Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Ismā‘īl al-Fārūqī dan kerangka Islamisasi Ilmu IIITIsmail al-Faruqi and the IIIT Islamization of Knowledge framework

IIIT didirikan 1981; seminar internasional 1982, 1984, 1987IIIT founded 1981; international seminars 1982, 1984, 1987

Ismā‘īl al-Fārūqī adalah sarjana yang menggerakkan gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan di tingkat internasional melalui International Institute of Islamic Thought (IIIT) pada 1981. IIIT merancang epistemologi dan langkah-langkah Islamisasi, dan disebut telah menerbitkan lebih dari 150 buku. Kerangka al-Fārūqī, sebagaimana digambarkan Louay Safi, dimulai dengan penguasaan ilmu modern, kemudian penguasaan warisan Islam, lalu sintesis keduanya. Gagasan ini disosialisasikan lewat seminar di Islamabad, Kuala Lumpur, dan Sudan.

Ismail al-Faruqi was the scholar who drove the Islamization of Knowledge internationally through the International Institute of Islamic Thought (IIIT), founded in 1981. IIIT designed the epistemology and steps of Islamization and is said to have published more than 150 books. Al-Faruqi's framework, as diagrammed by Louay Safi, begins with mastery of the modern sciences, proceeds to mastery of the Islamic heritage, and then seeks their synthesis. The idea was promoted through seminars in Islamabad, Kuala Lumpur and Sudan.

Langkah pertama kerangka al-Fārūqī adalah penguasaan ilmu-ilmu modern. Sarjana Muslim dituntut memahami tujuan, sejarah, persoalan, dan metodologi setiap disiplin secara utuh, termasuk aspek kritis dan analitisnya dalam perspektif Barat, lalu menimbangnya dengan pandangan Islam. Penguasaan ini dipandang membuka akses ke seluruh capaian peradaban manusia, memberi metodologi untuk meletakkan dasar teoretis Islami bagi kehidupan sosial, dan membebaskan kehidupan Muslim dari peniruan serta kepura-puraan menuju kreativitas.

Langkah berikutnya adalah kembali kepada warisan Islam melalui penghimpunan (antologi) dan analisis. Warisan ilmiah sejarah Islam tidak boleh diabaikan dalam merespons ilmu modern. Sintesis keduanya diharapkan menjadikan Islamisasi sebagai institusi nyata umat yang mampu membantu memecahkan masalah dengan pemikiran orisinal.

Sosialisasi internasional berlangsung melalui tiga seminar. Di Islamabad (1982) peserta masih memilah ilmu mana yang dapat diislamkan dan membuka wacana metodologi. Di Kuala Lumpur (1984) arah bergeser ke aksi nyata, yaitu menimbang sumbangan pemikiran Islam bagi ilmu pengetahuan. Di Sudan (1987) metodologi Islamisasi mulai dijabarkan untuk sejumlah disiplin.

Kerangka ini penting bagi studi Aceh karena menjadi tolok ukur pembanding bagi paradigma keilmuan yang muncul kemudian di Indonesia. Tahap ‘penguasaan ilmu modern’ ternyata bergema dalam paradigma integrasi-interkoneksi, sementara tahap kembali ke warisan sejalan dengan seruan menggali tradisi intelektual ulama Aceh.

The first step in al-Faruqi's framework is mastery of the modern sciences. Muslim scholars must understand each discipline's aims, history, problems and methodology as a whole, including its critical and analytical aspects in Western perspective, and then weigh it against the Islamic viewpoint. Such mastery was expected to give access to the accumulated achievements of human civilisation, supply a method for laying Islamic theoretical foundations for social life, and free Muslim life from imitation and pretence for genuine creativity.

The next step is a return to the Islamic heritage through compilation (anthology) and analysis. The scientific legacy of Islamic history must not be ignored in responding to modern knowledge. Their synthesis was meant to make Islamization a real institution of the community, able to help solve problems through original thought.

International promotion proceeded through three seminars. In Islamabad (1982) participants were still sorting which sciences could be Islamized and opening the question of methodology. In Kuala Lumpur (1984) the focus shifted to concrete action, weighing Islamic thought's contribution to knowledge. In Sudan (1987) the methodology of Islamization was worked out for several disciplines.

The framework matters for Aceh studies as a benchmark for later Indonesian paradigms of knowledge. Its ‘mastery of modern sciences’ stage echoes in the integration-interconnection paradigm, while its return to heritage parallels the call to recover the intellectual tradition of Aceh's ulama.

Gagasan kunciKey ideas

Kuasai dulu ilmu modernMaster modern knowledge first

Islamisasi dimulai dari pemahaman menyeluruh atas disiplin Barat, bukan penolakannya.Islamization begins with thorough understanding of Western disciplines, not their rejection.

Warisan sebagai sumberHeritage as resource

Khazanah ilmiah Islam dihimpun dan dianalisis untuk merespons ilmu modern.The Islamic scientific legacy is compiled and analysed to respond to modern science.

Dari wacana ke metodologiFrom discourse to methodology

Tiga seminar menandai pergeseran dari memilah ilmu ke merancang metodologi per disiplin.Three seminars mark a shift from sorting sciences to designing discipline-specific methodology.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah ‘menguasai ilmu modern lalu mengislamkannya’ masih memadai ketika ilmu modern sendiri berubah sangat cepat?Is ‘mastering modern science and then Islamizing it’ still adequate when modern science itself changes so rapidly?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Ismā‘īl al-Fārūqī dan kerangka Islamisasi Ilmu IIIT”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ismail-al-faruqi-dan-kerangka-iiit/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →