gagasan tandingan tentang "1-Melayu" yang berorientasi etnis dan memberi tempat bagi Aceh.

Aceh's relationship with the Malay Peninsula is not only historical but lives on in contemporary Acehnese political imagination. Mahathir Mohamad is widely known in Aceh as a reformer, Malaysia became a place of refuge and study for Acehnese during the conflict, and the 1Malaysia slogan prompted a counter-idea of an ethnically oriented "1-Malay" that would give Aceh a place.

Hubungan Aceh dengan Semenanjung Melayu sering dipaparkan dalam tiga lapis. Lapis pertama adalah sejarah politik: setiap episode sejarah Aceh berkait dengan peristiwa di Tanah Melayu, dari penaklukan pada masa Sultan Iskandar Muda dan pengangkatan Tun Sri Lanang sebagai penguasa di Samalanga hingga para utusan Aceh yang mencari dukungan di Pulau Pinang ketika berperang melawan Belanda. Lapis kedua adalah hubungan pemikiran selama lebih dari empat abad, yang tampak dalam pandangan Syed Muhammad Naquib al-Attas bahwa permata Melayu pernah bersinar di Pasai, bukan hanya di Melaka, dan bahwa Hamzah Fansuri adalah peletak dasar sastra Melayu. Lapis ketiga adalah peran Malaysia modern bagi Aceh kontemporer.

Lapis ketiga itu sangat nyata. Pada masa konflik Malaysia memberi ruang hidup bagi pendatang dari Aceh, bukan hanya untuk mencari nafkah tetapi juga untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi, dan pada 2004 Malaysia aktif memberikan bantuan tsunami. Sejumlah petinggi GAM menjadikan Malaysia tempat transit ketika pulang ke Indonesia, dan negeri itu menjadi tempat berobat favorit elite Aceh, misalnya Irwandi Yusuf dan Ibrahim KBS. Sisi gelapnya juga ada: tidak sedikit orang Aceh mendekam di penjara Malaysia karena kasus ganja atau sabu. Karena itu, ketika ketegangan Indonesia–Malaysia memuncak pada 2009 akibat kasus Manohara dan sengketa Ambalat, sudut pandang Aceh cenderung berbeda dari arus nasionalisme Indonesia: tidak ada alasan bagi orang Aceh untuk membenci negeri yang dahulu berada dalam lingkup kekuasaan Sultan Iskandar Muda.

Dalam imajinasi politik Aceh, Mahathir Mohamad menempati kedudukan istimewa. Sekitar 1990 namanya sudah dikenal para santri madrasah tsanawiyah di Aceh Timur sebagai tokoh pembaruan Islam dari Asia Tenggara. Pembacaan Aceh atas Mahathir menekankan tiga keistimewaan: kemampuannya mempelajari kegemilangan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, termasuk Aceh, sebagai bahan membangun identitas Melayu modern, sebagaimana tercermin dalam The Malay Dilemma; kemampuannya memadukan Islam dan pembangunan dalam kerangka negara-bangsa melalui islamisasi dan Wawasan 2020 tanpa sekularisasi model Barat; dan kemampuannya membaca tanda-tanda zaman, misalnya ketika ia menyatakan Malaysia sebagai negara Islam pada 2001. Mahathir dengan demikian dibaca sebagai teladan bagaimana sejarah dijadikan iktibar bagi pembangunan, sesuatu yang dirasakan hilang di Aceh.

Slogan 1Malaysia, yang diperkenalkan pemerintah Malaysia pada 2009, memancing refleksi tentang makna hubungan itu. Slogan ini bersifat state oriented, berorientasi pada perpaduan antarkaum di dalam negara Malaysia, sehingga "propagandanya" tidak sampai ke Aceh. Sebagai tandingan diajukan gagasan 1-Melayu yang bersifat ethno oriented: menghimpun semua lapisan Melayu di Asia Tenggara atas dasar kesamaan budaya, bahasa dan sejarah, pada tataran identitas yang kosmopolitan, dengan tiga agenda, yaitu menjaga nilai-nilai sejarah Melayu, membina hubungan mesra dengan seluruh etnik Melayu di rantau ini, dan menghidupkan kembali isu kebangkitan Dunia Melayu dengan Malaysia sebagai penggagasnya. Gagasan ini dikaitkan dengan rencana Komunitas ASEAN 2015 dan dengan kajian Leonard Andaya (2001) tentang sumbangan Aceh bagi standar kemelayuan.

