Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Pemerintahan IRNA (Irwandi–Nazar) dan tiga corak unjuk rasaThe IRNA government (Irwandi–Nazar) and three types of protest

2007–2012

Pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar (IRNA), pemenang pilkada langsung 2006 dari lingkungan GAM dan SIRA, memerintah Aceh pada 2007–2012. Masa ini diwarnai unjuk rasa pro dan kontra di Banda Aceh, termasuk aksi santri 2008. Sebuah tipologi membedakan unjuk rasa simbolik, unjuk rasa ‘formal’ yang digerakkan kekuatan di belakangnya, dan unjuk rasa substantif yang jarang terjadi, sekaligus membaca gaya kepemimpinan IRNA melalui perbandingan dengan para presiden Indonesia.

Irwandi Yusuf and Muhammad Nazar (IRNA), winners of the 2006 direct election from GAM and SIRA circles, governed Aceh in 2007–2012. The period saw pro- and anti-government protests in Banda Aceh, including the 2008 santri march. A typology distinguishes symbolic protest, ‘formal’ protest driven by forces behind it, and rare substantive protest, while reading IRNA’s leadership style through comparison with Indonesian presidents.

Unjuk rasa digambarkan sebagai ‘karier di luar kantor’: banyak demonstran 1996–2000-an kemudian menjadi pejabat atau anggota legislatif, dan bagi organisasi bawah tanah di Jawa demonstrasi pernah menjadi semacam ‘kuliah kerja nyata’. Unjuk rasa simbolik menghadirkan wacana tandingan tetapi mudah ditunggangi karena isunya tidak dikawal; unjuk rasa formal menjadi ritual tahunan dalam manajemen konflik, dengan orator yang terlatih memancing emosi; unjuk rasa substantif mengawal isu terus-menerus hingga sasaran berubah, seperti Jakarta 1998 atau pendudukan bandara di Bangkok, dan belum pernah terjadi di Aceh.

Irwandi dibaca sebagai sosok enigmatik yang memadukan gaya Gus Dur, dipuji di luar negeri tetapi dikritik di dalam, dan gaya Soekarno, menyembunyikan ideologinya sambil mengakomodasi semua demi pembangunan. Nazar dibaca mendekati gaya Soeharto dan SBY dengan prinsip ‘menang tanpa merusak’ dan tutur yang sangat hati-hati. Ukuran yang dianggap ideal bagi orang Aceh adalah peugah lage na, peuna lage peugah: bicara sesuai kenyataan, berbuat sesuai yang dikatakan.

Analisis ini menilai gaya kepemimpinan IRNA kuat secara simbolik tetapi lemah secara substantif. Gerbong oposisi yang dulu mengantarkan IRNA terpecah, sebagian dimanfaatkan partai nasional pada pemilu 2009, sementara harapan simbolik dialihkan ke wakil rakyat dari Partai Aceh. Ia memperingatkan bahwa bila unjuk rasa tidak berhasil menggoyang, ‘catatan hitam’ seperti dugaan korupsi biasanya dibuka sebagai senjata politik.

Protest is described as ‘a career outside the office’: many demonstrators of 1996–2000s later became officials or legislators, and for underground organisations in Java demonstrations once served as a kind of ‘field course’. Symbolic protest offers a counter-discourse but is easily hijacked because its issue is not stewarded; formal protest becomes an annual ritual of conflict management, with orators trained to stir emotions; substantive protest pursues an issue relentlessly until its target changes, as in Jakarta in 1998 or the Bangkok airport occupation, and had never occurred in Aceh.

Irwandi was read as an enigmatic figure blending the style of Gus Dur, praised abroad but criticised at home, and of Sukarno, concealing his ideology while accommodating all for the sake of development. Nazar was read as closer to Suharto and Yudhoyono, with the principle of ‘winning without destroying’ and very cautious speech. The standard considered ideal for the Acehnese is peugah lage na, peuna lage peugah: say what is, and do what you say.

The analysis judged IRNA’s leadership strong symbolically but weak substantively. The opposition coalition that brought IRNA to power splintered, some of it captured by national parties in 2009, while symbolic hopes moved to Partai Aceh legislators. It warned that when protests fail to unseat leaders, ‘black records’ such as corruption allegations are usually opened as political weapons.

Gagasan kunciKey ideas

Tipologi unjuk rasaTypology of protest

Simbolik, formal, dan substantif membedakan dampak demonstrasi.Symbolic, formal and substantive types differ in impact.

Simbolik versus substantifSymbolic versus substantive

Pemimpin gagal bila tidak mampu memilah kepentingan simbolik dan substantif.Leaders fail when they cannot separate symbolic from substantive interests.

Ukuran AcehAn Acehnese standard

Kesesuaian kata dan perbuatan sebagai ukuran pemimpin.Consistency of word and deed as the measure of a leader.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang membedakan unjuk rasa yang mengubah kebijakan dari unjuk rasa yang hanya menjadi ritual?What distinguishes protests that change policy from those that are mere ritual?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Pemerintahan IRNA (Irwandi–Nazar) dan tiga corak unjuk rasa”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/pemerintahan-irna-dan-unjuk-rasa/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →