BidangField 03
Adat & HukumCustom & Law
Hubungan adat, hukum Islam, dan negara dalam tata kehidupan masyarakat Aceh, dari gampong dan lembaga adat laut hingga qanun dan Wali Nanggroe.How custom, Islamic law and the state shape Acehnese social life, from the gampong and maritime customary institutions to the qanun and the Wali Nanggroe.
3.1 Adat, hukum Islam & warisan kolonialAdat, Islamic law & the colonial legacy
KonsepConcept Adat bak Po Teumeureuhom: adat sebagai sistem pemerintahanAdat bak Po Teumeureuhom: adat as a system of government
Ungkapan adat bak po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala, qanun bak putroe phang, reusam bak bentara adalah kaidah yang paling sering dikutip dalam diskusi tentang adat Aceh. Analisis ini menekankan…The saying adat bak po teumeureuhom, hukom bak syiah kuala, qanun bak putroe phang, reusam bak bentara is the maxim most often cited in discussions of Acehnese adat. This analysis…
KonsepConcept Teori resepsi dan pemisahan adat dari hukum IslamReception theory and the separation of adat from Islamic law
Teori resepsi adalah gagasan yang dikaitkan dengan Christiaan Snouck Hurgronje bahwa hukum Islam hanya berlaku bagi orang Indonesia sejauh telah diterima oleh hukum adat. Kebijakan kolonial yang lahir darinya memisahkan…Reception theory is the idea, associated with Christiaan Snouck Hurgronje, that Islamic law applied to Indonesians only insofar as it had been received into customary law. The colonial policy derived…
3.2 Harta, kenduri & ekonomi moralWealth, feasts & moral economy
TradisiTradition ‘Berangkat haji dari kebun kopi’: tabungan haji petani Gayo'To Mecca from the coffee garden': hajj savings among Gayo farmers
Di Tanah Gayo, petani kopi menabung untuk haji dengan mengubah sebagian hasil panen menjadi emas yang disimpan bertahun-tahun di kaleng biskuit, kain batik, atau kotak kayu. Memori kolektif menyimpan praktik…In the Gayo highlands coffee farmers save for the hajj by turning part of each harvest into gold, kept for years in biscuit tins, batik cloth or wooden boxes. Collective…
KonsepConcept Baynah: konsep harta orang AcehBaynah: the Acehnese concept of wealth
Baynah, dari kata Arab yang berarti bukti, adalah ukuran kekayaan dalam masyarakat kampung Aceh: emas, tanah, dan ternak. Harta ini dilepas hanya pada momen penting seperti merantau, menikahkan anak, kenduri,…Baynah, from an Arabic word meaning proof or evidence, is the measure of wealth in Acehnese village society: gold, land and livestock. These assets are released only at key moments…
TradisiTradition Keurija dan bek peumale gampongKeurija and bek peumale gampong: communal work and guarding village honour
Keurija (kerja) adalah istilah untuk hajatan sosial dalam siklus hidup, terbagi menjadi keurija udep (hajatan kehidupan) dan keurija mate (urusan kematian). Dalam keurija, warga membantu tanpa pamrih dan semua konflik…Keurija ('work') is the term for social gatherings in the life cycle, divided into keurija udep (celebrations of life) and keurija mate (matters of death). In keurija, villagers help without…
TradisiTradition Khanduri: kenduri dalam siklus kerja orang AcehKhanduri: ritual feasts in the Acehnese work cycle
Khanduri (kenduri) menyertai hampir setiap bentuk jak, yaitu perjalanan mencari nafkah atau beribadah. Ada khanduri thon bagi pedagang, khanduri blang sebelum turun ke sawah, khanduri laot di tepi laut, dan…Khanduri (ritual feasts) accompany almost every form of jak, the journeys made to earn a living or to worship. There is khanduri thon for traders, khanduri blang before planting, khanduri…
TradisiTradition Qanun bak Putroe Phang dan pembagian peran dalam kenduriQanun bak Putroe Phang and the gendered division of feast work
Upacara kerakyatan yang sarat simbol budaya di Aceh dikaitkan dengan qanun bak Putroe Phang, tokoh perempuan yang melambangkan urusan kaum perempuan. Dalam pesta, perempuan mengurus peusijuek, pet ranup, dan penyambutan…Popular ceremonies rich in cultural symbolism are linked in Aceh to qanun bak Putroe Phang, a female figure who stands for women’s affairs. At feasts women handle peusijuek (blessing rite),…
3.3 Kosmologi hukum AcehAcehnese legal cosmology
KonsepConcept Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala
Ungkapan ‘Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana merangkum kosmologi tata kelola Kesultanan Aceh. Adat merujuk pada hukum pemerintahan kesultanan, hukom pada…The saying ‘Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana’ distils the governing cosmology of the Acehnese sultanate. Adat refers to the sultanate's…
KonsepConcept Hana roh, hana get, han jeut: tiga lapis pertimbangan moralHana roh, hana get, han jeut: three layers of moral reasoning
Cara berpikir orang Aceh dirumuskan bertumpu pada tiga fondasi: alam, jiwa, dan agama. Masing-masing diungkapkan dalam penilaian hana roh (melawan alam atau ruh tempat), hana get atau hana jroh (tidak…Acehnese reasoning is described as resting on three foundations: nature, soul and religion. Each is voiced in a judgement: hana roh (against nature or the spirit of a place), hana…
LembagaInstitution Qadhi Malikul AdilQadhi Malik al-Adil
Qadhi Malikul Adil adalah jabatan ulama dalam kerajaan Islam Aceh yang menangani pelaksanaan hukum Islam. Bersama umara yang lahir dari tatanan Adat Meukuta Alam, jabatan ini menjadi poros pelaksanaan syariat…The Qadhi Malik al-Adil was the scholarly office in the Islamic kingdom of Aceh responsible for administering Islamic law. Together with the rulers (umara) produced by the Adat Meukuta Alam…
KonsepConcept Teori pemisahan adat dan hukum IslamThe colonial separation of adat and Islamic law
Teori ini merujuk pada kerangka kolonial yang dikaitkan dengan C. Snouck Hurgronje, yang memisahkan adat dari hukum Islam dan memetakan masyarakat Aceh ke dalam ulama, umara, dan rakyat. Kerangka tersebut…This refers to the colonial framework associated with C. Snouck Hurgronje, which separated adat from Islamic law and mapped Acehnese society into ulama, rulers (umara) and commoners. The Dutch used…
KonsepConcept Timang dan peutimang nanggroeTimang and peutimang nanggroe: balance as political philosophy
Timang berarti selaras atau seimbang, dan dipandang sebagai titik kosmos dalam alam berpikir budaya Aceh. Segala tindakan, termasuk mengurus negeri (peutimang nanggroe), diukur dari keselarasannya dengan Tuhan, alam, dan sesama…Timang means harmony or balance and is regarded as a cosmic reference point in Acehnese cultural thought. Every action, including governing the land (peutimang nanggroe), is measured by its harmony…
3.4 Lembaga adat lautCustomary maritime institutions
KonsepConcept Adat La’ôtAdat Laot (customary law of the sea)
Adat La’ôt adalah seperangkat aturan adat yang mengatur kehidupan nelayan Aceh, dijaga dan dijalankan oleh Panglima La’ôt. Cakupannya meliputi penyelesaian sengketa antarnelayan, hari pantang melaut, dan pelaksanaan Khanduri La’ôt. Para…The Adat Laot is the body of customary rules governing the lives of Acehnese fishers, upheld and administered by the Panglima Laot. Its scope covers settling disputes between fishers, days…
LembagaInstitution Panglima La’ôtPanglima Laot
Panglima La’ôt adalah lembaga adat yang kini dikenal sebagai pemimpin masyarakat nelayan dan penjaga Adat La’ôt. Bukti sejarah menunjukkan bahwa pada masa kesultanan lembaga ini merupakan aparatur resmi kerajaan yang…Panglima Laot is a customary institution now known as the leader of fishing communities and guardian of the Adat Laot, the customary law of the sea. Historical evidence indicates that…
TradisiTradition Pantang melaut pada hari JumatThe Friday ban on going to sea
Larangan melaut pada hari Jumat adalah aturan Adat La’ôt yang paling dikenal nelayan Aceh. Pelanggarnya dapat dikenai sanksi oleh Panglima La’ôt berupa kewajiban menyembelih seekor kambing. Penafsirannya beragam, dari larangan…The ban on going to sea on Fridays is the best-known rule of the Adat Laot among Acehnese fishers. Violators can be penalised by the Panglima Laot with the obligation…
3.5 Wali Nanggroe & lembaga adatWali Nanggroe & customary institutions
LembagaInstitution Majelis Adat Aceh dan tiga belas lembaga adatThe Aceh Customary Council and the thirteen customary institutions
Qanun No. 10 Tahun 2008 menetapkan tiga belas lembaga adat di Aceh, mulai dari Majelis Adat Aceh (MAA) hingga syahbandar, di bawah pembinaan Wali Nanggroe melalui MAA. Upaya ini merupakan…Qanun No. 10 of 2008 recognises thirteen customary institutions in Aceh, from the Aceh Customary Council (MAA) to the harbour master (syahbandar), all under the oversight of the Wali Nanggroe…
LembagaInstitution Wali Nanggroe
Wali Nanggroe adalah gelar dan lembaga kepemimpinan adat yang dijanjikan dalam butir 1.1.7 MoU Helsinki. Akar historisnya bukan pada tradisi kesultanan, melainkan pada Piagam Bate Kureng 1953 era DI/TII dan…Wali Nanggroe is a title and customary leadership institution promised in point 1.1.7 of the Helsinki memorandum. Its historical roots lie not in the sultanate but in the 1953 Bate…