Gagasan 1-Melayu itu perlu dibaca berdampingan dengan esai lain dalam kumpulan yang sama, "Kenapa Aceh Bukan Melayu?", yang ditulis pada Desember 2009 setelah pemerintah Malaysia menganugerahkan gelar Tun Perak kepada Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar. Esai itu mengingatkan bahwa menurut definisi konstitusi Malaysia sebagaimana diringkas penulisnya, yakni berbahasa Melayu, beragama Islam dan lahir di Tanah Melayu sebelum 1957, orang Aceh bukan Melayu kecuali mereka yang lahir di Malaysia, dan bahwa sebagian keluarga keturunan Aceh di Kedah masih berbahasa Aceh di rumah. Ia memperkenalkan pembedaan antara "kerak peradaban Aceh" dan "kerak peradaban Melayu": garis peradaban Melayu-Malaysia lebih bersinggungan dengan Sriwijaya, Temasek dan Nakhon Si Thammarat, sedangkan Aceh memiliki bahasa, sejarah dan kebudayaannya sendiri. Sebagai contoh disebutkan seudati, ranup lampuan, ratoh duek, saman dan tarian seribu tangan, yang tidak dijumpai dalam khazanah tari Melayu di Malaysia. Dengan pepatah "lembu punya susu, sapi punya nama", esai itu memperingatkan agar warisan Aceh tidak dilebur menjadi milik identitas lain. Tulisan ini memancing tanggapan Darwis A. Soelaiman di Serambi Indonesia pada 19 Desember 2009.

Gagasan itu disertai kesadaran yang getir. Hubungan Aceh–Malaysia kini adalah hubungan negara dengan negeri, sebab Aceh bukan lagi negara melainkan provinsi Indonesia. Dengan citra kafilah, rombongan yang menuju satu tujuan di bawah seorang amir, Aceh digambarkan hanya dapat duduk di bangku paling belakang: tidak ada lagi sultan, tidak ada pujangga sekaliber Hamzah Fansuri, tidak ada perguruan tinggi ternama dan tidak ada kesultanan yang dapat membina hubungan dengan kesultanan-kesultanan Malaysia. Dalam 1-Melayu, Aceh akan menempel sebagaimana Minangkabau dan Bugis. Refleksi tentang masa depan Aceh merumuskannya dengan perbandingan: hubungan Aceh dengan Jawa seperti melukis di atas air, sedangkan hubungan Aceh dengan Melayu seperti melukis di atas batu, kokoh dalam sejarah tetapi tidak dapat bersatu dalam kerangka negara-bangsa.

Dua sikap yang tampak bertentangan itu, ajakan menuju 1-Melayu dan penegasan bahwa Aceh bukan Melayu, sesungguhnya memperlihatkan ambivalensi yang sama. Kemelayuan dapat menjadi sumber solidaritas regional yang menjanjikan jaringan, pengakuan dan tempat dalam percakapan Dunia Melayu, tetapi juga dapat menjadi proyek identitas negara lain yang berisiko menenggelamkan kekhasan Aceh. Esai-esai itu merujuk kajian Shamsul Amri Baharuddin tentang konstruksi identitas di Malaysia, Contesting Malayness suntingan Timothy P. Barnard, tulisan Anthony Reid tentang Melayu sebagai sumber identitas modern yang beragam, dan Other Malays karya Joel S. Kahn, yang semuanya memandang kemelayuan sebagai konstruksi yang terus diperebutkan. Dalam kerangka ini, ketegangan antara Aceh dan Malaysia bukan semata soal kedekatan atau jarak budaya, melainkan soal siapa yang berhak mendefinisikan warisan bersama, dan dalam kerangka negara apa warisan itu dihidupkan.

Tema ini penting bagi studi Aceh karena memperlihatkan bahwa identitas Melayu di Aceh bukan sekadar warisan masa kesultanan, tetapi terus dinegosiasikan dalam politik regional kontemporer. Malaysia hadir sekaligus sebagai saudara serumpun, tempat berlindung dan cermin yang memantulkan apa yang hilang dari Aceh: kedaulatan, pusat kuasa dan lembaga ilmu yang berwibawa.

Persoalan yang terbuka bagi kajian Aceh adalah bagaimana hubungan Aceh dan Malaysia dapat dikaji tanpa terjebak pada dua kutub tersebut. Komunitas keturunan Aceh di Kedah dan Pulau Pinang, mahasiswa dan pekerja Aceh di Malaysia sejak masa konflik, jaringan ulama dan kitab yang melintasi Selat Melaka, serta pertukaran gelar dan anugerah antara pemerintah kedua pihak menyediakan bahan empiris untuk menilai apakah kemelayuan bagi orang Aceh merupakan identitas yang dihayati, strategi diplomatik, atau sekadar ingatan sejarah. Kajian semacam itu juga dapat menjelaskan mengapa gagasan seperti Kongres Melayu Raya yang pernah digelar di Banda Aceh mendapat sambutan di kalangan elite, sementara di tingkat keseharian bahasa dan adat Aceh tetap menjadi penanda yang membedakan.

Aceh's relationship with the Malay Peninsula is often described in three layers. The first is political history: every episode of Acehnese history connects with events on the Peninsula, from the conquests of Sultan Iskandar Muda's reign and the installation of Tun Sri Lanang as ruler in Samalanga to the Acehnese envoys who sought support in Penang during the war against the Dutch. The second is a relationship of ideas spanning more than four centuries, visible in Syed Muhammad Naquib al-Attas's view that the jewel of Malay civilisation once shone in Pasai and not only in Melaka, and that Hamzah Fansuri laid the foundations of Malay literature. The third is the role of modern Malaysia in contemporary Aceh.

That third layer is very tangible. During the conflict Malaysia gave Acehnese migrants room to live, not only to earn a living but also to study at its universities, and in 2004 it was active in tsunami relief. Several GAM leaders used Malaysia as a transit point when returning to Indonesia, and the country became a favoured place of medical treatment for the Acehnese elite, Irwandi Yusuf and Ibrahim KBS among them. There is a darker side too: not a few Acehnese are held in Malaysian prisons on cannabis or methamphetamine charges. Hence, when Indonesia–Malaysia tensions peaked in 2009 over the Manohara case and the Ambalat dispute, the Acehnese perspective tended to differ from the current of Indonesian nationalism: there was no reason for Acehnese to hate a country once within the sphere of Sultan Iskandar Muda's power.

In Acehnese political imagination Mahathir Mohamad holds a special place. Around 1990 his name was already known to madrasah tsanawiyah pupils in East Aceh as a leading figure of Islamic reform in Southeast Asia. Acehnese readings of Mahathir stress three qualities: his study of the glories of the Islamic kingdoms of the archipelago, Aceh included, as material for building a modern Malay identity, as reflected in The Malay Dilemma; his combination of Islam and development within the nation-state through Islamisation and Vision 2020 without Western-style secularisation; and his ability to read the signs of the times, as when he declared Malaysia an Islamic state in 2001. Mahathir is thus read as a model of how history can be turned into a lesson for development, something felt to be missing in Aceh.

The 1Malaysia slogan, introduced by the Malaysian government in 2009, prompted reflection on the meaning of this relationship. The slogan is state-oriented, aimed at inter-communal unity within the Malaysian state, so its "propaganda" never reached Aceh. As a counterpart, the idea of a "1-Malay" was put forward, ethno-oriented in character: gathering all strata of the Malay world in Southeast Asia on the basis of shared culture, language and history, at a cosmopolitan level of identity, with three aims, namely preserving the values of Malay history, fostering close ties among all Malay groups in the region, and reviving the cause of a Malay World renaissance with Malaysia as its initiator. The idea was linked to the planned ASEAN Community of 2015 and to Leonard Andaya's study (2001) of Aceh's contribution to standards of Malayness.

The idea of 1-Melayu needs to be read alongside another essay in the same collection, "Why Is Aceh Not Malay?", written in December 2009 after the Malaysian government conferred the title Tun Perak on the Deputy Governor of Aceh, Muhammad Nazar. The essay points out that under the definition of the Malaysian constitution as summarised by its author, namely speaking Malay, professing Islam and being born on Malay soil before 1957, the Acehnese are not Malay except for those born in Malaysia, and that some families of Acehnese descent in Kedah still speak Acehnese at home. It introduces a distinction between the "crust of Acehnese civilisation" and the "crust of Malay civilisation": the civilisational lineage of Malaysian Malayness intersects rather with Srivijaya, Temasek and Nakhon Si Thammarat, whereas Aceh has its own language, history and culture. As examples it cites the seudati, ranup lampuan, ratoh duek, saman and the thousand-hands dance, none of which is found in the Malay dance repertoire of Malaysia. With the proverb "the cow has the milk, the ox has the name", the essay warns against Acehnese heritage being absorbed into another identity. The piece drew a response from Darwis A. Soelaiman in Serambi Indonesia on 19 December 2009.

The idea came with a bitter awareness. The Aceh–Malaysia relationship is now one between a state and a province, since Aceh is no longer a state but part of Indonesia. Using the image of a caravan (kafilah), a company travelling towards one goal under an amir, Aceh is pictured as able only to sit in the very last row: there is no longer a sultan, no poet of Hamzah Fansuri's stature, no renowned university and no sultanate able to cultivate relations with the sultanates of Malaysia. Within a "1-Malay" Aceh would simply attach itself, as the Minangkabau and Bugis would. A reflection on Aceh's future puts it in a comparison: Aceh's relationship with Java is like painting on water, whereas its relationship with the Malay world is like painting on stone, solid in history but unable to unite within the framework of the nation-state.

The two apparently contradictory positions, the call for 1-Melayu and the assertion that Aceh is not Malay, in fact reveal the same ambivalence. Malayness can be a source of regional solidarity that promises networks, recognition and a place in the conversation of the Malay World, but it can also be another state's identity project that risks submerging what is distinctive about Aceh. The essays draw on Shamsul Amri Baharuddin's work on identity construction in Malaysia, Contesting Malayness edited by Timothy P. Barnard, Anthony Reid's writing on Melayu as a source of diverse modern identities, and Joel S. Kahn's Other Malays, all of which see Malayness as a construction that is constantly contested. In this framework, the tension between Aceh and Malaysia is not merely a matter of cultural closeness or distance but of who has the right to define a shared heritage, and within which state that heritage is brought to life.

The theme matters for Aceh studies because it shows that Malay identity in Aceh is not merely a legacy of the sultanate but continues to be negotiated in contemporary regional politics. Malaysia appears at once as a kindred people, a place of refuge and a mirror reflecting what Aceh has lost: sovereignty, a centre of power and authoritative institutions of learning.

The open problem for Aceh studies is how relations between Aceh and Malaysia can be studied without being trapped between these two poles. Communities of Acehnese descent in Kedah and Penang, Acehnese students and workers in Malaysia since the conflict years, networks of ulama and kitab crossing the Strait of Melaka, and the exchange of titles and awards between the two governments provide empirical material for judging whether Malayness for the Acehnese is a lived identity, a diplomatic strategy or merely a historical memory. Such research could also explain why ideas such as the Melayu Raya congress once held in Banda Aceh were welcomed among the elite, while in everyday life the Acehnese language and adat remained distinguishing markers.

Gagasan kunciKey ideas

Tiga lapis hubunganThree layers of connection

Hubungan Aceh–Melayu mencakup sejarah politik, jaringan pemikiran dan peran Malaysia modern.Aceh–Malay relations span political history, intellectual networks and the role of modern Malaysia.

Mahathir sebagai cerminMahathir as a mirror

Mahathir dibaca di Aceh sebagai teladan menjadikan sejarah sebagai iktibar pembangunan.Mahathir is read in Aceh as a model of turning history into a lesson for development.

1Malaysia dan 1-Melayu1Malaysia and '1-Malay'

Slogan berorientasi negara dibandingkan dengan gagasan berorientasi etnis yang memberi tempat bagi Aceh.A state-oriented slogan is contrasted with an ethno-oriented idea that would give Aceh a place.

Melukis di atas batuPainting on stone

Ikatan Aceh–Melayu kokoh dalam sejarah, tetapi tidak dapat bersatu dalam kerangka negara-bangsa.Aceh–Malay ties are solid in history but cannot unite within the nation-state.

Aceh bukan MelayuAceh is not Malay

Esai Desember 2009 menegaskan kerak peradaban Aceh yang berbeda dari kemelayuan Malaysia.A December 2009 essay asserts an Acehnese civilisational crust distinct from Malaysian Malayness.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah gagasan solidaritas Melayu lintas negara masih memiliki daya bagi identitas Aceh, atau justru telah sepenuhnya digantikan oleh kerangka negara-bangsa Indonesia dan Malaysia?Does the idea of cross-border Malay solidarity still carry weight for Acehnese identity, or has it been wholly displaced by the nation-state frameworks of Indonesia and Malaysia?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Aceh dan gagasan politik Malaysia: Mahathir, 1Malaysia dan gagasan 1-Melayu”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/aceh-dan-gagasan-politik-malaysia/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →