Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Hikayat Malem Dagang: epos ekspedisi Iskandar Muda ke SemenanjungThe Hikayat Malem Dagang: epic of Iskandar Muda's expedition to the Peninsula

Hikayat Malem Dagang adalah epos berbahasa Aceh tentang ekspedisi Sultan Iskandar Muda melawan Portugis di Semenanjung Melayu, disunting H.K.J. Cowan pada 1937. Hikayat ini memadukan seruan jihad, potret Bandar Aceh sebagai pelabuhan dunia dan pandangan Aceh tentang Johor yang dianggap berkhianat. Sebagai salah satu dari sedikit sumber berbahasa Aceh tentang abad ke-17, ia penting untuk dibaca bersama Bustan al-Salatin, Mābaina al-Salāṭīn dan sumber Eropa.

The Hikayat Malem Dagang is an Acehnese-language epic about Sultan Iskandar Muda's expedition against the Portuguese on the Malay Peninsula, edited by H.K.J. Cowan in 1937. It combines a call to jihad, a portrait of Bandar Aceh as a world port and an Acehnese view of Johor as a traitor. As one of the few Acehnese-language sources on the seventeenth century, it should be read together with the Bustan al-Salatin, the Mābaina al-Salāṭīn and European sources.

Hikayat Malem Dagang disunting dan dikaji oleh sarjana Belanda H.K.J. Cowan dalam De "Hikajat Malem Dagang": Atjèhsch heldendicht, tekst en toelichting (Leiden, 1937). Cowan menilai, meskipun tidak dapat dipastikan sepenuhnya, bahwa hikayat ini kemungkinan merupakan epos Aceh tertua di antara karya yang ia bandingkan, dan bahwa peristiwanya berlangsung pada masa Sultan Iskandar Muda. Ia menyebutnya karya puisi dengan inti sejarah yang mengisahkan sebuah ekspedisi sultan ke Semenanjung Melayu, dan menegaskan bahwa Iskandar Muda memang mengirim beberapa ekspedisi melawan Melaka.

Dalam peta sumber lokal tentang abad ke-17, hikayat ini menempati posisi tersendiri. Disertasi M. Adli Abdullah menempatkannya bersama Hikayat Putroe Gumbak Meuh, Bustan al-Salatin dan Hikayat Aceh di antara karya sastra yang paling sering dirujuk untuk sejarah kesultanan, di samping naskah undang-undang seperti sarakata Iskandar Muda dan Mābaina al-Salāṭīn. Hikayat Aceh, yang dikaji Teuku Iskandar dalam disertasinya di Leiden pada 1959 dan tersimpan dalam naskah Cod. Or. 1954 dan Cod. Or. 1983, ditulis dalam bahasa Melayu dan berpusat pada riwayat hidup Iskandar Muda sejak kecil, sedangkan Hikayat Malem Dagang memakai bahasa Aceh dan berpusat pada mobilisasi perang. Menariknya, kedua hikayat itu sama-sama membicarakan Iskandar Muda tetapi tidak menyinggung kehadiran Tun Sri Lanang di Aceh, sehingga keheningan ini sendiri menjadi data bagi sejarawan tentang siapa yang dianggap layak masuk ke dalam narasi kepahlawanan istana.

Hikayat ini dapat dibaca sebagai teks mobilisasi. Sultan digambarkan berjalan dari kampung ke kampung, dari Kuta Raja hingga Batu Bara, singgah di setiap tempat untuk mengingatkan rakyat akan bahaya Portugis yang hendak menjajah negeri dan agama, dan memerintahkan pembangunan kapal untuk menyerang Melaka. M. Adli Abdullah menekankan peran mufti kerajaan, Syamsuddin as-Sumatrani, dalam membangkitkan semangat jihad, dan membandingkan fungsi hikayat ini dengan Hikayat Prang Sabi pada masa perang melawan Belanda. Dalam perjalanan menyerang Melaka pada 1628, rombongan sultan dikisahkan singgah di Samalanga.

Bahasa mobilisasi itu tampak jelas dalam bait yang sering dikutip, ketika sultan dinasihati: "Toeankoe, neukrah alem ngon paki, sigala wadi ngon oelama", yakni agar ia mengerahkan orang alim dan fakir, segala pemuka dan ulama, lalu menyiapkan perlengkapan dan membangun kapal untuk berperang ke Melaka. Seruan ini menempatkan perang sebagai urusan seluruh lapisan masyarakat, dari ulama hingga rakyat biasa, bukan semata urusan pasukan istana. Hikayat juga memberi sultan hujah-hujah yang dianggap munasabah tentang mengapa rakyat Aceh harus turut berperang ke Semenanjung, sehingga agama dan identitas berfungsi sebagai alasan yang menggerakkan. Dalam hal ini Hikayat Malem Dagang mendahului pola yang kelak tampak dalam Hikayat Prang Sabi: sastra lisan berbahasa Aceh menjadi medium untuk membangun kesediaan berkorban.

Hikayat ini juga melukiskan kemakmuran Bandar Aceh. Bait-baitnya menggambarkan masa ketika segala hajat tersedia, "nanggroe pi luah, banda pi rame", negeri luas dan bandar ramai. Kapal-kapal datang dari negeri Keling membawa tembakau dan besi, dari Malabar, Gujarat dan Benggala, dari Pegu, bersama tongkang Cina, perahu dari Bintan, kapal pembawa cawan dan pinggan raja, serta kapal dari Kedah membawa kain. M. Adli Abdullah menghubungkan gambaran ini dengan kampung-kampung di sekitar muara Krueng Aceh yang menjadi tempat persinggahan pedagang, seperti Kampung Keudah, Pelanggahan, Biduk, Pande dan Peunayong, serta dengan dekret pelabuhan dalam Mābaina al-Salāṭīn.

Bait-bait tentang pelabuhan itu dapat diuraikan lebih jauh. Selain kapal dari negeri Keling yang membawa tembakau dan besi dalam jumlah besar, hikayat menyebut kapal-kapal Malabar, Gujarat dan Benggala, kapal Pegu yang berkumpul dengan tongkang Cina, perahu di Bintan yang datang atas suruhan raja, bahtera di Anggo yang mengangkut nila dan kesumba, kapal pembawa cawan dan pinggan raja, dan kapal di Kedah yang membawa kain untuk berniaga. Gambaran puitis ini bersesuaian dengan bagian dastur Mābaina al-Salāṭīn, yang pada tahun 1045 H menetapkan bahwa kapal-kapal Inggris, Prancis, Belanda, Portugis, Denmark, Keling, Arab, Pigo dan lainnya hanya boleh berniaga di Bandar Aceh Darussalam. Perpaduan sumber sastra dan sumber hukum ini memperlihatkan bahwa kemakmuran pelabuhan bukan sekadar hiasan epos, melainkan kenyataan ekonomi yang diatur dan dipajaki oleh kerajaan.

Sisi politik hikayat tampak dalam dua gambaran. Pertama, kedatangan Putri Pahang yang dipersembahkan kepada raja dilukiskan sebagai peristiwa yang "meugoncang alam donya", mengguncangkan seluruh dunia. Kedua, sultan Johor disebut Si Ujud, dan para pembesar Aceh menyatakan bahwa ia harus dibunuh, tidak lagi dianggap saudara, dan dipandang sebagai kafir laknat di dunia dan di akhirat. Gambaran ini mencerminkan cara Aceh memaknai kerja sama Johor dengan Portugis sebagai pengkhianatan.

Sumber-sumber lain tentang ekspedisi ke Melaka memberi latar sejarah bagi kebencian hikayat terhadap Johor. Dalam esainya tentang Syamsuddin as-Sumatrani, Adli Abdullah menulis bahwa Iskandar Muda mengirim pasukan besar ke Melaka, bahwa banyak pembesar Melayu dari Pahang, Johor dan Patani berkhianat dan membantu Portugis, dan bahwa sebagian besar tentara Aceh gugur, termasuk Syamsuddin as-Sumatrani dan Panglima Pidie. Bustan al-Salatin karya Nuruddin ar-Raniri mencatat bahwa serangan ke Melaka pada tahun 1038 H dipimpin Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja dan Orang Kaya Laksamana, tetapi "tiada alah kerana berbantah antara dua orang panglima itu", dan bahwa Syamsuddin wafat pada malam Senin, 12 Rajab 1039 H. Makamnya, menurut Adli Abdullah, berada di Kampung Ketek, Melaka, tidak jauh dari makam Panglima Pidie dan para prajurit Aceh. Dengan demikian, sementara hikayat menimpakan kesalahan pada pengkhianatan Johor, kronik istana juga mencatat perpecahan di antara para panglima Aceh sendiri.

Kesejarahan tokoh-tokohnya terus dikaji. M. Adli Abdullah mencatat bahwa Malem Dagang, panglima kesayangan Iskandar Muda, dianugerahi kenegerian Meureudu, berbatasan dengan Samalanga, dan dikenal sebagai Orang Kaya Laksamana Malem Dagang. Robert Wessing dan Ronald Provencher (1988) membahas kesejarahan seorang teungku misterius dalam suntingan Cowan; kajian mereka juga dirujuk untuk tokoh Tun Burhat atau Sayyid Burhanuddin dari Pidie, ulama kesayangan Iskandar Muda yang pada 1615 diutus menjemput Putroe Ijo dari Johor dan menurut Haji Buyong Adil pernah menjadi guru Tun Sri Lanang. Bagi sejarawan, Hikayat Malem Dagang adalah salah satu dari sedikit sumber berbahasa Aceh tentang abad ke-17, karena hampir seluruh dokumen istana Aceh ditulis dalam bahasa Melayu.

Sumber-sumber itu juga tidak sepakat tentang nasib tokoh utama. Esai yang sama menyebut Malem Dagang termasuk mereka yang gugur di Melaka, sedangkan uraian lain mencatat bahwa ia dianugerahi kenegerian Meureudu dan dikenal sebagai Orang Kaya Laksamana Malem Dagang. Tahun ekspedisi pun disebut berbeda-beda, antara 1627, 1628 dan 1629, sementara Bustan al-Salatin memakai tahun hijriah 1038. Ketidaksesuaian ini menunjukkan bahwa tokoh epos dan tokoh sejarah belum sepenuhnya dipisahkan, dan bahwa nama Malem Dagang mungkin telah menghimpun ingatan tentang beberapa panglima. Bagi kajian Aceh, persoalan yang terbuka mencakup suntingan baru atas teks Cowan, perbandingan sistematis dengan sumber Portugis dan Melayu, serta penelusuran tradisi lisan di Meureudu dan Pidie tentang tokoh ini. Hikayat Malem Dagang juga layak dibaca sebagai dokumen kesadaran politik Aceh terhadap dunia Melayu: Semenanjung dipandang sebagai wilayah persaudaraan Islam yang harus dibela, tetapi sekaligus sebagai tempat pengkhianatan yang harus dihukum.

The Hikayat Malem Dagang was edited and studied by the Dutch scholar H.K.J. Cowan in De "Hikajat Malem Dagang": Atjèhsch heldendicht, tekst en toelichting (Leiden, 1937). Cowan judged, though not with complete certainty, that the hikayat was probably the oldest Acehnese epic among the works he compared, and that its events take place in the reign of Sultan Iskandar Muda. He called it a poem with a historical core recounting one of the sultan's expeditions to the Malay Peninsula, and stressed that Iskandar Muda did indeed send several expeditions against Melaka.

In the map of local sources on the seventeenth century, this hikayat occupies a place of its own. M. Adli Abdullah's dissertation places it alongside the Hikayat Putroe Gumbak Meuh, the Bustan al-Salatin and the Hikayat Aceh among the literary works most often cited for the history of the sultanate, together with legal texts such as the sarakata of Iskandar Muda and the Mābaina al-Salāṭīn. The Hikayat Aceh, studied by Teuku Iskandar in his Leiden dissertation of 1959 and preserved in the manuscripts Cod. Or. 1954 and Cod. Or. 1983, is written in Malay and centres on the life of Iskandar Muda from childhood, whereas the Hikayat Malem Dagang is in Acehnese and centres on mobilisation for war. Interestingly, both hikayat speak of Iskandar Muda yet neither mentions the presence of Tun Sri Lanang in Aceh, so that this silence is itself evidence for historians about who was considered worthy of inclusion in the heroic narrative of the court.

The hikayat can be read as a text of mobilisation. The sultan is shown travelling from village to village, from Kuta Raja to Batu Bara, stopping everywhere to warn the people of the Portuguese danger to their land and religion, and ordering ships to be built to attack Melaka. M. Adli Abdullah emphasises the role of the royal mufti, Syamsuddin as-Sumatrani, in rousing the spirit of jihad, and compares the function of this hikayat with that of the Hikayat Prang Sabi during the war against the Dutch. On the way to attack Melaka in 1628, the sultan's party is said to have stopped at Samalanga.

This language of mobilisation is clear in an often-quoted stanza in which the sultan is advised: "Toeankoe, neukrah alem ngon paki, sigala wadi ngon oelama", that is, to call up the learned and the poor, all the notables and the ulama, and then to prepare equipment and build ships to wage war on Melaka. The call presents war as the business of every layer of society, from the ulama to ordinary people, not only of the palace troops. The hikayat also gives the sultan arguments deemed reasonable as to why the Acehnese should join the war on the Peninsula, so that religion and identity serve as motivating grounds. In this respect the Hikayat Malem Dagang anticipates a pattern later visible in the Hikayat Prang Sabi: oral literature in Acehnese becomes a medium for building the willingness to sacrifice.

The hikayat also depicts the prosperity of Bandar Aceh. Its verses describe a time when every need was met, "nanggroe pi luah, banda pi rame", the country wide and the port bustling. Ships came from the Keling lands carrying tobacco and iron, from Malabar, Gujarat and Bengal, from Pegu, alongside Chinese junks, boats from Bintan, ships carrying the king's cups and plates, and ships from Kedah bringing cloth. M. Adli Abdullah links this picture to the quarters around the mouth of the Krueng Aceh where merchants stopped, such as Kampung Keudah, Pelanggahan, Biduk, Pande and Peunayong, and to the port decrees in the Mābaina al-Salāṭīn.

The stanzas on the port can be examined further. Besides ships from the land of the Keling bringing tobacco and iron in large quantities, the hikayat mentions ships from Malabar, Gujarat and Bengal, ships from Pegu gathering with Chinese junks, vessels at Bintan coming at the king's command, ships at Anggo carrying indigo and safflower, ships bringing cups and royal dishes, and ships at Kedah carrying cloth for trade. This poetic picture corresponds to the dastur section of the Mābaina al-Salāṭīn, which in 1045 AH decreed that English, French, Dutch, Portuguese, Danish, Keling, Arab, Pigo and other ships might trade only at Bandar Aceh Darussalam. The combination of literary and legal sources shows that the prosperity of the port was not merely an ornament of the epic but an economic reality regulated and taxed by the kingdom.

The political side of the hikayat appears in two images. First, the arrival of the Pahang princess presented to the king is described as an event that "shook the whole world" (meugoncang alam donya). Second, the sultan of Johor is called Si Ujud, and the Acehnese grandees declare that he must be killed, no longer regarded as a brother, and seen as an accursed infidel in this world and the next. This portrayal reflects the way Aceh interpreted Johor's cooperation with the Portuguese as betrayal.

Other sources on the Melaka expedition provide the historical background to the hikayat's hostility towards Johor. In his essay on Syamsuddin as-Sumatrani, Adli Abdullah writes that Iskandar Muda sent a large force to Melaka, that many Malay chiefs from Pahang, Johor and Patani betrayed Aceh and helped the Portuguese, and that most of the Acehnese troops fell, including Syamsuddin as-Sumatrani and the Panglima Pidie. Nuruddin ar-Raniri's Bustan al-Salatin records that the attack on Melaka in 1038 AH was led by Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja and Orang Kaya Laksamana, but "did not succeed because of a quarrel between the two commanders", and that Syamsuddin died on the night of Monday, 12 Rajab 1039 AH. His grave, according to Adli Abdullah, lies in Kampung Ketek, Melaka, not far from the graves of the Panglima Pidie and the Acehnese soldiers. Thus, while the hikayat lays the blame on Johor's betrayal, the court chronicle also records division among the Acehnese commanders themselves.

