Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Siklus ilmu dalam frikatifisasi: Allah, alam, fenomena, pengalaman, teksThe cycle of knowledge in fricativization: God, nature, phenomena, experience, text

Paradigma frikatifisasi ilmu menggambarkan siklus pengetahuan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, seluruh bangunan ilmu dimulai dan diakhiri oleh Allah, yang menciptakan alam dengan ilmu-Nya agar dikenali, sementara manusia memahami fenomena sebagai khalifah. Pada tahap kedua, konstruksi ilmu terputus di salah satu mata rantai, sehingga ilmu berhenti pada alam atau fenomena dan dapat melahirkan ateisme. Tahap ketiga merangkai kembali Allah, alam, fenomena, pengalaman, dan teks dalam diri ilmuwan yang paripurna.

The fricativization paradigm depicts the cycle of knowledge in three stages. In the first, the whole edifice of knowledge begins and ends with God, who created nature through His knowledge in order to be known, while humans grasp phenomena as vicegerents. In the second, the construction of knowledge breaks at one link, so that knowledge stops at nature or phenomena and may lead to atheism. The third stage reconnects God, nature, phenomena, experience and text within the complete scholar.

Tahap pertama memuat lima unsur bangunan keilmuan. Allah menciptakan alam semesta karena ingin dikenali oleh ciptaan-Nya; penciptaan itu dilakukan dengan ilmu-Nya, sehingga alam adalah hasil kekuasaan ilmu Allah yang memunculkan fenomena, yaitu segala yang dapat dipahami makhluk. Manusia hadir sebagai wakil Allah, dan fenomena adalah apa yang mampu dicerap akal dan batinnya dalam menjalankan tugas kekhalifahan.

Pada tahap kedua, ilmu tidak lagi langsung kembali kepada Allah. Kajian berhenti pada alam: informasi penciptaan, yang diperoleh dari kitab suci dan teoretisasi manusia, menjadikan kajian zat dan sifat Allah penting, tetapi kajian bisa berhenti di situ. Sebagian sarjana, setelah menemukan teori penciptaan alam, justru menjadi ateis dan hanya percaya pada sains. Selanjutnya kajian bergerak dari alam ke fenomena, dengan perdebatan apakah Allah campur tangan dalam gerak alam atau alam bergerak sendiri. Dari fenomena, kajian beralih ke pengalaman manusia, yang mewujud sebagai intelektual dan spiritual. Kajian metafisika atas rangkaian pengalaman–fenomena–alam–Allah menghasilkan teks-teks ilmu, walau tidak sedikit sarjana yang mengeluarkan Tuhan dari tafsirnya.

Dalam metafisika Islam, kehadiran Allah dalam setiap tafsir atas pengalaman, fenomena, dan alam tidak dapat dihindari, sebab semuanya kesatuan yang tak terpisah dari zat dan sifat-Nya, sebagaimana diuraikan Hamzah Fansuri. Karena itu diperlukan kehati-hatian terhadap arah ilmu yang tidak mampu memulangkan manusia kepada aspek ketuhanan.

Tahap ketiga menyimpulkan bahwa paradigma ini hendak menciptakan lapisan-lapisan dampak berpikir agar manusia menjadi paripurna. Ilmuwan diharapkan memasuki ilmu secara holistik dan memahami dirinya serta lingkungannya dari apa yang ada di dalam dirinya, yang memuat Allah, alam, fenomena, pengalaman, dan teks yang saling terhubung.

The first stage contains five elements of the edifice of knowledge. God created the universe because He wished to be known by His creation; He created it through His knowledge, so nature is the product of the power of divine knowledge that gives rise to phenomena, all that creatures can understand. Humans appear as God's deputies, and phenomena are what their reason and inner faculties can perceive in carrying out vicegerency.

In the second stage knowledge no longer returns directly to God. Inquiry halts at nature: knowledge of creation, drawn from scripture and human theorising, makes the study of God's essence and attributes important, but inquiry may stop there. Some scholars, having found theories of cosmic origins, become atheists who believe only in science. Inquiry then moves from nature to phenomena, with debate over whether God intervenes in nature's motion or nature moves by itself. From phenomena it passes to human experience, which takes intellectual and spiritual form. Metaphysical reflection on the chain experience–phenomena–nature–God produces texts of knowledge, though many scholars remove God from their interpretation.

In Islamic metaphysics God's presence in every interpretation of experience, phenomena and nature is unavoidable, since all form a unity inseparable from His essence and attributes, as Hamzah Fansuri explained. Hence the need for caution towards directions in knowledge that cannot bring humans back to the divine.

The third stage concludes that the paradigm aims to build layers of intellectual effect so that humans become complete. Scholars are expected to enter knowledge holistically and to understand themselves and their surroundings from what lies within them, where God, nature, phenomena, experience and texts are interconnected.

Gagasan kunciKey ideas

Ilmu bermula dan berakhir pada AllahKnowledge begins and ends in God

Penciptaan dengan ilmu Ilahi menjadi kunci memahami gerak ilmu.Creation through divine knowledge is the key to the movement of knowledge.

Mata rantai yang putusThe broken link

Ilmu yang berhenti pada alam atau fenomena berisiko melahirkan sains tanpa Tuhan.Knowledge that stops at nature or phenomena risks a science without God.

Ilmuwan paripurnaThe complete scholar

Kelima unsur dirangkai kembali di dalam diri ilmuwan.The five elements are reconnected within the scholar.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah tahap kedua, ketika ilmu ‘berhenti’ pada alam, harus dipandang sebagai kegagalan, atau sebagai tahap yang sah dalam kerja sains?Should the second stage, where knowledge ‘stops’ at nature, be seen as failure or as a legitimate phase of scientific work?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Siklus ilmu dalam frikatifisasi: Allah, alam, fenomena, pengalaman, teks”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/siklus-ilmu-frikatifisasi/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →