Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Konsep, kekuasaan, internasionalisasi, hegemoni: ilmu sebagai kuasaConcept, power, internationalisation, hegemony: knowledge as power

Kerangka ini menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan berubah dari perenungan yang mendekatkan manusia kepada Tuhan menjadi alat kuasa global. Prosesnya bergerak melalui empat tahap: konsep, kekuasaan, internasionalisasi, dan hegemoni. Konsep yang lahir dari tradisi Barat diuniversalkan, dipaksakan melalui kuasa, disebarkan lewat sistem global dan peringkat, lalu menghegemoni cara berpikir bangsa lain. Dayah dihadapkan langsung pada keempat tantangan ini.

This framework explains how knowledge shifted from contemplation that draws humans closer to God into an instrument of global power. The process moves through four stages: concept, power, internationalisation and hegemony. Concepts born in the Western tradition are universalised, imposed through power, spread through global systems and rankings, and finally dominate other peoples' ways of thinking. The dayah faces all four challenges directly.

Atribusi sumber: gagasan pada entri ini merupakan pembacaan pemikiran Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad dalam makalah tahun 2012. Horizon 2050 bersifat prospektif, bukan tanggal penulisan atau ramalan pasti.

Dahulu ilmu yang bersifat theoria, yakni perenungan, mendekatkan manusia kepada Pemilik Spirit. Kini ilmu menjadi alat yang dapat membunuh bukan hanya manusia tetapi juga peradaban, walaupun ia juga mendekatkan manusia satu sama lain. Untuk memahami dampaknya, empat unsur yang saling terkait diajukan.

Konsep lahir dari perenungan ilmuwan tentang alam dan dirinya, lalu menjadi pandangan hidup bagi rakyat dan penguasa. Istilah seperti demokrasi, sekularisasi, negara-bangsa, dan pluralisme muncul dari tradisi Barat dan diarahkan menjadi nilai universal; jika tidak ditemukan pada masyarakat lain, nilai itu diarahkan melalui kekuasaan. Dari sini lahir kategori dan peringkat, sehingga ilmu menyerupai kontes kecantikan. Pembacaan ini membedakan spirit dua tradisi: ilmu Barat lahir dari upaya meninggalkan gereja, sedangkan tradisi Islam memandang ilmu sebagai khidmat manusia sebagai khalifah Allah.

Kekuasaan terbentuk ketika negara maju memberi ruang luas kepada ilmuwan untuk melahirkan konsep baru yang memengaruhi bangsa lain, sekaligus ‘dermawan’ membuka kesempatan belajar bagi calon ilmuwan asing. Internasionalisasi menyusul: nasionalisme bergeser menjadi transnasionalisme, globalisasi, dan kosmopolitanisme, standar baku dan peringkat diciptakan, dan negara berkembang harus menyesuaikan kebijakannya dengan kepentingan negara maju. Hegemoni menjadi tahap akhir: bila sebelum Perang Dunia II penguasaan berlangsung atas tanah dan ekonomi, kini ia berlangsung atas cara berpikir, antara lain melalui seminar, konferensi, dan lembaga think tank.

Bagi dayah, kerangka ini menjadi peta tantangan. Dayah adalah kreasi pendidikan Islam tradisional yang otentik; mengutip Seyyed Hossein Nasr, pendidikan Islam tidak pernah memisahkan pelatihan akal dari pelatihan jiwa. Persoalannya, sanggupkah dayah mempertahankan misi itu sambil merumuskan kurikulum yang peka terhadap isu global.

Survei dan peringkat negara terdemokratis atau termaju dikritik menjadikan ilmu seperti kontes kecantikan; dibandingkan pula ilmu di Barat yang lahir dari upaya menjauhi gereja dengan tradisi ilmu Islam yang mendekatkan manusia pada masjid dan menempatkan ilmuwan sebagai khalifah.

Sumber: Bustamam-Ahmad, Kamaruzzaman. 2012. Menatap Masa Depan Dayah dalam Era Transformasi Ilmu Pengetahuan dan Gerakan Keagamaan. Makalah Seminar Ulama Dayah, LSAMA, Banda Aceh, 26–27 Mei 2012; penutup bertanggal Petaling Jaya, 21 April 2012. PDF 10–16.

Source attribution: this entry presents Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad’s argument in a 2012 paper. The 2050 horizon is prospective, not the writing date or a guaranteed prediction.

Once, knowledge as theoria, contemplation, drew humans closer to the Owner of Spirit. Today it has become a tool capable of destroying not only people but civilisations, even as it brings humans closer together. To grasp its impact, four interlinked elements are proposed.

Concepts arise from scientists' reflection on nature and the self, then become worldviews for peoples and rulers. Terms such as democracy, secularisation, the nation-state and pluralism emerged from the Western tradition and were cast as universal values; where they are not found in other societies, they are steered in through power. Categories and rankings follow, turning knowledge into something like a beauty contest. The reading contrasts the spirit of two traditions: Western science arose from an effort to leave the church, whereas the Islamic tradition regards knowledge as service rendered by humans as God's vicegerents.

Power takes shape when advanced states give scientists wide latitude to generate concepts that influence other nations, while ‘generously’ offering study opportunities to foreign scholars-in-the-making. Internationalisation follows: nationalism gives way to transnationalism, globalisation and cosmopolitanism, standards and rankings are created, and developing countries must align their policies with the interests of advanced ones. Hegemony is the final stage: before the Second World War domination was exercised over land and economy; now it is exercised over ways of thinking, through seminars, conferences and think tanks among other means.

For the dayah, this framework maps its challenges. The dayah is an authentic creation of traditional Islamic education; as Seyyed Hossein Nasr puts it, Islamic education never divorced training of the mind from that of the soul. The question is whether the dayah can keep that mission while crafting a curriculum attuned to global issues.

Surveys and rankings of the most democratic or advanced countries are criticised for turning science into a beauty contest; Western science, born of an effort to leave the church, is contrasted with an Islamic scholarly tradition that draws people towards the mosque and casts the scholar as khalifah.

Source: Bustamam-Ahmad, Kamaruzzaman. 2012. Menatap Masa Depan Dayah dalam Era Transformasi Ilmu Pengetahuan dan Gerakan Keagamaan. Makalah Seminar Ulama Dayah, LSAMA, Banda Aceh, 26–27 Mei 2012; penutup bertanggal Petaling Jaya, 21 April 2012. PDF 10–16.

Gagasan kunciKey ideas

Dari theoria ke kuasaFrom theoria to power

Ilmu bergeser dari perenungan menjadi instrumen dominasi.Knowledge shifts from contemplation to an instrument of domination.

Dua spirit ilmuTwo spirits of knowledge

Ilmu Barat menjauh dari gereja, ilmu Islam mendekat ke masjid.Western science moved away from the church; Islamic learning draws towards the mosque.

Hegemoni atas pikiranHegemony over minds

Penjajahan model baru berlangsung melalui teori, standar, dan peringkat.A new colonialism works through theories, standards and rankings.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana sebuah lembaga pendidikan tradisional dapat terlibat dalam ilmu global tanpa terjebak dalam hegemoninya?How can a traditional educational institution engage with global knowledge without being captured by its hegemony?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Konsep, kekuasaan, internasionalisasi, hegemoni: ilmu sebagai kuasa”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/empat-tantangan-ilmu-pengetahuan/