Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Kenduri Iduladha dan haul di makam Habib Muda, PeuleukungThe Eid al-Adha kenduri and haul at Habib Muda’s grave, Peuleukung

Sejak 1970-an; diamati Desember 2008 dan pertengahan 2009Since the 1970s; observed December 2008 and mid-2009

Di makam Habib Muda di Peuleukung, ribuan pengikut Habib Seunagan berkumpul semalam suntuk pada malam Iduladha dan pada haul Habib Muda untuk membaca ratib, menyalami keturunan sang wali, dan bersantap. Kenduri Iduladha memuncak dengan tawaf mengelilingi makam yang sering dikritik, sedangkan haul menonjolkan jamuan gratis yang menegaskan nilai timbal balik kenduri. Ritual ini menjadi titik temu tiga bingkai: kosmos sufi, adat Seunagan, dan bangsa Indonesia.

At Habib Muda’s grave in Peuleukung, thousands of Habib Seunagan followers gather all night on the eve of Eid al-Adha and on Habib Muda’s death anniversary (haul) to recite ratib, greet the saint’s descendants and eat together. The Eid al-Adha kenduri climaxes in a much-criticised circumambulation of the grave, while the haul stresses free hospitality that affirms the reciprocity of kenduri. These rituals are where three frames meet: the Sufi cosmos, Seunagan custom and the Indonesian nation.

Pada malam Iduladha awal Desember 2008, truk-truk bak terbuka membawa rombongan lima belas hingga lima puluh orang dari berbagai penjuru Nagan Raya dan Aceh. Meski hujan, beberapa ribu orang duduk berkelompok menghadap kompleks makam, di balai, di atas terpal, dan di masjid. Setiap rombongan berzikir sendiri tanpa menyelaraskan dengan rombongan lain, menghasilkan riuh suku kata suci. Menjelang tengah malam Abu Kodrat, putra Habib Muda yang tersisa dan pemimpin Syattariyah, keluar bersama kerabat senior untuk menyalami setiap pengikut, yang mencium punggung tangan mereka.

Puncak kenduri Iduladha adalah tawaf mengelilingi makam Habib Muda yang dipimpin Abu Kodrat sekitar tengah malam. Pengkritik memandangnya sebagai bid‘ah dan peniruan tawaf di Ka‘bah, apalagi dilakukan pada hari-hari musim haji, meski mengelilingi makam sufi bukan hal asing di kalangan Muslim yang condong ke tasawuf. Zikir berlanjut hingga subuh, disusul khutbah dari masjid makam dan penyembelihan hewan kurban. Seorang sayyid dari Gayo Lues, bukan anggota keluarga, mengaku tak pernah absen meski harus menempuh perjalanan panjang lewat jalan gunung.

Haul Habib Muda, sekitar lima bulan kemudian, berbeda. Tidak ada tawaf, dan rombongan berkumpul di balai zikir dua lantai di seberang jalan, menghadap ke berbagai arah. Tidak ada warung dadakan; di belakang balai, para lelaki memasak nasi dan kari kambing yang dibagikan gratis sepanjang malam atas biaya kerabat dekat Habib Muda, dan para juru masak merasa terhormat terpilih. Keluarga juga menerima tamu sehari penuh sebelumnya.

Seorang keturunan muda Habib Muda menyebut tiga dasar komunitas mereka: zikir menuju kesadaran akan keesaan Tuhan, kenduri, dan silaturahmi. Para peziarah menjelaskan keutamaan Habib Muda sekaligus sebagai pahlawan nasional pembela Republik, perantara mistis, dan tokoh lokal dalam jaringan timbal balik. Setelah Habib Muda wafat pada 1972, pemindahan kenduri Iduladha dari makam Habib Abdurrahim di Pulo Ie ke Peuleukung memicu perselisihan; sebagian pengikut tetap merayakannya di Pulo Ie atau bolak-balik di antara keduanya.

On the eve of Eid al-Adha in early December 2008, flatbed trucks brought groups of fifteen to fifty people from across Nagan Raya and Aceh. Despite rain, several thousand people sat in groups facing the grave complex, in shelters, on tarps and in the mosque. Each group recited on its own without coordinating with its neighbours, producing a cacophony of sacred syllables. Towards midnight Abu Kodrat, Habib Muda’s last surviving son and head of the Syattariyah, came out with senior kin to greet each follower, who kissed the back of their hands.

The climax of the Eid al-Adha kenduri is the circumambulation of Habib Muda’s grave, led by Abu Kodrat around midnight. Critics see it as an innovation and an imitation of the circumambulation of the Ka‘ba, all the more since it falls in the days of the hajj, though circling the graves of Sufis is not unusual among mystically inclined Muslims. Recitation continued until dawn, followed by a sermon from the grave mosque and the sacrifice of animals. A sayyid from Gayo Lues, not of the family, said he never missed the event despite a long journey over mountain roads.

Habib Muda’s haul, some five months later, was different. There was no circumambulation, and groups gathered in a two-storey litany shelter across the road, facing every direction. There were no makeshift stalls; behind the shelter men cooked rice and goat curry served free all night at the expense of Habib Muda’s close relatives, and the cooks felt honoured to have been chosen. The family also received guests all through the preceding day.

A young descendant of Habib Muda named three foundations of their community: dhikr leading to awareness of God’s oneness, kenduri and silaturahmi. Pilgrims described Habib Muda’s pre-eminence at once as a national hero who defended the Republic, a mystical intercessor and a local figure in networks of reciprocity. After Habib Muda died in 1972, moving the Eid al-Adha kenduri from Habib Abdurrahim’s grave at Pulo Ie to Peuleukung caused a dispute; some followers still celebrate at Pulo Ie or travel between the two.

Gagasan kunciKey ideas

Tawaf yang diperdebatkanA contested circumambulation

Tawaf makam menjadi simbol keunikan sekaligus sasaran kritik.Circling the grave is both a mark of distinctiveness and a target of critique.

Jamuan sebagai teologiHospitality as theology

Makanan gratis pada haul menegaskan ideal timbal balik kenduri.Free food at the haul affirms the ideal of kenduri reciprocity.

Tiga bingkai bertemuThree frames meet

Pengikut memuliakan Habib Muda sebagai wali, tokoh adat, dan pahlawan bangsa.Followers honour Habib Muda as saint, customary figure and national hero.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa sebuah ritual dapat sekaligus dipandang sebagai ibadah yang khusyuk oleh pengikutnya dan sebagai penyimpangan oleh orang lain?Why can a ritual be seen as devout worship by its followers and as deviation by others?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Kenduri Iduladha dan haul di makam Habib Muda, Peuleukung”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kenduri-makam-peuleukung/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →