Rumoh Krueng dan makam Tun Sri Lanang di SamalangaRumoh Krueng and the tomb of Tun Sri Lanang in Samalanga
Rumoh Krueng adalah bekas kediaman resmi Ampon Chik Samalanga di Gampong Meunasah Lueng, Mukim Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, yang oleh balai pelestarian cagar budaya dikaitkan dengan Tun Sri Lanang. Di halamannya terdapat makam yang oleh keluarga disebut makam Jaku dan oleh masyarakat dikenal sebagai makam Tok Dad, dikelilingi makam para uleebalang keturunannya yang memerintah Samalanga hingga 1948. Bersama Masjid Kuta Blang dan tradisi lisan setempat, situs ini menjadi bukti fisik kehadiran Tun Sri Lanang di Aceh.
Rumoh Krueng is the former official residence of the Ampon Chik of Samalanga in Gampong Meunasah Lueng, Mukim Kuta Blang, Bireuen regency, which the heritage preservation office links to Tun Sri Lanang. In its grounds is a tomb the family calls makam Jaku and local people know as the tomb of Tok Dad, surrounded by the graves of his uleebalang descendants who ruled Samalanga until 1948. Together with the Kuta Blang mosque and local oral tradition, the site is physical evidence of Tun Sri Lanang's presence in Aceh.
Rumoh Krueng berdiri di tengah Gampong Meunasah Lueng, Mukim Kuta Blang, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Masyarakat menyebutnya istana lama atau bekas kediaman resmi Ampon Chik, kepala kenegerian Samalanga. Menurut Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh, bangunan ini merupakan istana yang ditempati Tun Sri Lanang pada 1613–1659, dan makam di halamannya tercatat dalam daftar situs cagar budaya Aceh dengan nomor urut 66.
Bangunan ini adalah rumah panggung kayu beratap ijuk yang menghadap ke selatan, dengan denah persegi panjang berukuran 18 × 12,17 meter. Bentuknya memadukan rumah tradisional Aceh dan rumah Melayu: atapnya bertipe tampung lima, terdapat dua serambi, yaitu seuramoe keue (serambi depan) untuk tamu laki-laki dan seuramoe likoet (serambi belakang) untuk tamu perempuan, dan di bagian tengah terdapat kamar tidur yang dalam bahasa Aceh disebut juree. Warnanya didominasi putih dengan aksen hijau. Atap ijuk dan dinding kayunya tampak kontras dengan bangunan beratap seng dan berdinding semen di sekitarnya.
Bangunan ini telah mengalami beberapa tahap perawatan. Foto-foto M. Adli Abdullah tahun 2003 memperlihatkan rumah itu sebelum diperbaiki, sedangkan foto tahun 2015 memperlihatkannya setelah dipugar. Sumber yang sama menyebut atapnya dari ijuk dan, di bagian lain, dari rumbia, perbedaan kecil yang mungkin mencerminkan penggantian bahan atap dari waktu ke waktu. Sebagai rumah kayu di iklim tropis, Rumoh Krueng hampir pasti telah berulang kali diperbarui sejak abad ke-17, sehingga yang bertahan barangkali lebih merupakan bentuk, tata ruang dan kedudukannya sebagai pusat kenegerian daripada material aslinya. Hal ini penting untuk menilai klaim bahwa bangunan ini adalah istana yang ditempati Tun Sri Lanang sendiri.
Makam Tun Sri Lanang terletak dalam kompleks Rumoh Krueng. Keluarga uleebalang Samalanga menyebutnya makam Jaku, dari "jaja ku", leluhur kami, dan sebelum revolusi sosial 1945 mengadakan tahlil untuknya setiap tahun; masyarakat setempat lebih mengenalnya sebagai makam Tok Dad. Menurut Cut Nyak Naimah, keturunan yang memelihara makam itu, di sekelilingnya terdapat tujuh makam Ampon Chik lain, antara lain Ampon Chik Ali Basyah, Pocut Meuligoe dan Teuku Chik Muda Panglima Perkasa. Bentuk nisannya mirip nisan Bendahara Seri Maharaja Tun Habib Abdul Majid (wafat 1697), keturunannya, di Kota Tinggi, Johor. Foto-foto M. Adli Abdullah tahun 1999 memperlihatkan makam sebelum diperbaiki, sedangkan pada 2015 pagarnya telah dipugar.
Di sekitar makam terdapat makam kaum kerabat dan para waris Tun Sri Lanang yang memerintah Samalanga sesudahnya. Silsilah keturunan Datuk Bendahara Tun Muhammad Sarilanang, yang disusun Lembaga Kebudayaan Atjeh pada 1958 berdasarkan silsilah asli Teuku Chik Samalanga dan sarakata Sultan Aceh, mencatat Tun Sri Lanang sebagai uleebalang Samalanga pertama (1022–1069 H/1613–1659 M), lalu Teuku Chik di Blang Panglima Perkasa (1659–1697), Teuku Chik Idris Perkasa (1697–1759), Teuku Chik Ja'far Alam Syah Puteh atau Teungku di Bayu (1759–1819), Teuku Chik Keuleumbak Jauhar Perkasa (1819–1838), Teuku Chik Ali Jauhar Perkasa (1838–1873), Teuku Chik Muda Bugeh (1873–1896), Teuku Chik M. Ali Basyah (1896–1920) dan Teuku Chik Mohd Baharom Syah (1920–1948). Garis sembilan uleebalang ini menjadikan kompleks Rumoh Krueng bukan hanya makam seorang tokoh, melainkan nekropolis sebuah dinasti lokal yang bertahan lebih dari tiga abad hingga revolusi sosial.
Lokasi makam ini lama diperdebatkan. Wan Abdul Wahid bin Wan Haji Hassan (2001) menulis bahwa Tun Sri Lanang wafat di Aceh dekat makam raja-raja di Banda Aceh, tetapi penelusuran M. Adli Abdullah di kompleks Kandang XII, makam Lamlagang yang diyakini sebagai makam keluarga raja Perak, dan Kandang Darussalam tempat Sultan Iskandar Thani dimakamkan tidak menemukan nisannya. Silsilah Lembaga Kebudayaan Atjeh tahun 1958 menyebut Lancok sebagai tempat makamnya, sedangkan sebagian tradisi lisan Samalanga menyebut ia sempat kembali ke Johor lalu pulang ke Aceh menjelang wafat. Penelitian lapangan tahun 2013–2015 menempatkan makam itu di kompleks Rumoh Krueng.
Tradisi lisan Samalanga menambahkan lapisan makna tersendiri. Seorang narasumber berusia sembilan puluh delapan tahun di Gampong Blang Garang menuturkan bahwa Tok Dad adalah orang setempat yang diutus raja Aceh memerangi Portugis di Johor, dan karena keberhasilannya diberi kerajaan Samalanga dari barat Krueng Ulim hingga timur Krueng Jeumpa, serta diminta memegang pedang agama agar anak cucu tidak menjadi kafir. Narasumber lain menyebut bahwa raja Samalanga berasal dari Johor Lama dan bahwa Tun Sri Lanang adalah "ureung malem dan le akai", orang alim dan banyak akal. Dua versi ini, yang satu menjadikannya putra daerah dan yang lain pendatang dari Johor, memperlihatkan bagaimana ingatan lokal menyerap tokoh asing ke dalam identitas setempat.
