Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Sabīl al-Muhtadīn dan Sīr al-SālikīnSabīl al-Muhtadīn and Sīr al-Sālikīn

Abad ke-18; al-Banjari (1710–1812)18th century; al-Banjari (1710–1812)

Sabīl al-Muhtadīn karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Sīr al-Sālikīn karya Syekh ‘Abd al-Samad al-Palimbani adalah dua kitab Jawi yang hingga kini dikaji di pengajian rakyat Aceh. Keduanya berisi ibadah dan keutamaan amal dengan akar pada pemikiran al-Ghazali. Pengarangnya termasuk dalam mata rantai pembaru Islam yang bersambung dengan tiga mujaddid Nusantara. Di pinggir Sabīl al-Muhtadīn tercetak Shirāṭ al-Mustaqīm, yang dikenal sebagai kitab fikih pertama di Nusantara.

Sabīl al-Muhtadīn by Shaykh Muhammad Arsyad al-Banjari and Sīr al-Sālikīn by Shaykh ‘Abd al-Samad al-Palimbani are two Jawi texts still studied in popular study circles in Aceh. Both deal with worship and the merits of good deeds and are rooted in al-Ghazali's thought. Their authors belong to a chain of reformers linked to three great renewers (mujaddid) of the archipelago. Printed in the margins of Sabīl al-Muhtadīn is Shirāṭ al-Mustaqīm, known as the first fiqh book of the Nusantara.

Syekh Muhammad Arsyad bin ‘Abdullah al-Banjari (1710–1812) menulis Sabīl al-Muhtadīn, sedangkan Syekh ‘Abd al-Samad al-Palimbani menulis Sīr al-Sālikīn. Keduanya ditempatkan dalam rangkaian pembaru Islam yang berakar pada tiga mujaddid Nusantara: Syekh Nuruddin ar-Raniri, Syekh ‘Abd al-Rauf al-Singkili, dan Syekh Yusuf al-Maqassari. Di pinggir halaman Sabīl al-Muhtadīn tercetak Shirāṭ al-Mustaqīm karya ar-Raniri, kitab fikih pertama di Nusantara; bersama Mir’āt al-Ṭullāb karya al-Singkili, keduanya menjadi rujukan utama pada masa kesultanan Aceh.

Konteks sejarahnya penting. Sultan-sultan Aceh menyatakan paham keagamaan negerinya mengikuti ahl al-sunnah wa al-jama‘ah, dan pada abad ke-18 dan ke-19 tradisi intelektual tetap hidup: ulama menulis tidak hanya fikih, tetapi juga mantik, kalam, tasawuf, dan hadis. Kitab-kitab Jawi semacam ini menjembatani karya klasik berbahasa Arab, terutama Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, dengan kebutuhan umat berbahasa Melayu melalui tradisi syarah dan hasyiah.

Dalam praktik sosial kontemporer, kedua kitab dikenal dengan sebutan akrab Sabila dan Sirus. Peserta pengajian malam membawanya dari rumah, dan teungku menjadikannya bahan penjelasan tentang ibadah serta hubungan sosial. Daya tahan kedua kitab ini, yang masih tersimpan di banyak rumah keluarga Aceh, menunjukkan bahwa pemahaman syariat masyarakat memiliki akar sejarah dalam tradisi teks standar, bukan sekadar hasil regulasi modern.

Shaykh Muhammad Arsyad ibn ‘Abdullah al-Banjari (1710–1812) wrote Sabīl al-Muhtadīn, while Shaykh ‘Abd al-Samad al-Palimbani wrote Sīr al-Sālikīn. Both are placed in a lineage of reformers rooted in three renewers of the archipelago: Shaykh Nuruddin al-Raniri, Shaykh ‘Abd al-Rauf al-Singkili and Shaykh Yusuf al-Maqassari. Printed in the margins of Sabīl al-Muhtadīn is al-Raniri's Shirāṭ al-Mustaqīm, the first fiqh book of the Nusantara; together with al-Singkili's Mir’āt al-Ṭullāb, these were the main reference works of the Acehnese sultanate.

The historical context matters. Aceh's sultans declared their realm's religious orientation to be ahl al-sunna wa al-jama‘a, and in the eighteenth and nineteenth centuries intellectual life remained vibrant: ulama wrote not only on fiqh but also on logic, theology (kalam), Sufism and hadith. Jawi texts of this kind bridged classical Arabic works, above all the Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, and the needs of Malay-speaking Muslims through the tradition of commentary and gloss.

In contemporary social practice the two books are familiarly known as Sabila and Sirus. Participants in night study circles bring them from home, and teungku use them to explain worship and social conduct. Their endurance, still kept in many Acehnese family homes, shows that popular understanding of sharia has historical roots in a tradition of standard texts rather than being merely the product of modern regulation.

Gagasan kunciKey ideas

Mata rantai pembaruanA chain of renewal

Kedua pengarang bersambung dengan ar-Raniri, al-Singkili, dan al-Maqassari.Both authors connect to al-Raniri, al-Singkili and al-Maqassari.

Al-Ghazali dalam bahasa JawiAl-Ghazali in Jawi

Kitab-kitab ini menjadi wahana penyebaran etika al-Ghazali di dunia Melayu.These texts carried al-Ghazali's ethics into the Malay world.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa kitab abad ke-18 dari Kalimantan dan Palembang dapat menjadi pedoman hidup sehari-hari di desa-desa Aceh?Why could eighteenth-century texts from Borneo and Palembang become everyday guides in Acehnese villages?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Sabīl al-Muhtadīn dan Sīr al-Sālikīn”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/sabil-al-muhtadin-dan-sir-al-salikin/