Rekonstruksi pascatsunami: pembangunan fisik dan visi moralPost-tsunami reconstruction: infrastructure and moral visions
Kajian historis; batas pembacaan mengikuti tahun sumberHistorical study; interpretation is bounded by the source date
Rekonstruksi Aceh sesudah tsunami mencakup perebutan makna tentang masyarakat yang lebih baik. Feener mempertemukan agenda bantuan internasional dengan visi transformasi keagamaan.
Aceh’s post-tsunami reconstruction involved competing meanings of a better society. Feener connects international aid agendas with religious visions of transformation.
Ungkapan Build Back Better melampaui perbaikan rumah dan jalan. Dalam pembacaan Feener, bantuan, rehabilitasi, pembangunan, tata kelola, serta pembaruan spiritual hadir dalam medan sosial yang sama. BRR dan berbagai organisasi membawa sasaran transformasi yang tidak selalu identik.
Kebangkitan religius juga tidak mempunyai satu tafsir tunggal: bencana dimaknai sebagai ujian, peringatan, atau kesempatan memperbaiki kehidupan. Analisis Acehnologi perlu membedakan keyakinan penyintas dari penjelasan ilmiah sebab bencana, dan menguji siapa yang berwenang menentukan arti “lebih baik”.
Rujukan utama: Feener, R. Michael. 2013. Shariʿa and Social Engineering: The Implementation of Islamic Law in Contemporary Aceh, Indonesia. Oxford University Press. Bab 9, hlm. 252–260.
Build Back Better extended beyond replacing houses and roads. In Feener’s account, relief, rehabilitation, development, governance and spiritual renewal occupied the same social field. BRR and other organisations advanced transformative goals that were not necessarily identical.
Religious responses were also diverse: disaster could be understood as a test, warning or opportunity to improve life. Acehnologi should distinguish survivors’ beliefs from scientific explanations of disaster causation and ask who gains authority to define what “better” means.
Primary reference: Feener, R. Michael. 2013. Shariʿa and Social Engineering: The Implementation of Islamic Law in Contemporary Aceh, Indonesia. Oxford University Press. Bab 9, hlm. 252–260.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Siapa yang menentukan ukuran Aceh yang “lebih baik” dalam rekonstruksi?Who defines the standard of a “better” Aceh during reconstruction?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Rekonstruksi pascatsunami: pembangunan fisik dan visi moral”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/rekonstruksi-moral-pascatsunami/