Maklumat Perang Aceh 7 Juni 1873The Aceh War Proclamation of 7 June 1873
7 Juni 1873 (20 Rabiul Akhir 1290 H)7 June 1873 (20 Rabi‘ al-Akhir 1290 AH)
Maklumat 7 Juni 1873 adalah proklamasi berbahasa Melayu Jawi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, kepada para kepala dan rakyat negeri di bawah Kerajaan Aceh. Dokumen ini keluar setelah ekspedisi militer pertama gagal dan Jenderal Köhler tewas pada April 1873. Isinya memadukan ancaman dan bujukan: siapa pun yang membantu Sultan akan diperlakukan sebagai musuh, sedangkan yang berdamai dijanjikan keamanan dan persahabatan. Maklumat ini menjadi alat politik untuk memecah barisan Aceh menjelang ekspedisi kedua.
The proclamation of 7 June 1873 is a Jawi-Malay declaration by the Governor-General of the Netherlands Indies, James Loudon, addressed to the chiefs and people of the lands under the Kingdom of Aceh. It was issued after the first military expedition failed and General Köhler was killed in April 1873. It mixes threat and inducement: anyone helping the Sultan would be treated as an enemy, while those who made peace were promised security and friendship. The proclamation served as a political tool to split Acehnese ranks before the second expedition.
Pernyataan perang resmi Belanda terhadap Aceh telah dikeluarkan pada 26 Maret 1873 di atas kapal uap Citadel van Antwerpen yang berlabuh di Teluk Aceh. Ekspedisi pertama di bawah Mayor Jenderal J.H.R. Köhler mendarat pada awal April, tetapi kehilangan panglimanya pada 14 April dan ditarik mundur. Kekalahan itu memukul prestise kolonial, sehingga Batavia membutuhkan cara lain untuk melemahkan Aceh sebelum serangan berikutnya.
Maklumat 7 Juni 1873 menjawab kebutuhan itu. Ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Jawi dan bertarikh ganda Masehi dan Hijriah, dokumen ini menuduh pihak Aceh membalas tawaran damai dengan kesombongan serta ‘tipu dan hilah’. Perang dinyatakan dihentikan sementara karena musim hujan dan akan dilanjutkan dengan segala kekuatan pada musim kemarau. Sasaran perang dipersempit hanya kepada mereka yang dianggap menyesatkan Sultan, sedangkan negeri-negeri jajahan Aceh yang tidak ikut campur dijanjikan aman.
Inti politik maklumat terletak pada pemilahan. Siapa pun yang memberi bantuan kepada Aceh dalam bentuk apa pun akan dianggap musuh, sementara mereka yang berdamai akan merasakan ‘kebaikan dan persahabatan’ serta kepastian kedudukan. Dokumen ini juga menangkis kabar bahwa Belanda memusuhi Islam dengan menegaskan bahwa agama Islam dijalankan tanpa larangan di wilayah gubernemen. Pernyataan itu menunjukkan bahwa sejak awal Belanda menyadari kekuatan seruan agama, yang kelak memang menjadi tulang punggung perlawanan melalui Hikayat Prang Sabi.
Naskah aslinya tersimpan di Wereldmuseum Belanda. Alih aksaranya dibacakan oleh pegiat manuskrip Masykur Syafruddin dari Luengputu Manuskrip Aceh dan diterbitkan MAPESA pada November 2025. Bagi pembaca sekarang, maklumat ini memperlihatkan strategi pecah-belah kolonial dalam bahasa yang dipahami rakyat Aceh sendiri, sekaligus menjadi bukti bahwa perang 1873 juga merupakan perang propaganda.
The Dutch formal declaration of war on Aceh had been issued on 26 March 1873 aboard the steamer Citadel van Antwerpen anchored in the Bay of Aceh. The first expedition under Major General J.H.R. Köhler landed in early April but lost its commander on 14 April and was withdrawn. The defeat damaged colonial prestige, so Batavia needed another way to weaken Aceh before the next assault.
The proclamation of 7 June 1873 met that need. Written in Malay in Jawi script and dated in both the Christian and Hijri calendars, it accused the Acehnese side of answering peace offers with arrogance and ‘deceit and trickery’. The war was declared paused for the rainy season and would resume with full force in the dry season. Its targets were narrowed to those held to have misled the Sultan, while Acehnese dependencies that stayed out of the conflict were promised safety.
The political core of the proclamation lay in sorting. Anyone giving the Acehnese any kind of help would be treated as an enemy, while those who made peace would enjoy ‘goodness and friendship’ and a secure position. The document also rebutted reports that the Dutch were hostile to Islam, insisting that Islam was practised without hindrance in government territory. That line shows the Dutch understood from the outset the power of the religious call, which did indeed become the backbone of resistance through the Hikayat Prang Sabi.
The original is held by the Wereldmuseum in the Netherlands. A transliteration was read by the manuscript specialist Masykur Syafruddin of Luengputu Manuskrip Aceh and published by MAPESA in November 2025. For today’s readers the proclamation shows colonial divide-and-rule in the language of the Acehnese themselves, and is evidence that the war of 1873 was also a war of propaganda.
Gagasan kunciKey ideas
Ancaman dan bujukanThreat and inducement
Musuh bagi pembantu Sultan, persahabatan bagi yang berdamai.Enmity for the Sultan’s helpers, friendship for those who make peace.
Menangkis isu agamaRebutting the religious charge
Belanda menegaskan Islam tidak dilarang di wilayahnya.The Dutch insisted Islam was not forbidden in their territory.
Perang propagandaA propaganda war
Maklumat berbahasa Melayu Jawi ditujukan langsung kepada rakyat Aceh.A Jawi-Malay proclamation aimed directly at the Acehnese.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Mengapa penjajah perlu meyakinkan rakyat Aceh bahwa perangnya bukan perang melawan Islam?Why did the colonial power need to persuade the Acehnese that its war was not a war on Islam?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Maklumat Perang Aceh 7 Juni 1873”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/maklumat-perang-aceh-1873/