Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

T.A. Sakti (Teuku Abdullah)

Lahir 1954; aktif akhir abad ke-20 hingga abad ke-21Born 1954; active late 20th to 21st century

T.A. Sakti, nama pena Teuku Abdullah (lahir 1954), adalah penyair Aceh yang menyalin, menulis, dan memperjuangkan penerbitan hikayat-hikayat berbahasa Aceh. Meski didera penyakit, ia tetap menempuh studi magister di UIN Ar-Raniry. Ia memandang hikayat sebagai sumber informasi sosial-budaya sekaligus ‘sumber rohani’ masyarakat Aceh. Sosoknya mewakili ketekunan sastrawan rakyat yang bekerja nyaris tanpa dukungan kelembagaan.

T.A. Sakti, the pen name of Teuku Abdullah (born 1954), is an Acehnese poet who copies, composes and campaigns for the publication of hikayat in Acehnese. Despite illness, he pursued a master's degree at UIN Ar-Raniry. He regards the hikayat as a source of socio-cultural information and a ‘spiritual source’ for Acehnese society. He embodies the persistence of the folk poet working with almost no institutional support.

Dalam kelas pascasarjana tentang studi naskah dan peradaban Islam, T.A. Sakti dikenal sebagai mahasiswa yang selalu membawa buku-buku karyanya dan berbagi kisah sulitnya mencari penerbit untuk hikayat, baik yang ia salin dari naskah lama maupun yang ia gubah sendiri. Hubungan guru dan murid di kelas itu kerap terbalik: para pengajar justru belajar darinya. Ia juga diminta menyampaikan peunutoh, semacam kesimpulan atau penilaian penutup, atas setiap topik yang dibahas sepanjang semester.

Rumusannya tentang hikayat menjadi pijakan penting bagi pandangan bahwa sastra adalah pintu masuk ke batin orang Aceh. Menurutnya, hikayat adalah unsur budaya dan sumber rohani yang erat dengan kehidupan sosial masyarakat Aceh pada zamannya. Dengan demikian, mengkaji hikayat berarti memasuki relung keyakinan, nilai, dan cara masyarakat menjalankan misi kebudayaannya, bukan sekadar menilai keindahan bahasanya.

Salah satu inspirator T.A. Sakti adalah Ali Hasjmy, yang selain sejarawan juga sastrawan. Garis dari Hasjmy ke T.A. Sakti memperlihatkan kesinambungan tradisi sastra berbahasa Aceh pada abad ke-20 dan ke-21. Kisah T.A. Sakti juga menyingkap persoalan struktural: penerbitan hikayat bergantung pada usaha pribadi, sehingga pelestarian sastra Aceh rentan terhadap nasib individu para penjaganya. Tanpa dukungan penerbit dan lembaga pendidikan, salinan hikayat yang ia kumpulkan berisiko tidak sampai ke pembaca generasi berikutnya.

In a postgraduate class on manuscript studies and Islamic civilisation, T.A. Sakti was known as the student who always brought copies of his books and shared the difficulties of finding publishers for hikayat, both those he copied from old manuscripts and those he composed himself. The teacher–student relationship in that class was often reversed: the instructors learned from him. He was also asked to deliver the peunutoh — a closing verdict or synthesis — on every topic discussed during the semester.

His formulation of the hikayat underpins the view that literature is a gateway to the Acehnese inner life. For him, the hikayat is a cultural element and spiritual source closely tied to the social life of Acehnese society in its time. Studying hikayat thus means entering the recesses of belief, values and the way a society carries out its cultural mission, not merely assessing the beauty of its language.

One of T.A. Sakti's inspirations was Ali Hasjmy, a historian who was also a man of letters. The line from Hasjmy to T.A. Sakti shows the continuity of Acehnese-language literature into the twentieth and twenty-first centuries. His story also exposes a structural problem: publishing hikayat depends on private effort, leaving the preservation of Acehnese literature vulnerable to the fortunes of its individual custodians.

Gagasan kunciKey ideas

Penyalin dan penciptaCopyist and creator

Ia menyalin hikayat lama sekaligus menggubah hikayat baru.He copies old hikayat and composes new ones.

Hikayat sebagai sumber rohaniHikayat as spiritual source

Hikayat dipahami sebagai informasi sosial-budaya dan batin masyarakat.The hikayat is understood as socio-cultural information and the inner life of society.

Pelestarian yang rapuhFragile preservation

Penerbitan sastra Aceh bertumpu pada perjuangan individu.Publishing Acehnese literature rests on individual struggle.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Lembaga apa yang seharusnya memikul beban pelestarian hikayat agar tidak bergantung pada ketekunan segelintir orang?Which institutions should bear the burden of preserving the hikayat so that it does not depend on the persistence of a few individuals?

Kutip entri ini:Cite this entry: “T.A. Sakti (Teuku Abdullah)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ta-sakti/