Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Acehnologi — Kearifan Lokal dalam Perspektif Epistemologi IrfaniAcehnologi — Local wisdom and irfani epistemology

Naskah tidak bertanggal; memuat konteks hingga setidaknya 2012Undated manuscript; contains contexts extending to at least 2012

Panduan membaca bagian “Kearifan Lokal dalam Perspektif Epistemologi Irfani” dalam naskah Acehnologi karya Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, dengan petikan sumber, konteks penafsiran, serta hubungan dengan entri tematik dan modul belajar.

Source-reading guide to Local wisdom and irfani epistemology in the Acehnologi manuscript.

Bagian naskah: Kearifan Lokal dalam Perspektif Epistemologi Irfani.

Entri ini adalah panduan sumber. Petikan terpilih di bawah mempertahankan suara penulis dan bukan ringkasan lengkap seluruh bab. Argumen, penilaian, dan generalisasi di dalam petikan merupakan pandangan penulis pada konteks penyusunan naskah; pembaca perlu membedakannya dari fakta yang telah diuji secara mandiri.

Petikan 1 — Dalam beberapa tahun terakhir ini, dalam beberapa diskusi di Aceh sering muncul istilah kearifan lokal (local wisdom) sebagai bentuk untuk mencari format nilai-nilai yang berkembang pada satu masyarakat. Gagasan kearifan lokal dapat dipahami sebagai bentuk “indigenous ideas” yang bersifat pribumi. Bahkan isu ini merambat ke berbagai persoalan seperti identitas, agama, dan sosial politik.

Petikan 2 — Dari gambaran di atas, tampak bahwa epistemologi ’irfâni lebih bersentuhan dalam sesuatu yang tidak ”tampak oleh mata”, namun ”tampak oleh batin.” Karenanya, epistemologi ini memainkan peran dalam memahami sesuatu yang tidak rasional. Dengan kata lain, epistemologi ini diharapkan mampu menjelaskan berbagai ilmu yang dimiliki oleh manusia yang berasal dari sumber ilmu melalui cara yang langsung, seperti mukjizat, keajaiban, ilham, dan ilmu-ilmu ladunni lainnya. Jika demikian halnya, maka epistemologi ’irfâni ingin menggapai apa yang tidak bisa dijelaskan oleh kelompok ilmuwan positivisme yang berdasarkan pada logika-logika empiris.

Petikan 3 — Ketiga, dalam konteks kehidupan sosial, maka pengalaman kebatinan atau spiritual, pada hakikatnya bisa dipahami melalui pendekatan fenomenologi dan hermeneutika. Dengan demikian, jika ada kearifan yang berbentuk pada kebaikan, maka disitu pada prinsipnya ada ahli-ahli pikir yang memiliki pengalaman kebatinan yang amat tinggi. Proses penurunan ilmu yang kemudian menciptakan rekayasa sosial melalui kearifan lokal, pada ujungnya adalah upaya menghubungkan masyarakat dengan ajaran kenabian dan langsung berhubungan dengan Pemilik Alam, Allah SWT.

Cara membaca: catat pertanyaan utama, bukti atau pengalaman yang dipakai, dan batas generalisasi. Bandingkan dengan entri tematik yang ditautkan. Istilah seperti “sekarang”, nama jabatan, keadaan lembaga, aturan hukum, dan angka tidak dimutakhirkan secara otomatis.

Rujukan: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. naskah Acehnologi yang diberikan penulis, naskah tidak bertanggal yang diberikan penulis pada 24 Oktober 2026. Nomor bab dan pembagian bagian belum konsisten; rujukan memakai judul bagian dalam tubuh naskah. Metadata berkas bukan tahun penerbitan. Sejumlah foto dan uraian menyebut 2012 serta masa pascadamai. Bagian “Kearifan Lokal dalam Perspektif Epistemologi Irfani”.

Beberapa catatan rujukan yang menyertai bagian ini dalam naskah (ejaan dan kelengkapan bibliografi mengikuti sumber):

Lihat misalnya Muhammad Adli Abdullah, Sulaiman Tripa, dan Teuku Muttaqin , Selama Kearifan Adalah Kekayaan: Eksistensi Panglima Laot Dan Hukom Adat Laot Di Ac eh, ed. Mohd. Harun Pawang Rasyid, Helmi Hass, dan Murizal Hamzah (Banda Aceh: Panglima Laot Aceh, 2006), Sanusi, "Kearifan Lokal Dan Peranan Panglima Laot Dalam Proses Pemukiman Dan Penataan Kembali Kawasan Pesisir Aceh Pasca-Tsunami," (Banda Aceh: Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya, Universitas Syiah Kuala 2005).

Baca misalnya April Carter , The Political Theory of Global Citizensh ip (London: Routledge, 2001).

Baca misalnya Joel S. Kahn , Other Malays: Nationalism and Cosmopolitanism in the Modern Malay Wor ld (Singapore: Singapore University Press, 2006).

Donald Polkinghorne , Methodology for the Human Sciences: System of Inqui ry (Albany: State University of New York Press, 1983). 10.

M. Amin Abdullah, "Al-Ta'wîl Al-'Ilmî: Ke Arah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci, " Al-Jâmi'ah: Journal of Islamic Studi es 39, 2 (2001), 381-383.

Buku yang sangat komprehensif mengenai persoalan ini adalah Anthony C. Thiselton , New Horizon in Hermeneuti cs (Michigan Zondervan Publishing House, 1992). Hans-Georg Gadamer , Truth and Meth od, Revised Edition ed. (London: Continuum, 2006). Baca juga beberapa karya berikut: M. Amin Abdullah, "New Horizons of Islamic Studies through Socio-Cultural Hermeneutics, " Al-Jâmi'ah: Journal of Islamic Studi es 41,1 (2003), Komaruddin Hidayat, "Hermeneutical Problems of Religious Language, " Al-Jâmi'ah: Journal of Islamic Studi es 6, 65 (2000), idem , Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneut ik (Jakarta: Paramadina, 1996), Moch. Nur Ichwan, "Beyond Ideological Interpretation: Nasr Abû Zayd's Theory of Qur'anic Hermeneutic, " Al-Jâmi'ah: Journal of Islamic Studi es 65,12 (2000), Yusuf Rahman, "Spiritual Hermeneutics (Ta'w îl): A Study of Henry Corbin's Phenomenological Approach, " Al-Jâmi'ah: Journal of Islamic Studi es 62, 12 (1998), Ernest Wolf-Gazo, "Contextualizing Averroes within the German Hermeneutic Tradition, " Alif: Journal of Comparative Poeti cs 16 (1996).

A source-reading guide to “Local wisdom and irfani epistemology” in Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad’s Acehnologi manuscript. The Indonesian extracts preserve the author’s voice; the linked thematic entry supplies a separate conceptual overview. Read the manuscript as a situated intellectual argument, distinguishing interpretation, field observation, and normative proposals. Dates and institutional descriptions belong to the period discussed, rather than automatically describing present-day Aceh.

Reference: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. author-supplied Acehnologi manuscript, undated manuscript supplied by its author on 24 October 2026. Chapter numbering and part divisions are inconsistent; references identify body headings. File metadata is not a publication date. Several captions and passages refer to 2012 and the post-peace period. Section “Kearifan Lokal dalam Perspektif Epistemologi Irfani”.

Gagasan kunciKey ideas

Sumber dan tafsirSource and interpretation

Petikan dibedakan dari penjelasan editorial dan dibaca dalam konteks zamannya.Extracts are distinguished from editorial explanation and read in their historical context.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa bukti yang mendukung argumen pada bagian ini, dan apa yang masih perlu diuji?What supports this section’s argument, and what remains to be tested?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Acehnologi — Kearifan Lokal dalam Perspektif Epistemologi Irfani”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/acehnologi-draft-kearifan-lokal-dalam-perspektif-epistemologi-irfani/