Aslam Nur
Lahir 1964; aktif sejak 1990Born 1964; active since 1990
Aslam Nur adalah dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, lulusan antropologi Australian National University, yang meneliti ulama, ritual, pariwisata, dan batas antara agama dan budaya di Aceh. Pada 2004 ia termasuk Tim Penulis Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.
Aslam Nur is a lecturer in Islamic History and Culture at the Faculty of Adab and Humanities, UIN Ar-Raniry, trained in anthropology at the Australian National University, who studies ulama, ritual, tourism and the boundary between religion and culture in Aceh. In 2004 he was a member of the writing team of the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.
Aslam Nur lahir di Banda Aceh pada 25 Januari 1964. Menurut biografi dalam Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004), ia menyelesaikan studi sarjana (Drs.) di Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry pada 1990. Ia kemudian menempuh program Master of Arts dalam bidang antropologi di Australian National University (ANU), Canberra, dan lulus pada 1996. Kombinasi pendidikan sejarah kebudayaan Islam di Darussalam dan antropologi di Australia memberi arah khas pada kariernya, karena ia membaca masyarakat Aceh melalui pendekatan lapangan dan konsep-konsep antropologi agama.
Di IAIN, kemudian UIN Ar-Raniry, Aslam Nur mengajar di Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab, yang kemudian bernama Fakultas Adab dan Humaniora. Sekitar 2010 ia menjabat Pembantu Dekan I Fakultas Adab, posisi yang membidangi urusan akademik. Pada 2004 buku ensiklopedi mencatatnya sebagai dosen Fakultas Adab yang aktif menulis di jurnal ilmiah.
Karya-karyanya memperlihatkan perhatian yang konsisten pada ulama dan kehidupan keagamaan masyarakat. Pada 2011 ia menulis tentang ulama dalam dinamika sosial dan budaya masyarakat Aceh di awal abad ke-21, dan pada 2013 tentang Islam dan dunia kepariwisataan di Aceh. Dalam jurnal Adabiya ia membahas kearifan lokal dalam penanggulangan aliran sesat di Aceh (2016) dan garis batas antara agama dan budaya dalam perspektif antropologi (2017). Ia juga meneliti tradisi Papar di Simeulue (2021), ritual Thaipusam di Banda Aceh sebagai penanda identitas etnis Tamil Hindu (2022), serta kehidupan buruh perempuan di perkebunan sawit Nagan Raya (2023). Pada 2022, bersama Safrina dan Fauziah Nurdin, ia menulis "Abu Hasan Krueng Kalee: The Charismatic Ulama of Aceh" dalam jurnal IJIHC terbitan UIN Ar-Raniry.
Sumbangan Aslam Nur bagi studi Aceh terletak pada perluasan objek kajian dari teks keagamaan ke praktik sosial. Tulisannya tentang Teungku Hasan Krueng Kalee membaca kharisma ulama dayah sebagai gejala sosial, bukan hanya riwayat keilmuan, sehingga terhubung dengan kajian tentang otoritas ulama di Aceh. Kajiannya tentang Thaipusam dan komunitas Tamil juga mengingatkan bahwa Banda Aceh memiliki keragaman agama dan etnis yang jarang mendapat tempat dalam historiografi arus utama. Sementara itu, tulisannya tentang batas agama dan budaya menyentuh perdebatan klasik dalam antropologi Islam tentang hubungan adat dan syariat, yang dalam konteks Aceh sering dirumuskan melalui ungkapan adat ngon hukom.
Pendekatan Aslam Nur juga memperkaya cara Acehnologi membaca para ulama yang menjadi subjek ensiklopedi. Bila sebagian besar bab dalam buku itu menelusuri riwayat dan gagasan ulama melalui teks, kajian antropologinya mengajak pembaca melihat bagaimana kharisma, ritual, dan identitas dibentuk dan diterima dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, dari Banda Aceh hingga Simeulue dan Nagan Raya.
Dalam Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press, 2004), Aslam Nur tercatat sebagai salah satu anggota Tim Penulis IAIN Ar-Raniry. Bagian "Sekilas Tentang Penulis" menyebut kelahirannya di Banda Aceh, gelar sarjana dari Fakultas Adab pada 1990, gelar MA antropologi dari ANU pada 1996, dan keaktifannya menulis di jurnal ilmiah. Bersama rekan Fakultas Adab seperti Azman Ismail, Misri A. Muchsin, dan Idris Badal, ia mewakili lapis pengajar humaniora yang ikut mendokumentasikan pemikiran ulama Aceh abad ke-19 dan ke-20.
Aslam Nur was born in Banda Aceh on 25 January 1964. According to the biography in the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004), he completed his undergraduate degree (Drs.) at the Faculty of Adab of IAIN Ar-Raniry in 1990. He then took a Master of Arts in anthropology at the Australian National University (ANU) in Canberra, graduating in 1996. The combination of training in Islamic cultural history at Darussalam and anthropology in Australia gave his career a distinctive direction, as he reads Acehnese society through fieldwork and concepts drawn from the anthropology of religion.
At IAIN, later UIN Ar-Raniry, Aslam Nur teaches in the Islamic History and Culture (SKI) programme of the Faculty of Adab, later named the Faculty of Adab and Humanities. Around 2010 he served as Vice Dean I of the Faculty of Adab, the post responsible for academic affairs. In 2004 the encyclopaedia recorded him as a Faculty of Adab lecturer who wrote actively for academic journals.
His publications show a consistent interest in ulama and religious life. In 2011 he wrote on ulama in the social and cultural dynamics of Acehnese society in the early twenty-first century, and in 2013 on Islam and tourism in Aceh. In the journal Adabiya he discussed local wisdom in countering deviant sects in Aceh (2016) and the boundary between religion and culture from an anthropological perspective (2017). He has also studied the Papar tradition of Simeulue (2021), the Thaipusam ritual in Banda Aceh as a marker of Tamil Hindu ethnic identity (2022), and the lives of women labourers on oil palm plantations in Nagan Raya (2023). In 2022, with Safrina and Fauziah Nurdin, he wrote "Abu Hasan Krueng Kalee: The Charismatic Ulama of Aceh" in the UIN Ar-Raniry journal IJIHC.
Aslam Nur's contribution to Aceh studies lies in widening the object of study from religious texts to social practice. His article on Teungku Hasan Krueng Kalee reads the charisma of a dayah scholar as a social phenomenon, not only as a record of learning, and so connects with scholarship on ulama authority in Aceh. His work on Thaipusam and the Tamil community is a reminder that Banda Aceh has a religious and ethnic diversity that rarely features in mainstream historiography. His writing on the boundary between religion and culture, meanwhile, touches a classic debate in the anthropology of Islam on the relation between custom and sharia, which in Aceh is often expressed through the phrase adat ngon hukom.
Aslam Nur's approach also enriches the way Acehnologi reads the ulama who are the subjects of the encyclopaedia. Where most chapters of that book trace the lives and ideas of ulama through texts, his anthropological work invites readers to see how charisma, ritual and identity are formed and received in the everyday life of communities, from Banda Aceh to Simeulue and Nagan Raya.
In the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press, 2004), Aslam Nur is listed as a member of the IAIN Ar-Raniry Writing Team. The "Sekilas Tentang Penulis" section notes his birth in Banda Aceh, his undergraduate degree from the Faculty of Adab in 1990, his MA in anthropology from ANU in 1996, and his active writing in academic journals. With Faculty of Adab colleagues such as Azman Ismail, Misri A. Muchsin and Idris Badal, he represents the humanities teachers who helped document the thought of Acehnese ulama of the nineteenth and twentieth centuries.
Gagasan kunciKey ideas
Batas agama dan budayaThe boundary of religion and culture
Ia menelaah secara antropologis di mana ajaran agama berakhir dan praktik budaya dimulai dalam masyarakat Aceh.He examines anthropologically where religious teaching ends and cultural practice begins in Acehnese society.
Kharisma ulamaUlama charisma
Ia membaca otoritas ulama dayah seperti Hasan Krueng Kalee sebagai gejala sosial.He reads the authority of dayah ulama such as Hasan Krueng Kalee as a social phenomenon.
Keragaman di AcehDiversity in Aceh
Kajiannya tentang Thaipusam dan tradisi Simeulue menyoroti keragaman etnis dan ritual di Aceh.His studies of Thaipusam and Simeulue traditions highlight ethnic and ritual diversity in Aceh.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Di mana garis batas antara ajaran agama dan praktik budaya dalam kehidupan keagamaan masyarakat Aceh?Where does the boundary lie between religious teaching and cultural practice in the religious life of Acehnese society?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Aslam Nur”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/aslam-nur/