Lanskap sekitarnya memperkuat jejak Melayu di Samalanga. Sekitar dua ratus meter dari makam berdiri Masjid Kuta Blang, masjid kenegerian lama, dengan kubah bersegi yang menyerupai masjid-masjid kesultanan Melayu seperti Masjid Azizi di Tanjung Pura, serta lengkung pintu dan jendela berterali yang menurut arsitek Lazuardi menyerupai masjid Sultan Abu Bakar di Johor. Di Samalanga juga terdapat Kampung Bendahara, yang menurut Teuku Iskandar Bendahara adalah tempat pertama Tun Sri Lanang menetap setibanya di Aceh. Jauh lebih tua dari semua itu, arca Ma Sihe berukuran 3,60 × 1,10 meter di Blang Dalam, Kecamatan Bandar Dua (kini Pidie Jaya), menjadi saksi masa pra-Islam kawasan ini; arca itu kini rusak dan ditelungkupkan.
Pembangunan masjid kenegerian oleh Tun Sri Lanang dipandang sejalan dengan kebijakan Sultan Iskandar Muda yang menjadikan masjid simbol berkembangnya Islam, sebagaimana dicatat Dien Madjid, sekaligus sarana musyawarah bagi persoalan sosial umat. Kubah bersegi Masjid Kuta Blang juga dibandingkan dengan masjid di Stabat, bekas wilayah kesultanan Melayu di Sumatra Timur, dan meskipun jumlah seginya tidak sama, langgamnya dinilai Melayu. Kehadiran arsitektur Melayu di tengah masyarakat Aceh ini dibaca sebagai sumbangan Tun Sri Lanang dalam memperkenalkan identitas Melayu ke dalam budaya Samalanga, berdampingan dengan dayah-dayah yang kemudian menjadikan kawasan ini kota santri.
Situs ini kini menjadi bagian dari ingatan bersama Aceh dan Malaysia. Pemerintah Indonesia sejak 8 Desember 2011 menetapkan bekas kenegerian Samalanga, yang kini terbagi antara Kabupaten Bireuen dan Pidie Jaya, sebagai kawasan wisata sejarah Melayu Nusantara, sementara di Johor setiap Juni diadakan pengisahan sejarah Tun Sri Lanang. Keturunannya di Johor, Pahang dan Terengganu disebut telah lama mencari makam leluhur mereka.
Bagi kajian Aceh, situs Rumoh Krueng adalah contoh tentang bagaimana sejarah tokoh besar dapat ditelusuri melalui perpaduan sumber material, genealogis dan lisan. Identifikasinya sejauh ini bertumpu pada penetapan Balai Pelestarian Cagar Budaya, silsilah 1958, kesaksian keturunan dan perbandingan tipologi nisan, bukan pada inskripsi yang terbaca. Karena itu, persoalan terbuka yang tersisa meliputi pembacaan epigrafis atas nisan, survei arkeologis atas kompleks makam para uleebalang, kajian arsitektural atas umur dan tahap pembangunan Rumoh Krueng dan Masjid Kuta Blang, serta perbandingan sistematis dengan makam keturunan Tun Sri Lanang di Johor. Penyelesaian persoalan ini akan menentukan sejauh mana Samalanga dapat diakui sebagai simpul warisan bersama Aceh dan dunia Melayu.
Rumoh Krueng stands in the middle of Gampong Meunasah Lueng, Mukim Kuta Blang, Samalanga subdistrict, Bireuen regency. Local people call it the old palace, the former official residence of the Ampon Chik, head of the kenegerian of Samalanga. According to the Aceh Cultural Heritage Conservation Office, the building is the palace occupied by Tun Sri Lanang in 1613–1659, and the tomb in its grounds is listed as number 66 in the register of cultural heritage sites in Aceh.
The building is a raised wooden house with a palm-fibre (ijuk) roof facing south, on a rectangular plan measuring 18 × 12.17 metres. Its form combines the traditional Acehnese house with the Malay house: the roof is of the tampung lima type, there are two verandas, the seuramoe keue (front veranda) for male guests and the seuramoe likoet (rear veranda) for female guests, and in the centre lies the sleeping chamber called juree in Acehnese. White predominates, with green accents. Its fibre roof and timber walls contrast with the surrounding buildings of corrugated iron and cement.
The building has undergone several phases of repair. M. Adli Abdullah's photographs of 2003 show the house before restoration, while those of 2015 show it after renovation. The same source describes its roof as palm fibre and, elsewhere, as thatch, a small discrepancy that may reflect the replacement of roofing material over time. As a timber house in a tropical climate, Rumoh Krueng has almost certainly been renewed many times since the seventeenth century, so what survives is perhaps its form, its spatial plan and its standing as the seat of the district rather than its original fabric. This matters in assessing the claim that this was the palace occupied by Tun Sri Lanang himself.
The tomb of Tun Sri Lanang lies within the Rumoh Krueng compound. The uleebalang family of Samalanga called it makam Jaku, from "jaja ku", our ancestor, and before the social revolution of 1945 held an annual tahlil for him; local people know it rather as the tomb of Tok Dad. According to Cut Nyak Naimah, the descendant who tends it, it is surrounded by seven other Ampon Chik graves, among them those of Ampon Chik Ali Basyah, Pocut Meuligoe and Teuku Chik Muda Panglima Perkasa. Its headstone resembles that of his descendant, the Bendahara Seri Maharaja Tun Habib Abdul Majid (d. 1697), at Kota Tinggi in Johor. Photographs taken by M. Adli Abdullah in 1999 show the tomb before restoration, while by 2015 its enclosure had been rebuilt.
Around the tomb lie the graves of Tun Sri Lanang's kin and heirs who ruled Samalanga after him. The genealogy of the descendants of Datuk Bendahara Tun Muhammad Sarilanang, compiled by the Lembaga Kebudayaan Atjeh in 1958 from the original genealogy of Teuku Chik Samalanga and the sarakata of the Sultan of Aceh, records Tun Sri Lanang as the first uleebalang of Samalanga (1022–1069 AH/1613–1659 CE), followed by Teuku Chik di Blang Panglima Perkasa (1659–1697), Teuku Chik Idris Perkasa (1697–1759), Teuku Chik Ja'far Alam Syah Puteh or Teungku di Bayu (1759–1819), Teuku Chik Keuleumbak Jauhar Perkasa (1819–1838), Teuku Chik Ali Jauhar Perkasa (1838–1873), Teuku Chik Muda Bugeh (1873–1896), Teuku Chik M. Ali Basyah (1896–1920) and Teuku Chik Mohd Baharom Syah (1920–1948). This line of nine uleebalang makes the Rumoh Krueng complex not merely the tomb of one figure but the necropolis of a local dynasty that endured for over three centuries until the social revolution.
The location of the tomb was long disputed. Wan Abdul Wahid bin Wan Haji Hassan (2001) wrote that Tun Sri Lanang died in Aceh near the royal tombs of Banda Aceh, but M. Adli Abdullah's survey of the Kandang XII complex, the Lamlagang graves believed to belong to the Perak royal family, and Kandang Darussalam, where Sultan Iskandar Thani is buried, found no headstone of his. The 1958 genealogy of the Lembaga Kebudayaan Atjeh names Lancok as his burial place, while some Samalanga oral traditions say he returned to Johor for a time and came back to Aceh shortly before his death. Fieldwork in 2013–2015 placed the tomb in the Rumoh Krueng compound.
Samalanga oral tradition adds a layer of its own. A ninety-eight-year-old informant in Gampong Blang Garang related that Tok Dad was a local man sent by the king of Aceh to fight the Portuguese in Johor and, for his success, given the kingdom of Samalanga from west of the Krueng Ulim to east of the Krueng Jeumpa and asked to hold the sword of religion so that his descendants would not become unbelievers. Another informant said that the ruler of Samalanga came from Old Johor and that Tun Sri Lanang was "ureung malem dan le akai", learned and resourceful. These two versions, one making him a son of the soil and the other a newcomer from Johor, show how local memory absorbs a foreign figure into local identity.
The surrounding landscape reinforces the Malay imprint on Samalanga. Some two hundred metres from the tomb stands the Kuta Blang mosque, the old district mosque, whose faceted dome resembles those of Malay sultanate mosques such as the Azizi mosque at Tanjung Pura, and whose arched, grilled doors and windows, according to the architect Lazuardi, resemble the Sultan Abu Bakar mosque in Johor. Samalanga also has a Kampung Bendahara, which according to Teuku Iskandar Bendahara was the first place Tun Sri Lanang settled on arriving in Aceh. Far older than all of these, the Ma Sihe statue, measuring 3.60 × 1.10 metres, at Blang Dalam in Bandar Dua subdistrict (now Pidie Jaya), bears witness to the area's pre-Islamic past; it is now damaged and has been turned face down.
The building of district mosques by Tun Sri Lanang is seen as consistent with Sultan Iskandar Muda's policy of making the mosque a symbol of the spread of Islam, as Dien Madjid notes, and a forum for deliberation on the community's social affairs. The faceted dome of the Kuta Blang mosque has also been compared with the mosque at Stabat, in a former Malay sultanate of East Sumatra, and although the number of facets differs, its style is judged Malay. The presence of Malay architecture amid Acehnese society is read as Tun Sri Lanang's contribution in introducing Malay identity into Samalanga culture, alongside the dayah that later made the area a town of santri.
The site has become part of a memory shared by Aceh and Malaysia. Since 8 December 2011 the Indonesian government has designated the former kenegerian of Samalanga, now divided between Bireuen and Pidie Jaya regencies, as a heritage tourism area of Malay history in the archipelago, while in Johor a recital of Tun Sri Lanang's story is held every June. His descendants in Johor, Pahang and Terengganu are said to have long searched for their ancestor's grave.
For Aceh studies the Rumoh Krueng site shows how the history of a major figure can be traced through a combination of material, genealogical and oral sources. Its identification so far rests on the designation by the Cultural Heritage Preservation Office, the 1958 genealogy, the testimony of descendants and the typological comparison of headstones, not on a legible inscription. Open questions therefore include an epigraphic reading of the headstones, an archaeological survey of the uleebalang graves, an architectural study of the age and building phases of Rumoh Krueng and the Kuta Blang mosque, and a systematic comparison with the graves of Tun Sri Lanang's descendants in Johor. Resolving them will determine how far Samalanga can be recognised as a node of heritage shared by Aceh and the Malay world.
Gagasan kunciKey ideas
Istana Aceh-MelayuAn Aceh-Malay palace
Rumoh Krueng memadukan rumah panggung Aceh dengan unsur rumah Melayu.Rumoh Krueng combines the Acehnese stilt house with Malay elements.
Nekropolis dinastiA dynastic necropolis
Makam Tun Sri Lanang dikelilingi makam sembilan generasi uleebalang Samalanga.Tun Sri Lanang's tomb is surrounded by the graves of nine generations of Samalanga uleebalang.
Nama yang berlapisLayered names
Makam Jaku bagi keluarga dan Tok Dad bagi masyarakat mencerminkan dua jalur ingatan.Makam Jaku for the family and Tok Dad for the community reflect two lines of memory.
Putra daerah atau pendatangNative son or newcomer
Tradisi lisan Samalanga menyimpan versi yang menjadikan Tun Sri Lanang orang setempat.Samalanga oral tradition preserves a version that makes Tun Sri Lanang a local man.
Warisan bersamaShared heritage
Situs ini menghubungkan Samalanga dengan Johor, Pahang dan Terengganu.The site links Samalanga with Johor, Pahang and Terengganu.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Dapatkah kajian epigrafi dan tipologi nisan memastikan pertanggalan makam Tun Sri Lanang dan hubungannya dengan nisan para bendahara di Kota Tinggi?Could epigraphic and typological study of the headstones establish the date of Tun Sri Lanang's tomb and its relationship to the headstones of the bendahara at Kota Tinggi?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Rumoh Krueng dan makam Tun Sri Lanang di Samalanga”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/rumoh-krueng-dan-makam-tun-sri-lanang/