Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Hasanuddin Yusuf Adan

Lahir 1961; aktif sejak 1990-anBorn 1961; active since the 1990s

Hasanuddin Yusuf Adan adalah guru besar Fiqh Siyasah di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kelahiran Pidie, yang meneliti sistem pemerintahan Islam di Aceh, syariat dan politik lokal, serta kepemimpinan Teungku Muhammad Dawud Beureu-eh. Pada 2004 ia, sebagai dosen Fakultas Syari'ah, termasuk Tim Penulis Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.

Hasanuddin Yusuf Adan is a professor of Fiqh Siyasah (Islamic political jurisprudence) at UIN Ar-Raniry Banda Aceh, born in Pidie, whose research covers Islamic systems of government in Aceh, sharia and local politics, and the leadership of Teungku Muhammad Dawud Beureu-eh. In 2004, as a lecturer of the Faculty of Shari'ah, he was a member of the writing team of the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.

Hasanuddin Yusuf Adan lahir di Meunasah Jumphoh, Kecamatan Mutiara, Pidie, pada 19 Juli 1961. Biografi dalam Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004) mencatat jalur pendidikan yang memadukan madrasah negeri dan dayah. Ia menempuh MIN, MTsAIN, PGAN 4 Tahun, dan MAN, kemudian Fakultas Syari'ah IAIN Ar-Raniry. Selain itu ia belajar selama lima tahun di Dayah Po Teumeureuhom Pu-uek, Kembang Tanjung. Pendidikan pascasarjananya ditempuh di Malaysia: Master of Comparative Law di Kulliyyah of Laws, International Islamic University Malaysia (IIUM), pada 1998, dan MA di Fakulti Syariah Universiti Malaya. Tesisnya di Universiti Malaya (2000) mengkaji pembaharuan Teungku Muhammad Dawud Beureu-eh sebagai ulama dan pemimpin.

Pada 2004 ia tercatat sebagai dosen Fakultas Syari'ah IAIN Ar-Raniry. Sekitar 2010 ia menjabat Pembantu Dekan III Fakultas Syari'ah, yang membidangi kemahasiswaan. Ia kemudian meraih jabatan guru besar dalam bidang Fiqh Siyasah dan kini bergelar Prof. Dr. Tgk., MCL, MA. Di luar kampus, ia aktif di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Provinsi Aceh. Ia menjabat Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh hingga 2020, ketika kepemimpinan beralih kepada Muhammad AR, dan kemudian menjadi Ketua Majelis Syura organisasi itu. Pada Juni 2025 ia menjadi narasumber dalam Muzakarah Ahlul Halli wal Aqdi di Banyuasin, Sumatera Selatan.

Karya-karyanya berpusat pada hubungan Islam, negara, dan politik di Aceh. Buku Islam dan Sistem Pemerintahan di Aceh Masa Kerajaan Aceh Darussalam terbit di Lembaga Naskah Aceh pada 2013, dan Syari'at Islam dan Politik Lokal di Aceh terbit di Adnin Foundation pada 2016. Bersama Husni A. Jalil ia menulis tentang Mosi Integral Mohammad Natsir (2019), kajian tentang peristiwa parlementer 1950 yang mengembalikan Indonesia ke bentuk negara kesatuan. Ia juga menulis esai di Sabili.id sejak 2023 dan kolom berbahasa Aceh.

Sumbangan Hasanuddin Yusuf Adan bagi studi Aceh terletak pada kajian fiqh siyasah yang bertolak dari sejarah Aceh sendiri. Penelitiannya tentang Dawud Beureu-eh menyentuh salah satu tokoh paling menentukan dalam politik Aceh abad ke-20, yang memimpin Persatuan Ulama Seluruh Aceh dan gerakan Darul Islam di Aceh. Kajiannya tentang sistem pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam dan politik lokal pasca-syariat menghubungkan masa kesultanan dengan perdebatan kontemporer tentang otonomi khusus dan pelaksanaan syariat Islam. Kolom-kolomnya dalam bahasa Aceh juga ikut menjaga bahasa daerah sebagai medium wacana keagamaan.

Perpaduan pendidikan dayah selama lima tahun dengan studi hukum perbandingan di Malaysia memberi warna khas pada karya-karyanya. Ia menulis dari dalam tradisi keulamaan Aceh, sekaligus memakai perangkat kajian hukum modern untuk menilai institusi politik Islam.

Dalam Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press, 2004), Hasanuddin Yusuf Adan termasuk anggota Tim Penulis IAIN Ar-Raniry dari Fakultas Syari'ah. Bagian "Sekilas Tentang Penulis" mencatat kelahirannya di Pidie, jenjang madrasahnya, pendidikan dayah lima tahun, dan dua gelar magisternya di Malaysia. Bersama rekan Fakultas Syari'ah seperti Analiansyah dan Jamhuri Ungel, serta Muhammad AR yang kelak meneruskan kepemimpinannya di Dewan Dakwah Aceh, ia mewakili lapis akademisi yang memadukan pendidikan dayah, kampus, dan organisasi dakwah.

Hasanuddin Yusuf Adan was born in Meunasah Jumphoh, Mutiara subdistrict, Pidie, on 19 July 1961. The biography in the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004) records an educational path combining state madrasahs and the dayah. He attended MIN, MTsAIN, the four-year PGAN teacher school and MAN, followed by the Faculty of Shari'ah at IAIN Ar-Raniry. He also studied for five years at Dayah Po Teumeureuhom Pu-uek, Kembang Tanjung. His graduate studies were in Malaysia: a Master of Comparative Law at the Kulliyyah of Laws, International Islamic University Malaysia (IIUM), in 1998, and an MA at the Faculty of Shari'ah, University of Malaya. His University of Malaya thesis (2000) examined the reform of Teungku Muhammad Dawud Beureu-eh as an ulama and leader.

In 2004 he was listed as a lecturer of the Faculty of Shari'ah at IAIN Ar-Raniry. Around 2010 he served as Vice Dean III of the Faculty of Shari'ah, responsible for student affairs. He later attained the rank of professor in Fiqh Siyasah and now holds the title Prof. Dr. Tgk., MCL, MA. Outside the university he is active in the Aceh branch of the Indonesian Islamic Propagation Council (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia). He was General Chair of Dewan Dakwah Aceh until 2020, when leadership passed to Muhammad AR, and then became Chair of the organisation's Majelis Syura. In June 2025 he was a speaker at the Muzakarah Ahlul Halli wal Aqdi in Banyuasin, South Sumatra.

His works centre on the relation between Islam, the state and politics in Aceh. Islam dan Sistem Pemerintahan di Aceh Masa Kerajaan Aceh Darussalam was published by Lembaga Naskah Aceh in 2013, and Syari'at Islam dan Politik Lokal di Aceh by Adnin Foundation in 2016. With Husni A. Jalil he wrote on the Integral Motion of Mohammad Natsir (2019), a study of the 1950 parliamentary event that returned Indonesia to a unitary state. He has also written essays for Sabili.id since 2023 and columns in Acehnese.

Hasanuddin Yusuf Adan's contribution to Aceh studies lies in a fiqh siyasah grounded in Aceh's own history. His research on Dawud Beureu-eh addresses one of the most decisive figures in twentieth-century Acehnese politics, who led the All-Aceh Ulama Association (PUSA) and the Darul Islam movement in Aceh. His studies of the system of government of the Aceh Darussalam sultanate and of local politics after the introduction of sharia link the sultanate era with contemporary debates on special autonomy and the implementation of Islamic law. His columns in Acehnese also help keep the regional language alive as a medium of religious discourse.

The combination of five years of dayah education with comparative legal studies in Malaysia gives his work a distinctive character. He writes from within the Acehnese ulama tradition while using the tools of modern legal scholarship to assess Islamic political institutions.

In the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press, 2004), Hasanuddin Yusuf Adan was a member of the IAIN Ar-Raniry Writing Team from the Faculty of Shari'ah. The "Sekilas Tentang Penulis" section records his birth in Pidie, his madrasah schooling, his five years of dayah education and his two master's degrees in Malaysia. With Faculty of Shari'ah colleagues such as Analiansyah and Jamhuri Ungel, and with Muhammad AR, who later succeeded him at the head of Dewan Dakwah Aceh, he represents a layer of scholars who combine dayah education, the university and dakwah organisations.

Gagasan kunciKey ideas

Fiqh siyasah berakar sejarah AcehFiqh siyasah rooted in Acehnese history

Ia mengkaji sistem pemerintahan Islam dari masa Kerajaan Aceh Darussalam hingga politik lokal pasca-syariat.He studies Islamic government from the Aceh Darussalam sultanate to local politics after the introduction of sharia.

Ulama sebagai pemimpin politikUlama as political leaders

Tesisnya menelaah pembaharuan Teungku Muhammad Dawud Beureu-eh sebagai ulama dan pemimpin.His thesis examines the reform of Teungku Muhammad Dawud Beureu-eh as ulama and leader.

Islam dan negara kesatuanIslam and the unitary state

Ia menulis tentang Mosi Integral Mohammad Natsir sebagai titik temu Islam politik dan negara kesatuan.He wrote on Mohammad Natsir's Integral Motion as a meeting point of political Islam and the unitary state.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana pengalaman sejarah Kerajaan Aceh Darussalam dan kepemimpinan Dawud Beureu-eh membentuk perdebatan tentang syariat dan politik lokal di Aceh hari ini?How do the historical experience of the Aceh Darussalam sultanate and the leadership of Dawud Beureu-eh shape today's debates on sharia and local politics in Aceh?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Hasanuddin Yusuf Adan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hasanuddin-yusuf-adan/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →