Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Jaringan Sunnah di Aceh UtaraThe ‘Sunnah Network’ in North Aceh

Sejak 2005, pascatsunamiFrom 2005, after the tsunami

Jaringan Sunnah adalah sebutan bagi sebuah komunitas Muslim di Aceh Utara yang menyatakan diri tidak bermazhab dan hanya merujuk pada al-Qur’an dan Sunnah. Pada 2005, setelah tsunami, komunitas ini mendatangkan ustaz-ustaz muda dari Jawa untuk mengajar hafalan al-Qur’an dan menjadi imam masjid. Kehadiran mereka mengubah wajah masjid, busana jamaah, dan relasi dengan kelompok dayah. Jaringan ini juga dibayangi kekhawatiran tentang radikalisme setelah peristiwa terorisme di Aceh pada 2010.

The ‘Sunnah Network’ refers to a Muslim community in North Aceh that declares itself unaffiliated to any law school and bound only by the Qur’an and Sunna. In 2005, after the tsunami, it brought in young ustaz from Java to teach Qur’an memorisation and lead mosque prayers. Their presence reshaped the mosque, the congregation's dress and relations with dayah adherents. The network has also been shadowed by concerns about radicalism after the terrorism incidents in Aceh in 2010.

Komunitas ini mirip Muhammadiyah dalam rujukannya pada al-Qur’an dan Sunnah, tetapi sama sekali bukan bagian jaringan Muhammadiyah. Bahkan sebelum tsunami, pengajian di masjidnya diisi ustaz dari kampung lain yang tidak bermazhab, umumnya guru SMP atau SMA, dan teungku dayah tidak pernah diundang. Ustaz dari Jawa diinapkan di masjid dan digaji dari sumbangan anggota. Mereka disukai karena suara merdu saat menjadi imam, sehingga Teungku Imuem asal Aceh menyerahkan peran imam kepada mereka. Penampilan ala Timur Tengah, berjanggut dan berpakaian gaya Pakistan, ditiru jamaah yang dulu shalat bersarung, dan masjid pun berfungsi layaknya pesantren.

Jaringan ini dikoordinasikan ulama lokal lulusan Timur Tengah yang mengadakan rapat evaluasi berkala, mirip sistem kaderisasi di kampus sekuler pada masa kebangkitan Islam. Seorang ustaz besar berkunjung untuk berceramah, menekankan akidah agar komunitas tidak dicap jihadis, dan memiliki hubungan baik dengan lembaga donor di Timur Tengah. Melalui jaringan ini, bukan jalur pemerintah, sebagian anak dikirim belajar al-Qur’an ke Timur Tengah atau Asia Selatan, meski tidak semuanya berhasil; seorang santri justru menjadi pekerja di Malaysia.

Ketegangan muncul ketika kelompok dayah berupaya mengambil alih pengurusan masjid. Seorang imam dari kalangan dayah memimpin doa sesudah shalat Isya menurut kebiasaan dayah, lalu diminta berhenti karena dianggap bukan sunnah, dan konflik pun pecah. Kekhawatiran lain mencuat setelah serangan jaringan teroris di Aceh pada Februari 2010: seorang yang dekat dengan komunitas ini ditangkap polisi, dan beberapa ustaz yang mengajarkan jihad kepada santri menghilang. Indikasi keterkaitan dengan jaringan radikal ini disampaikan dengan hati-hati sebagai kemungkinan, bukan kesimpulan pasti.

The community resembles Muhammadiyah in its appeal to the Qur’an and Sunna but is not part of the Muhammadiyah network. Even before the tsunami, study sessions at its mosque were led by unaffiliated ustaz from other villages, mostly secondary-school teachers, and dayah teungku were never invited. The Javanese ustaz were lodged in the mosque and paid from members' donations. They were admired for their melodious recitation as prayer leaders, so that the Acehnese Teungku Imuem handed the imamate over to them. Their Middle Eastern look, bearded and in Pakistani-style dress, was copied by congregants who once prayed in sarongs, and the mosque came to function like a pesantren.

The network is coordinated by local ulama educated in the Middle East, who hold regular evaluation meetings, a system resembling the cadre-building of secular campuses during the Islamic revival. A senior ‘big ustaz’ visits to preach, stressing creed so that the community is not branded jihadist, and maintains good relations with Middle Eastern donors. Through this network rather than official channels, some children have been sent to study the Qur’an in the Middle East or South Asia, not always successfully; one student ended up as a labourer in Malaysia.

Tension erupted when dayah adherents tried to take over the mosque's management. A dayah imam led the post-prayer supplication after the night prayer in dayah fashion and was told to stop because it was not sunna, and open conflict followed. Further concern arose after a terrorist network's attack in Aceh in February 2010: a man close to the community was arrested by police, and several ustaz who taught jihad to students disappeared. Links to radical networks are presented cautiously as a possibility rather than a firm conclusion.

Gagasan kunciKey ideas

Masjid sebagai pesantrenThe mosque as pesantren

Ustaz yang menginap di masjid mengubah fungsi ruang ibadah menjadi pusat kaderisasi.Ustaz lodging in the mosque turned a place of worship into a centre of cadre-building.

Kesalehan yang terlihatVisible piety

Janggut dan busana gaya Pakistan menjadi penanda kesetiaan pada sunnah.Beards and Pakistani-style dress became markers of fidelity to the sunna.

Pendidikan di luar negaraEducation beyond the state

Pengiriman anak ke luar negeri lewat jaringan ustaz membuat orang tua kehilangan kendali atas perkembangan anaknya.Sending children abroad through ustaz networks left parents with little oversight of their progress.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah konflik soal doa sesudah shalat sebenarnya adalah konflik tentang siapa yang berhak atas masjid?Is a quarrel over post-prayer supplications really a quarrel over who owns the mosque?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Jaringan Sunnah di Aceh Utara”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/jaringan-sunnah-aceh-utara/