Pohon, jaring, menara, roda, dan obor: metafora paradigma keilmuan PTKINTree, web, towers, wheel and torch: metaphors of the knowledge paradigms of Indonesia’s Islamic universities
Perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) di Indonesia merumuskan hubungan ilmu agama dan ilmu umum melalui metafora visual: pohon ilmu di UIN Malang, jaring laba-laba di UIN Yogyakarta, menara kembar di UIN Jakarta, roda ilmu di UIN Bandung, sungai ilmu di UIN Antasari, dan obor (sua) dalam paradigma frikatifisasi di UIN Ar-Raniry. Metafora-metafora ini menandai pergeseran dari paradigma tradisional IAIN yang normatif-teologis menuju empat paradigma: islamisasi, integrasi, interkoneksi, dan frikatifisasi. Keempatnya dapat disusun dalam satu spektrum dari yang paling berpusat pada Islam sebagai filter hingga yang paling berpusat pada spirit. Membaca simbol-simbol itu membantu memahami bagaimana tiap kampus membayangkan kesatuan ilmu.
Indonesia’s state Islamic universities (PTKIN) express the relation between religious and general sciences through visual metaphors: the tree of knowledge at UIN Malang, the spider’s web at UIN Yogyakarta, the twin towers at UIN Jakarta, the wheel of knowledge at UIN Bandung, the river of knowledge at UIN Antasari and the torch (sua) in the fricativisation paradigm at UIN Ar-Raniry. These metaphors mark a shift from the normative-theological paradigm of the early IAIN towards four paradigms: Islamisation, integration, interconnection and fricativisation. The four can be set on one spectrum, from the most Islam-centred, with Islam as filter, to the most spirit-centred. Reading these symbols helps us understand how each campus imagines the unity of knowledge.
Sebelum lahirnya paradigma-paradigma integratif, IAIN generasi awal berdiri di atas paradigma tradisional yang normatif-teologis. Kajian berpusat pada ilmu-ilmu naqliyyah seperti fikih, tafsir, hadis, dan kalam, dengan tiga tujuan: menyiapkan guru madrasah, meniru tradisi pendidikan Timur Tengah, dan memasok pegawai Kementerian Agama. Ilmu diperlakukan sebagai kebenaran sakral untuk diteguhkan, bukan diperiksa; metodenya internal agama seperti ushul fikih, sementara ilmu sosial dan sains modern nyaris tidak masuk kurikulum, dan orientalisme dicurigai sebagai ancaman. Hasilnya paradigma yang tertutup dan defensif: kuat dalam menjaga akidah, akhlak, dan warisan klasik, tetapi berjarak dari realitas sosial dan lemah secara empiris.
Transformasi bermula pada 1970-an dan menguat pada 1980-an, didorong kontak dengan Barat, persoalan nasional, dorongan modernisasi internal, dan generasi sarjana yang terlatih di luar negeri atau dalam ilmu sosial. Jurnal progresif seperti Ulumul Qur’an pada akhir 1980-an mencoba memadukan kajian teks dan analisis sosial. Tafsir dan hadis dihistoriskan dan dikritik secara tekstual, fikih dianalisis secara sosiologis, dan akidah berdialog dengan filsafat dan hermeneutika. Harun Nasution, Nurcholish Madjid, dan Azyumardi Azra tampil sebagai perintis dialog ilmu agama dan ilmu umum, meski kaum tradisionalis menuduh kampus Islam sebagai ‘sarang orientalis’. Peralihan IAIN menjadi UIN sejak awal 2000-an menjadikan integrasi kata kunci, dan setiap kampus merumuskan modelnya sendiri.
Di titik inilah metafora bekerja. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memakai pohon ilmu: akar berupa dasar-dasar agama dan bahasa al-Qur’an, batang berupa ilmu yang terpadu, dan buah berupa lulusan yang berakhlak dan kompeten, dengan semboyan memulai dengan basmalah dan mengakhiri dengan hamdalah. Secara konseptual pohon ini dekat dengan paradigma islamisasi, yang juga dapat digambarkan dengan akar akidah, batang syariah, dan buah akhlak serta ilmu terapan, sebagaimana skema Syed Muhammad Naquib al-Attas. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memakai menara kembar: dua menara ilmu agama dan ilmu umum berdiri di atas fondasi tauhid dan menuju puncak kemaslahatan dan rida Allah, dengan cita-cita keunggulan ganda.
M. Amin Abdullah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merumuskan jaring laba-laba: simpul-simpul disiplin dihubungkan benang nilai etis, tauhid, dan metode integratif, dengan agama sebagai pusat etis yang polisentris. Jaring ini menjadi lambang paradigma interkoneksi, yang memperluas integrasi menjadi dialog multidisipliner, multikultural, dan teo-antroposentris; ia bahkan dilukis di dinding kampus. UIN Sunan Gunung Djati Bandung memakai roda ilmu yang diwujudkan sebagai patung, sedangkan UIN Antasari Banjarmasin memakai sungai ilmu yang mengalir ke samudra tauhid. Integrasi kerap digambarkan sebagai jembatan antara dua bukit, sedangkan interkoneksi sebagai jaringan jalan raya di antara ‘kota-kota ilmu’.
Paradigma keempat, frikatifisasi, yang dirumuskan di lingkungan UIN Ar-Raniry, memakai lambang obor tradisional Aceh, sua, dan napas yang menyalakannya. Istilah ‘frikatif’ berasal dari linguistik, bunyi yang lahir dari udara yang didesak melalui celah sempit, dan dalam paradigma ini ilmu dipahami ‘dihembuskan’, bukan sekadar ditransmisikan atau dikonstruksi. Obor dapat menyala atau padam tergantung niat, adab, dan mutu spiritual penerimanya, sebagaimana napas dalam kosmologi Islam menghantar kehidupan dan kematian, dari Jibril yang menghembuskan wahyu hingga Israfil yang meniup sangkakala. Sua juga dipakai dalam upacara di Aceh sebagai simbol pencerahan.
Keempat paradigma dapat disusun dalam satu spektrum. Islamisasi menjadikan Islam inti dan filter; integrasi memadukan ilmu agama dan umum di bawah tauhid; interkoneksi menautkan banyak disiplin dan budaya dengan bimbingan etika agama; frikatifisasi memahami ilmu sebagai resonansi spiritual. Setiap paradigma memiliki ontologi, epistemologi, aksiologi, dan simbolnya sendiri, dan masing-masing juga dikritik: islamisasi dinilai normatif dan rawan insular, integrasi sering berhenti pada slogan dan ‘tempelan’ ayat, interkoneksi abstrak dan menuntut ‘pikiran Renaisans’, sedangkan frikatifisasi dinilai abstrak, elitis, dan sulit diterapkan pada ilmu alam. Sebuah studi tahun 2019 di UIN Ar-Raniry dan UIN Sumatera Utara bahkan menemukan bahwa dosen di kedua kampus belum memahami integrasi secara jelas.
Metafora-metafora itu, dengan demikian, bukan hiasan. Ia adalah cara kampus membayangkan kesatuan ilmu dan menjanjikan jenis lulusan tertentu. Pertanyaan yang tersisa bagi PTKIN adalah apakah simbol-simbol itu sudah diterjemahkan ke dalam kurikulum, laboratorium, metode penelitian, dan budaya akademik, atau baru berhenti sebagai lambang di gerbang dan dinding kampus.
Before integrative paradigms emerged, the early IAIN stood on a traditional normative-theological paradigm. Study centred on the transmitted sciences of fiqh, exegesis, hadith and kalam, with three aims: training madrasah teachers, mirroring Middle Eastern educational traditions and supplying staff to the Ministry of Religious Affairs. Knowledge was treated as sacred truth to be affirmed rather than examined; its methods were internal to religion, such as usul al-fiqh, while social science and modern science barely entered the curriculum and Orientalism was suspected as a threat. The result was a closed, defensive paradigm: strong in preserving creed, character and the classical heritage, but distant from social reality and empirically weak.
Transformation began in the 1970s and strengthened in the 1980s, driven by contact with the West, national problems, an internal impulse to modernise and a generation of scholars trained abroad or in the social sciences. Progressive journals such as Ulumul Qur’an in the late 1980s tried to join textual study with social analysis. Exegesis and hadith were historicised and subjected to textual criticism, fiqh was analysed sociologically, and creed entered dialogue with philosophy and hermeneutics. Harun Nasution, Nurcholish Madjid and Azyumardi Azra emerged as pioneers of dialogue between religious and general sciences, even as traditionalists accused Islamic campuses of being ‘nests of Orientalists’. The conversion of IAIN into UIN from the early 2000s made integration a watchword, and each campus formulated its own model.