The historicity of its characters continues to be studied. M. Adli Abdullah notes that Malem Dagang, Iskandar Muda's favourite commander, was granted the district of Meureudu, bordering Samalanga, and was known as Orang Kaya Laksamana Malem Dagang. Robert Wessing and Ronald Provencher (1988) discussed the historicity of a mysterious teungku in Cowan's edition; their study is also cited for the figure of Tun Burhat, or Sayyid Burhanuddin of Pidie, a favourite scholar of Iskandar Muda who in 1615 was sent to bring Putroe Ijo back from Johor and who, according to Haji Buyong Adil, had been one of Tun Sri Lanang's teachers. For historians, the Hikayat Malem Dagang is one of the few Acehnese-language sources on the seventeenth century, since almost all Acehnese court documents were written in Malay.

The sources also disagree about the fate of the main figure. The same essay counts Malem Dagang among those who fell at Melaka, while another account records that he was granted the domain of Meureudu and known as Orang Kaya Laksamana Malem Dagang. The year of the expedition is also given variously as 1627, 1628 and 1629, while the Bustan al-Salatin uses the hijri year 1038. These inconsistencies show that the epic hero and the historical figure have not yet been fully disentangled, and that the name Malem Dagang may have gathered memories of several commanders. For Aceh studies, open problems include a new edition of Cowan's text, a systematic comparison with Portuguese and Malay sources, and the documentation of oral traditions about this figure in Meureudu and Pidie. The Hikayat Malem Dagang also deserves to be read as a document of Acehnese political consciousness towards the Malay world: the Peninsula is seen as a realm of Islamic brotherhood that must be defended, but at the same time as a place of betrayal that must be punished.

Gagasan kunciKey ideas

Puisi dengan inti sejarahPoetry with a historical core

Cowan membaca hikayat ini sebagai epos yang berakar pada ekspedisi nyata Iskandar Muda.Cowan read the hikayat as an epic rooted in Iskandar Muda's real expeditions.

Teks mobilisasiA text of mobilisation

Seperti Hikayat Prang Sabi kelak, hikayat ini membangkitkan semangat perang melalui seruan agama.Like the later Hikayat Prang Sabi, it rouses martial spirit through religious appeal.

Potret pelabuhan duniaPortrait of a world port

Daftar kapal dan barang dalam hikayat sejalan dengan dekret pelabuhan Mābaina al-Salāṭīn.The hikayat's catalogue of ships and goods matches the port decrees of the Mābaina al-Salāṭīn.

Johor atau perpecahan sendiriJohor or internal division

Hikayat menyalahkan pengkhianatan Johor, sedangkan Bustan al-Salatin juga mencatat perselisihan dua panglima Aceh.The hikayat blames Johor's betrayal, while the Bustan al-Salatin also records a quarrel between two Acehnese commanders.

Pahlawan epos dan tokoh sejarahEpic hero and historical figure

Sumber berbeda tentang nasib Malem Dagang, gugur di Melaka atau menjadi penguasa Meureudu.Sources differ on Malem Dagang's fate, killed at Melaka or ruler of Meureudu.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana hubungan Hikayat Malem Dagang dengan sumber Portugis tentang serangan Aceh ke Melaka pada 1629, dan lapisan mana dari teksnya yang dapat ditanggalkan ke abad ke-17?How does the Hikayat Malem Dagang relate to Portuguese sources on Aceh's attack on Melaka in 1629, and which layers of its text can be dated to the seventeenth century?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Hikayat Malem Dagang: epos ekspedisi Iskandar Muda ke Semenanjung”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hikayat-malem-dagang/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →