Studi subaltern dan akar pascakolonial kajian AcehSubaltern studies and the postcolonial roots of Aceh studies
Telaah sekunder atas bidang studi Aceh membaca gagasan menjadikan Aceh disiplin tersendiri sebagai respons akademisi ‘subaltern’ terhadap dunia pascakolonial. Bidang ini dipandang lahir dari kemandekan pengetahuan pascakonflik dan pascatsunami, munculnya kajian etnis lain, serta kekhawatiran terhadap hegemoni budaya Jawa-nasional dan Melayu. Aceh hendak ditempatkan sekaligus sebagai objek dan subjek studi. Telaah yang sama juga mencatat kritik dan kelemahan proyek ini.
Secondary assessments of Aceh studies read the idea of turning Aceh into a discipline of its own as a response by ‘subaltern’ academics to the postcolonial world. The field is seen as arising from post-conflict and post-tsunami knowledge stagnation, the emergence of other ethnic studies, and concern over the cultural hegemony of the Javanese-national centre and of the Malay world. Aceh is to be placed as both object and subject of study. The same assessments also record the project’s critics and weaknesses.
Studi subaltern, dalam pengertian umum, adalah upaya membaca sejarah dan kebudayaan dari sudut kelompok yang suaranya tersisih oleh narasi kolonial maupun nasional. Telaah sekunder menempatkan kajian Aceh dalam arus ini dan mencatat lima pendorongnya: kemandekan pengetahuan serta ancaman hilangnya visi dan identitas setelah konflik dan tsunami; munculnya Dayakologi, Malay Studies, dan Javanologi; kemampuan Jawa menanamkan ‘kerak peradabannya’ ke seluruh Indonesia; kebutuhan mendorong kemajuan budaya, religi, dan spirit dalam bingkai paradigma, bahasa, politik, dan pengetahuan; serta respons akademisi subaltern terhadap dunia pascakolonial.
Sasaran kritiknya adalah hegemoni ganda. Di satu sisi ada narasi kebangsaan yang dinilai berpusat pada Jawa; di sisi lain ada kecenderungan memasukkan Aceh ke dalam studi Melayu. Penolakan terhadap yang kedua dibangun dengan argumen bahwa Aceh justru menyumbang identitas bagi dunia Melayu, misalnya melalui sastra Melayu yang dirintis Hamzah Fansuri. Aceh hendak dijadikan objek sekaligus subjek studi, dengan prinsip mengenal diri ‘dari diri sendiri ke diri sendiri’ dan dengan ilham oksidentalisme. Konsep Gramsci tentang intelektual organik, yakni intelektual yang memakai bahasa budaya untuk menyuarakan pengalaman kelompok bawah, ikut dipakai untuk menggambarkan peran sarjana dalam proyek ini.
Hambatannya juga dicatat: kuatnya dua cara pandang yang telah lama menjadi pedoman, yaitu keindonesiaan dan modernisme Barat; kecenderungan generasi muda mendefinisikan diri sebagai warga global; ketiadaan lembaga yang menghimpun strategi kebudayaan; dan kepungan sosial-politik dari pusat pascakonflik yang dinilai melahirkan mental lemah dan takluk. Kritik terhadap proyek ini pun nyata. Sebagian pengkritik khawatir penegasan kekhasan Aceh berubah menjadi narasi hegemonik yang eksklusif, bahkan ada yang menuduhnya bernalar fasis. Telaah lain menilai bahwa tarikan studi Islam dan studi kawasan membuat bidang ini menjauh dari analisis budaya yang objektif. Ketegangan ini menunjukkan dilema klasik studi subaltern: bagaimana memulihkan suara yang tersisih tanpa menciptakan pusat baru.
Subaltern studies, broadly understood, seeks to read history and culture from the standpoint of groups whose voices were sidelined by colonial and national narratives. Secondary assessments place Aceh studies in this current and identify five drivers: knowledge stagnation and a threatened loss of vision and identity after conflict and tsunami; the emergence of Dayakology, Malay Studies and Javanology; Java’s capacity to implant its ‘civilisational crust’ throughout Indonesia; the need to advance culture, religion and spirit within the frames of paradigm, language, politics and knowledge; and a subaltern academic response to the postcolonial world.
The critique targets a double hegemony. On one side stands a national narrative judged to be Java-centred; on the other, a tendency to fold Aceh into Malay studies. Resistance to the latter rests on the argument that Aceh in fact gave identity to the Malay world, for instance through the Malay literature pioneered by Hamzah Fansuri. Aceh is to become both object and subject of study, guided by the principle of self-knowledge ‘from oneself to oneself’ and inspired by Occidentalism. Gramsci’s notion of the organic intellectual, one who uses cultural language to voice the experience of subordinate groups, is also invoked to describe the scholar’s role in the project.
Obstacles are noted too: two long-standing frames of reference, Indonesian-ness and Western modernism; young people’s tendency to define themselves as global citizens; the absence of any institution compiling a cultural strategy; and post-conflict social and political pressure from the centre, said to have bred a weakened, submissive mentality. Criticism of the project is real. Some critics fear that asserting Aceh’s distinctiveness may turn into an exclusive, hegemonic narrative, and some have even charged it with a fascist logic. Other assessments hold that the pull of Islamic studies and area studies draws the field away from objective cultural analysis. These tensions reflect the classic dilemma of subaltern studies: how to restore marginalised voices without creating a new centre.
Gagasan kunciKey ideas
Hegemoni gandaDouble hegemony
Aceh dibaca terjepit antara narasi nasional berpusat Jawa dan klaim dunia Melayu.Aceh is read as squeezed between a Java-centred national narrative and Malay-world claims.
Objek sekaligus subjekObject and subject at once
Masyarakat Aceh tidak hanya diteliti, tetapi juga menjadi penghasil kerangka pengetahuan.Acehnese society is not only studied but also produces frameworks of knowledge.
Risiko pusat baruThe risk of a new centre
Penegasan kekhasan lokal dapat tergelincir menjadi narasi eksklusif.Asserting local distinctiveness can slide into an exclusive narrative.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana kajian Aceh dapat memulihkan suara yang tersisih tanpa membangun pusat hegemoni yang baru?How can Aceh studies restore marginalised voices without building a new hegemonic centre?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Studi subaltern dan akar pascakolonial kajian Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/studi-subaltern-dan-kajian-aceh/