This is where metaphors come in. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang uses the tree of knowledge: roots as the foundations of religion and Qur’anic language, trunk as integrated knowledge and fruit as graduates of character and competence, with the motto of beginning with the basmala and ending with the hamdala. Conceptually this tree is close to the Islamisation paradigm, which can also be pictured with roots of creed, a trunk of sharia and fruits of character and applied science, as in Syed Muhammad Naquib al-Attas’s scheme. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta uses twin towers: two towers of religious and general science standing on a foundation of tawhid and rising to a summit of welfare and God’s pleasure, with the ideal of double excellence.
M. Amin Abdullah at UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta formulated the spider’s web: nodes of disciplines linked by threads of ethical value, tawhid and integrative method, with religion as a polycentric ethical centre. The web became the emblem of the interconnection paradigm, which widens integration into a multidisciplinary, multicultural and theo-anthropocentric dialogue; it is even painted on a campus wall. UIN Sunan Gunung Djati Bandung uses the wheel of knowledge, rendered as a sculpture, while UIN Antasari Banjarmasin uses a river of knowledge flowing into the ocean of tawhid. Integration is often pictured as a bridge between two hills, interconnection as a highway network among ‘cities of knowledge’.
The fourth paradigm, fricativisation, formulated at UIN Ar-Raniry, uses the emblem of the traditional Acehnese torch, the sua, and the breath that kindles it. The term ‘fricative’ comes from linguistics, a sound produced by air forced through a narrow gap, and in this paradigm knowledge is understood as ‘breathed forth’ rather than merely transmitted or constructed. The torch may flare or go out depending on the intention, adab and spiritual quality of the recipient, just as breath in Islamic cosmology conveys life and death, from Gabriel breathing revelation to Israfil blowing the trumpet. The sua is also used in Acehnese ceremonies as a symbol of enlightenment.
The four paradigms can be set on a single spectrum. Islamisation makes Islam core and filter; integration fuses religious and general sciences under tawhid; interconnection links many disciplines and cultures under the guidance of religious ethics; fricativisation understands knowledge as spiritual resonance. Each has its own ontology, epistemology, axiology and symbol, and each is criticised: Islamisation as normative and prone to insularity, integration as often stopping at slogans and ‘appended’ verses, interconnection as abstract and demanding ‘Renaissance minds’, and fricativisation as abstract, elitist and hard to apply to the natural sciences. A 2019 study at UIN Ar-Raniry and UIN Sumatera Utara even found that lecturers at both campuses lacked a clear grasp of integration.
These metaphors are therefore not decoration. They are the way campuses imagine the unity of knowledge and promise a certain kind of graduate. The question that remains for the PTKIN is whether these symbols have been translated into curricula, laboratories, research methods and academic culture, or whether they still stop at emblems on campus gates and walls.
Gagasan kunciKey ideas
Dari paradigma tradisionalFrom the traditional paradigm
IAIN awal bersifat normatif-teologis, tertutup, dan defensif.The early IAIN was normative-theological, closed and defensive.
Simbol sebagai janjiSymbols as promises
Pohon, menara, jaring, roda, sungai, dan obor menjanjikan jenis lulusan tertentu.Tree, towers, web, wheel, river and torch each promise a kind of graduate.
Spektrum empat paradigmaA spectrum of four paradigms
Dari Islam sebagai filter (islamisasi) hingga ilmu sebagai resonansi spiritual (frikatifisasi).From Islam as filter (Islamisation) to knowledge as spiritual resonance (fricativisation).
Jembatan dan jalan rayaBridge and highway
Integrasi menjembatani dua bukit; interkoneksi membangun jaringan antarkota ilmu.Integration bridges two hills; interconnection builds a network between cities of knowledge.
Kesenjangan sloganThe slogan gap
Studi 2019 menunjukkan dosen belum memahami integrasi secara jelas.A 2019 study showed lecturers lacked a clear grasp of integration.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah sebuah metafora kampus dapat mengubah cara dosen mengajar dan meneliti, atau hanya mengubah cara kampus memperkenalkan diri?Can a campus metaphor change how lecturers teach and research, or only how the campus presents itself?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Pohon, jaring, menara, roda, dan obor: metafora paradigma keilmuan PTKIN”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/metafora-keilmuan-ptkin/