Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Kenal dan tahu: dua tingkat pengetahuan tentang AllahKenal and tahu: two grades of knowing God

Hamzah Fansuri membedakan ‘kenal’ dari ‘tahu’ akan Allah dan menempatkan kenal pada kedudukan lebih tinggi. Orang yang tahu Allah tergolong khāṣṣ, sedangkan orang yang kenal Allah tergolong khāṣṣ al-khāṣṣ. Pembedaan ini disandarkan pada hadis tentang beribadah seakan-akan melihat Allah, atau setidaknya menyadari bahwa Allah melihat kita. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebut ‘kenal’ sebagai kata fokus dalam sistem pemikiran Hamzah.

Hamzah Fansuri distinguished kenal (intimate acquaintance) from tahu (knowing about) God and placed kenal higher. Those who know about God are 'the elect', while those acquainted with God are 'the elect of the elect'. The distinction rests on the hadith about worshipping as though one sees God, or at least knowing that God sees us. Syed Muhammad Naquib al-Attas called kenal a focus word in Hamzah's system.

Menurut Hamzah, kesepakatan ulama dan ahli suluk menetapkan bahwa mengenal Allah lebih tinggi daripada mengetahui-Nya. Tamsil bagi orang yang kenal adalah sabda Nabi agar menyembah Tuhan seakan-akan melihat-Nya, sedangkan tamsil bagi orang yang tahu adalah lanjutan sabda itu: jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Dengan demikian, kenal adalah keyakinan hidup yang dihadirkan secara aktif di dalam hati, sementara tahu masih berupa kesadaran bahwa diri berada di bawah pengawasan Tuhan.

Hamzah mengaitkan kewajiban mengenal Allah dengan ayat bahwa orang yang buta hatinya di dunia akan lebih buta di akhirat, serta perintah untuk menyembah Tuhan hingga datang keyakinan. Keyakinan paling substantif, baginya, adalah keyakinan hati yang lahir melalui ibadah seolah-olah menyaksikan Tuhan. Inilah titik berangkat para ahli makrifat untuk ‘bertemu’ agar dapat mengenal Allah.

Pembedaan kata Melayu ini penting bagi filsafat Aceh karena memperlihatkan bahwa bahasa setempat mampu memikul istilah epistemologis yang halus, sejajar dengan pembedaan ‘ilm dan ma‘rifah dalam bahasa Arab. Al-Attas menilai konsep gnosis atau makrifat sebagai salah satu konsep terpenting dalam sistem Hamzah, dan kata kenal adalah porosnya. Pembedaan ini juga menjadi akar gagasan kenal diri, kenal alam, dan kenal Tuhan.

According to Hamzah, the consensus of scholars and Sufis holds that being acquainted with God is higher than knowing about Him. The image of the one acquainted is the Prophet's saying to worship God as though you see Him, while the image of the one who knows is the saying's continuation: if you do not see Him, He sees you. Kenal is thus a living conviction made actively present in the heart, while tahu remains awareness that one stands under God's gaze.

Hamzah ties the duty to know God to the verse that whoever is blind of heart in this world will be blinder in the next, and to the command to worship until certainty comes. The most substantial conviction, for him, is the heart's certainty born of worship as if witnessing God. This is the starting point from which the gnostics seek to 'meet' Him so as to know Him.

The distinction between these Malay words matters for Acehnese philosophy because it shows that the local language could carry fine epistemological terms, parallel to the Arabic distinction between ‘ilm and ma‘rifa. Al-Attas regarded gnosis as one of the most important concepts in Hamzah's system, with kenal as its axis. The distinction also underlies the triad of knowing self, nature and God.

Gagasan kunciKey ideas

Kenal di atas tahuKenal above tahu

Mengenal adalah kehadiran batin; mengetahui adalah kesadaran diawasi.Acquaintance is inner presence; knowing about is awareness of being watched.

Hadis ihsanThe hadith of iḥsān

Dua bagian hadis itu menjadi ukuran dua tingkat pengetahuan.The two halves of the hadith measure the two grades.

Bahasa sebagai filsafatLanguage as philosophy

Kosakata Melayu memikul pembedaan epistemologis yang halus.Malay vocabulary bears subtle epistemological distinctions.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah pendidikan agama hari ini lebih banyak menghasilkan orang yang ‘tahu’ tentang Tuhan ketimbang orang yang ‘kenal’ dengan-Nya?Does religious education today produce more people who 'know about' God than people who are 'acquainted' with Him?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Kenal dan tahu: dua tingkat pengetahuan tentang Allah”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kenal-dan-tahu/