Dokarim dan Hikayat Prang GoumpeniDokarim and Hikayat Prang Goumpeni
Masa Perang Aceh melawan BelandaEra of the Aceh War against the Dutch
Dokarim, atau Abdul Karim, adalah pengarang Hikayat Prang Goumpeni, hikayat berbahasa Aceh tentang perang melawan Kompeni Belanda. Karya ini disebut sebagai syair perang yang sangat ditakuti penjajah. Edwin Wieringa menegaskan bahwa hikayat ini bukan laporan sejarah, melainkan cerita bersanjak yang termasuk ranah sastra tradisional Aceh. Penegasan itu membuka tugas untuk menggali aspek filosofis sastra tradisional Aceh, tidak hanya kandungan historisnya.
Dokarim, or Abdul Karim, was the author of Hikayat Prang Goumpeni, an Acehnese-language hikayat on the war against the Dutch Company. The work is described as a war poem much feared by the colonisers. Edwin Wieringa stressed that it is not a historical report but a story in verse belonging to traditional Acehnese literature. That emphasis opens the task of exploring the philosophical dimension of traditional Acehnese literature, not just its historical content.
Hikayat Prang Goumpeni ditulis pada masa perang melawan Belanda dan berdiri berdampingan dengan Hikayat Prang Sabi sebagai dua karya berbahasa Aceh yang paling sering dirujuk dari era itu. Bila Hikayat Prang Sabi menekankan seruan jihad, karya Dokarim menuturkan jalannya perang dalam bentuk kisah bersyair. Statusnya sebagai karya yang ‘ditakuti’ penjajah menunjukkan bahwa sastra dipahami kedua belah pihak sebagai kekuatan yang nyata di medan perang; dalam kajian Ibrahim Alfian, pihak Belanda pun memiliki karya sastra penyemangat bagi pasukannya, termasuk Korps Marsose.
Pernyataan Wieringa memiliki konsekuensi metodologis. Jika hikayat dibaca sebagai laporan sejarah, ia akan dinilai menurut akurasi faktualnya dan mudah dianggap gagal. Jika dibaca sebagai hikayat, yakni cerita dalam bentuk puitis dalam tradisi sastra Aceh, maka yang perlu dipahami adalah konvensi, imajinasi, dan pesan moralnya. Di sinilah studi Aceh menempatkan dirinya: menggali ‘filsafat’ sastra tradisional Aceh, bukan sekadar mencomot data darinya.
Karya Dokarim juga memperkuat kesimpulan bahwa ‘penyair perang’ di Aceh bukan satu orang. Hampir setiap episode perang melahirkan hikayatnya sendiri, sehingga Dokarim menjadi bagian dari satu mata rantai panjang, bukan pengecualian. Membaca karyanya bersama hikayat perang lain memungkinkan perbandingan cara tiap zaman menuturkan perlawanannya sendiri.
Hikayat Prang Goumpeni was written during the war against the Dutch and stands alongside Hikayat Prang Sabi as one of the two Acehnese-language works most often cited from that era. Whereas Hikayat Prang Sabi emphasises the call to holy war, Dokarim's work narrates the course of the war as a verse tale. Its reputation as a work ‘feared’ by the colonisers shows that both sides understood literature as a real force on the battlefield; in Ibrahim Alfian's research, the Dutch too had literature to rouse their troops, including the Marechaussee corps.
Wieringa's remark has methodological consequences. Read as a historical report, a hikayat will be judged by its factual accuracy and easily found wanting. Read as a hikayat — a story in poetic form within the Acehnese literary tradition — what needs understanding are its conventions, imagination and moral message. This is where Aceh studies positions itself: exploring the ‘philosophy’ of traditional Acehnese literature rather than merely extracting data from it.
Dokarim's work also reinforces the conclusion that Aceh's ‘war poet’ was not a single person. Almost every episode of war produced its own hikayat, making Dokarim one link in a long chain rather than an exception.
Gagasan kunciKey ideas
Hikayat, bukan laporanHikayat, not report
Karya dibaca menurut konvensi sastra, bukan akurasi kronik.The work is read by literary convention, not chronicle accuracy.
Sastra sebagai senjata dua pihakLiterature as a weapon on both sides
Belanda juga memakai sastra untuk menyemangati pasukannya.The Dutch also used literature to inspire their troops.
Mata rantai penyair perangA chain of war poets
Dokarim adalah bagian dari tradisi yang berulang.Dokarim is part of a recurring tradition.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apa yang hilang bila hikayat perang hanya dibaca sebagai sumber data sejarah?What is lost when war hikayat are read only as sources of historical data?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Dokarim dan Hikayat Prang Goumpeni”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/dokarim/