Apa, bagaimana, dan untuk apa: tiga pertanyaan filosofis studi AcehWhat, how and what for: the three philosophical questions of Aceh studies
Studi Aceh disusun untuk menjawab tiga pertanyaan filosofis: apa itu studi Aceh (ontologi), bagaimana ia dibangun dan diterapkan dalam ilmu sosial dan humaniora (epistemologi), dan apa manfaatnya (aksiologi). Ketiga dimensi ini dipandang telah dihasilkan oleh para pemikir besar Aceh dan dipraktikkan di dalam maupun di luar Aceh. Contohnya konsep 'aku–keberadaan–tindakan' Hamzah Fansuri, rekonstruksi sejarah Nuruddin ar-Raniry, kiprah keilmuan dan politik ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili, hingga peran Hasbi Ash-Shiddieqy dalam studi hukum Islam Indonesia.
Aceh studies is organised to answer three philosophical questions: what Aceh studies is (ontology), how it is built and applied within the social sciences and humanities (epistemology), and what it is for (axiology). All three dimensions are seen as already produced by Aceh's great thinkers and practised both inside and outside Aceh. Examples include Hamzah Fansuri's 'I–being–action' concept, Nuruddin ar-Raniry's historical reconstruction, ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili's scholarly and political role, and Hasbi Ash-Shiddieqy's contribution to Indonesian Islamic legal studies.
Pertanyaan 'apa' menyangkut status keberadaan bidang ini: apakah Aceh, dengan sejarah, bahasa, dan budayanya, cukup khas untuk menjadi objek keilmuan tersendiri. Pertanyaan 'bagaimana' menyangkut cara merakit dan mengikat ilmu-ilmu turunan studi Aceh ke dalam sub-disiplin ilmu sosial dan humaniora, bukan menemukan 'hal baru'. Pertanyaan 'untuk apa' menyangkut fungsi bidang ini bagi pendidikan, kebijakan, dan kesadaran identitas, dan diakui sebagai bagian yang paling membutuhkan penjabaran lanjutan.
Ketiganya diturunkan menjadi susunan bidang. Lapis pertama bersifat meta-teoretis dan teoretis: ontologi, epistemologi, dan aksiologi, akar keilmuan dalam tradisi Aceh, serta dua paradigma yang ditawarkan, yakni Islamisasi ilmu dan Frikatifisasi ilmu. Lapis kedua adalah pembidangan ke dalam sejarah, kosmologi, filsafat, sosiologi, antropologi, sastra, politik, dan sistem religi. Lapis ketiga menggali akar peradaban dan tradisi intelektual; lapis keempat menelaah pergumulan identitas dan isu kontemporer; lapis kelima memperhadapkan Aceh dengan Jawa; dan lapis terakhir mengaitkan kebudayaan dengan pertahanan dan keamanan.
Daftar aktor penentu menunjukkan bahwa ketiga dimensi itu bukan rekaan baru. Setelah generasi Hamzah Fansuri, ar-Raniry, dan al-Singkili, kontribusi berlanjut melalui Seyyed Hussain al-Aidid di Pulau Pinang, P. Ramlee dalam identitas Melayu modern, dan Hasbi Ash-Shiddieqy dalam hukum Islam. Arah studi Aceh adalah menghimpun kekuatan intelektual mereka dalam bingkai satu disiplin.
Tambahan rujukan primer: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. Draft Buku ttg Aceh.doc, naskah tidak bertanggal yang diberikan penulis pada 24 Oktober 2026. Nomor bab dan pembagian bagian belum konsisten; rujukan memakai judul bagian dalam tubuh naskah. Metadata berkas bukan tahun penerbitan. Sejumlah foto dan uraian menyebut 2012 serta masa pascadamai. Pembahasan terkait terdapat pada “Mengapa Acehnologi”. Petikan dan konteksnya tersedia pada halaman bacaan draft yang ditautkan.
The question 'what' concerns the field's mode of existence: whether Aceh, with its history, language and culture, is distinctive enough to be an object of knowledge in its own right. The question 'how' concerns assembling and binding the sciences derived from Aceh studies into sub-disciplines of the social sciences and humanities, rather than discovering 'something new'. The question 'what for' concerns the field's functions for education, policy and consciousness of identity, and is acknowledged as the part most in need of further elaboration.
The three questions are translated into the structure of the field. The first layer is meta-theoretical and theoretical: ontology, epistemology and axiology, the roots of knowledge in Acehnese tradition, and two proposed paradigms, the Islamisation and the Fricativisation of knowledge. The second layer divides the field into history, cosmology, philosophy, sociology, anthropology, literature, politics and religion. The third explores the roots of civilisation and intellectual tradition; the fourth examines struggles over identity and contemporary issues; the fifth sets Aceh against Java; and the last links culture with defence and security.
The list of decisive actors shows that these three dimensions are not a new invention. After the generation of Hamzah Fansuri, ar-Raniry and al-Singkili, the contribution continued through Seyyed Hussain al-Aidid in Penang, P. Ramlee in modern Malay identity and Hasbi Ash-Shiddieqy in Islamic law. The direction of Aceh studies is to gather their intellectual force within the frame of a single discipline.
Additional primary reference: Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad. Acehnologi. Draft Buku ttg Aceh.doc, undated draft supplied by its author on 24 October 2026. Chapter numbering and part divisions are inconsistent; references identify body headings. File metadata is not a publication date. Several captions and passages refer to 2012 and the post-peace period. Related sections: “Mengapa Acehnologi”. Selected extracts and context are linked in the draft reading pages.
Gagasan kunciKey ideas
Tiga pertanyaanThree questions
Apa, bagaimana, dan untuk apa memetakan ontologi, epistemologi, dan aksiologi bidang.What, how and what for map the field's ontology, epistemology and axiology.
Merakit, bukan menemukanAssembling, not inventing
Tugas epistemologis adalah mengikat ilmu turunan ke dalam sub-disiplin.The epistemological task is to bind derived knowledge into sub-disciplines.
Aktor penentuDecisive actors
Dari Hamzah Fansuri hingga Hasbi Ash-Shiddieqy, pemikir Aceh telah menghasilkan ketiga dimensi itu.From Hamzah Fansuri to Hasbi Ash-Shiddieqy, Acehnese thinkers produced all three dimensions.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Dari ketiga pertanyaan filosofis itu, manakah yang paling sulit dijawab oleh sebuah ilmu lokal, dan mengapa?Of the three philosophical questions, which is hardest for a local science to answer, and why?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Apa, bagaimana, dan untuk apa: tiga pertanyaan filosofis studi Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ontologi-epistemologi-aksiologi-studi-aceh/