Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Tabib dan jalur ilmu gaib di AcehTabib and the paths of occult knowledge in Aceh

Di Aceh, penyembuh dan praktisi ilmu gaib lebih suka disebut tabib daripada dukun. Pengamatan terhadap sejumlah tabib menunjukkan beberapa jalur: menuntut ilmu gaib, putih atau hitam, terutama di pantai selatan Aceh; menjadi wadah bersemayamnya roh; dan karisma anak muda yang dianggap keramat. Peukeunong, padanan santet, dikenal di kawasan seperti Aceh Selatan, Aceh Barat, Aceh Tamiang, dan Aceh Tengah. Orang yang kehilangan barang pun kerap lebih dahulu mendatangi tabib daripada polisi.

In Aceh, healers and practitioners of occult knowledge prefer to be called tabib rather than dukun. Observation of several tabib suggests a number of paths: studying occult knowledge, white or black, especially on Aceh's south coast; serving as a vessel for a spirit; and the charisma of a young person regarded as saintly. Peukeunong, the counterpart of Javanese santet, is associated with areas such as South Aceh, West Aceh, Aceh Tamiang and Central Aceh. People who lose property often go to a tabib before the police.

Pengamatan lapangan mencatat seorang tabib di Banda Aceh yang, setelah membaca jampi dan membakar kemenyan, memanggil ‘perisai’ gaibnya bernama Alaiba untuk menyembuhkan pasien. Seorang tabib perempuan dimasuki roh orang lain dan memakai air putih sebagai ‘cermin gaib’ untuk melihat masa lalu dan masa depan pasien. Seorang anak muda dikenal luas, di dalam dan di luar Aceh, karena dianggap mengetahui dunia gaib. Dari ketiganya disimpulkan adanya jalur menuntut ilmu dan jalur kerasukan roh, di samping karisma pribadi. Sebagian penuntut ilmu dari pantai selatan pulang kampung menjadi dukun, ada pula yang menjadi penjual obat keliling dengan atraksi menakutkan.

Peukeunong dipahami sebagai sihir yang paling tinggi tingkatnya bila mampu membuat sasaran meninggal atau gelisah hidupnya, dan dukun yang melakukannya memanggil jin atau arwah sebagai perisai. Bertapa untuk menyempurnakan ilmu hitam dikaitkan dengan sumur Jugi Tapa di dekat makam Raja Siujud, dan Guha Tujoh menjadi tempat bertapa untuk ilmu kanuragan. Cerita setempat bahkan mengisahkan seorang perempuan dari Jawa yang diutus gurunya bertapa di gua itu. Kuburan ulama keramat juga didatangi penuntut ilmu, termasuk dari Jawa, untuk khalwat.

Dalam perbandingan dengan Jawa, perbedaan paling jelas ada pada nama dan bingkai. Praktisi Jawa memakai gelar Ki dan sebagian beriklan di media dengan janji kesaktian, sedangkan di Aceh sebutan tabib memberi nuansa pengobatan dan praktiknya, kecuali sihir, dibingkai doa. Meski demikian, kepercayaan bahwa ‘orang pintar’ dapat menebak pencuri atau menyembuhkan penyakit menunjukkan bahwa dunia gaib tetap hidup di bawah identitas Islam Aceh, dan bahwa dukun pun tidak jarang hanya menebak.

Field observation recorded a tabib in Banda Aceh who, after reciting incantations and burning incense, summoned his supernatural 'shield' named Alaiba to heal a patient. A female tabib was entered by another person's spirit and used plain water as a 'magic mirror' to see the patient's past and future. A young man became widely known, inside and outside Aceh, for supposedly knowing the unseen world. From these three a path of study and a path of spirit possession are inferred, alongside personal charisma. Some who study on the south coast return home as healers, while others become itinerant medicine sellers with frightening displays.

Peukeunong is regarded as sorcery of the highest grade when it can make its target die or live in torment, and the practitioner summons jinn or spirits as shields. Ascetic retreat to perfect black magic is associated with the Jugi Tapa well near the tomb of Raja Siujud, and Guha Tujoh is a place of retreat for martial invulnerability. A local story even tells of a woman from Java sent by her teacher to meditate in that cave. Tombs of revered ulama are also visited by seekers, including some from Java, for khalwat.

Compared with Java, the clearest differences lie in naming and framing. Javanese practitioners use the title Ki and some advertise powers in the media, whereas in Aceh the word tabib lends a medical tone and practice, except sorcery, is framed by prayer. Even so, the belief that 'clever people' can name a thief or cure illness shows that the unseen world remains alive beneath Aceh's Islamic identity, and that healers, not infrequently, merely guess.

Gagasan kunciKey ideas

Tiga jalur ilmu gaibThree paths of occult knowledge

Menuntut ilmu, kerasukan roh, dan karisma pribadi.Study, spirit possession and personal charisma.

Geografi sihirA geography of sorcery

Pantai selatan Aceh dipandang sebagai sumber utama ilmu gaib.Aceh's south coast is seen as the main source of occult knowledge.

Nama sebagai bingkaiNaming as framing

Sebutan tabib menekankan penyembuhan dan menjauhkan citra sihir.The title tabib stresses healing and distances sorcery.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa sebutan ‘tabib’ lebih diterima di Aceh daripada ‘dukun’, padahal praktiknya serupa?Why is the title 'tabib' more acceptable in Aceh than 'dukun', though the practice is similar?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Tabib dan jalur ilmu gaib di Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/tabib-dan-ilmu-gaib/