Paradigma integrasi-interkoneksi (M. Amin Abdullah)The integration-interconnection paradigm (M. Amin Abdullah)
UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
Paradigma integrasi-interkoneksi digagas M. Amin Abdullah dan dijalankan di UIN Sunan Kalijaga sebagai pola hubungan antara ilmu keagamaan dan non-keagamaan. Asumsinya, tidak ada bangunan ilmu yang dapat berdiri sendiri; klaim swasembada ilmu akan berubah menjadi kesempitan pandang. Komponennya mencakup ‘triple hadarah’, ‘jaring laba-laba’, hubungan saling menembus yang semipermeabel, keterujian intersubjektif, dan imajinasi kreatif. Paradigma ini ditelaah secara kritis dan dibandingkan dengan Islamisasi Ilmu Pengetahuan serta tradisi keilmuan Aceh.
The integration-interconnection paradigm was devised by M. Amin Abdullah and adopted at UIN Sunan Kalijaga as a model of relations between religious and non-religious sciences. Its premise is that no body of knowledge can stand alone; a claim to self-sufficiency turns into narrow-mindedness. Its components include the ‘triple hadarah’, the ‘spider web’, semipermeable mutual penetration, intersubjective testability and creative imagination. The paradigm is examined critically and compared with the Islamization of Knowledge and with Aceh's intellectual tradition.
Amin Abdullah membuka argumennya dengan empat kasus nyata: anak di luar perkawinan, cerai lewat SMS, kasus Sampang-Madura, dan penentuan awal Ramadan serta Idul Fitri. Menurutnya, linearitas bidang ilmu, khususnya ilmu agama, berisiko tinggi di ruang publik; fikih tanpa sosiologi atau kalam tanpa antropologi dapat merugikan. Dibaca dengan kerangka RDEDII, langkah ini dinilai bermula dari tahap implikatif. Secara ontologis paradigma ini menawarkan dialog lintas disiplin, secara epistemologis menjawab dikotomi ilmu umum dan agama yang menurut Amin juga terlembaga dalam pemisahan Departemen Pendidikan dan Departemen Agama, dan secara aksiologis membentuk ilmuwan yang terbuka dan berpandangan ke depan.
‘Triple hadarah’ (hadarah al-nass, al-falsafah, al-‘ilm), yang dijelaskan Waryani Fajar Riyanto sebagai ontologi paradigma ini, dipinjam dari Arkoun, al-Jabiri, dan Abu Zayd, sehingga paradigma ini dapat digolongkan sebagai kelanjutan pemikiran pascamodern Islam. Pemetaan Fajar atas ketiga istilah itu dinilai membingungkan. ‘Jaring laba-laba’ sebagai epistemologinya ternyata telah lebih dahulu disajikan Mohd. Kamal Hassan, bersama gambaran ‘pohon ilmu’, dalam lingkungan Islamisasi Ilmu. Tujuan menyatukan kembali ilmu modern dan ilmu keislaman pun mirip dengan tahap ‘mastery of the modern sciences’ dalam kerangka al-Fārūqī.
Hubungan ilmu dan agama digambarkan saling menembus secara sebagian (semipermeabel), dengan enam corak: klarifikatif, komplementatif, afirmatif, korektif, verifikatif, dan transformatif. Corak ini dinilai sudah lama hidup dalam tradisi syarah dan hasyiah, serta dalam karya ar-Raniry, al-Singkili, Hamzah Fansuri, dan Syamsuddin al-Sumatrani yang menghidupkan tradisi jadal bi al-hikmah di Aceh hingga abad ke-19.
Keterujian intersubjektif dipinjam dari Ian G. Barbour dan fenomenologi agama, dengan acuan Annemarie Schimmel. Imajinasi kreatif juga merujuk Barbour (1966), tetapi kritik yang diajukan adalah bahwa dimensi metafisisnya, yang dalam karya Henry Corbin tentang Ibn ‘Arabi dipahami sebagai imajinasi teofanik, tidak dijelaskan dalam paradigma ini.
Amin Abdullah opens with four real cases: children born outside marriage, divorce by text message, the Sampang (Madura) case, and the dating of Ramadan and Eid. Linear specialisation, especially in religious sciences, carries high risk in public life; fiqh without sociology or theology without anthropology can do harm. Read through RDEDII, this move is judged to start at the implicative stage. Ontologically the paradigm offers interdisciplinary dialogue; epistemologically it answers the dichotomy of secular and religious knowledge, which Amin sees institutionalised in the separate Ministries of Education and Religious Affairs; axiologically it aims to form open, forward-looking scholars.
The ‘triple hadarah’ (hadarah al-nass, al-falsafah and al-‘ilm), presented by Waryani Fajar Riyanto as the paradigm's ontology, is borrowed from Arkoun, al-Jabiri and Abu Zayd, placing the paradigm in the line of Islamic postmodern thought. Fajar's mapping of the three terms is judged confusing. The ‘spider web’, its epistemology, had earlier been presented by Mohd. Kamal Hassan, together with a ‘tree of knowledge’, within the Islamization of Knowledge movement. The goal of reuniting modern and Islamic sciences also resembles the ‘mastery of the modern sciences’ stage in al-Faruqi's framework.
Science and religion are said to penetrate each other partially (semipermeably), in six modes: clarificatory, complementary, affirmative, corrective, verificatory and transformative. These modes are argued to have long existed in the commentary (syarah) and gloss (hasyiah) tradition, and in the works of al-Raniri, al-Singkili, Hamzah Fansuri and Syamsuddin al-Sumatrani, which sustained a tradition of wise disputation (jadal bi al-hikmah) in Aceh until the nineteenth century.
Intersubjective testability is borrowed from Ian G. Barbour and the phenomenology of religion, with reference to Annemarie Schimmel. Creative imagination also draws on Barbour (1966), but the critique is that its metaphysical dimension, understood in Henry Corbin's work on Ibn ‘Arabi as theophanic imagination, is left unexplained in the paradigm.
Gagasan kunciKey ideas
Melawan swasembada ilmuAgainst disciplinary self-sufficiency
Ilmu yang merasa cukup sendiri akan menjadi fanatisme partikular.A science that thinks itself sufficient becomes particularist fanaticism.
SemipermeabelSemipermeable
Batas disiplin tetap ada, tetapi saling menembus dalam enam corak.Disciplinary borders remain but are mutually permeable in six modes.
Kritik genealogisA genealogical critique
Unsur-unsurnya memiliki pendahulu dalam Islamisasi Ilmu dan tradisi ulama Aceh.Its elements have precedents in the Islamization movement and Aceh's ulama tradition.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Jika corak saling menembus sudah hidup dalam tradisi syarah dan hasyiah, apa sumbangan sesungguhnya dari paradigma integrasi-interkoneksi?If mutual penetration already lived in the commentary-and-gloss tradition, what is the real contribution of the integration-interconnection paradigm?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Paradigma integrasi-interkoneksi (M. Amin Abdullah)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/paradigma-integrasi-interkoneksi/