Qanun bak Putroe Phang dan pembagian peran dalam kenduriQanun bak Putroe Phang and the gendered division of feast work
Upacara kerakyatan yang sarat simbol budaya di Aceh dikaitkan dengan qanun bak Putroe Phang, tokoh perempuan yang melambangkan urusan kaum perempuan. Dalam pesta, perempuan mengurus peusijuek, pet ranup, dan penyambutan dara baro serta linto baro, sedangkan memasak lebih banyak dikerjakan laki-laki. Dalam kenduri nujuhan atau tahlilan, kaum lelaki yang ‘dimuliakan’, sementara kenduri blang mempertemukan keduanya dan kenduri laot sepenuhnya lelaki. Pola ini memperlihatkan pembagian ruang dan peran berbasis gender.
Popular ceremonies rich in cultural symbolism are linked in Aceh to qanun bak Putroe Phang, a female figure who stands for women’s affairs. At feasts women handle peusijuek (blessing rite), pet ranup (betel ceremony) and the welcoming of bride and groom, while cooking is largely done by men. At memorial feasts (nujuhan, tahlilan) men are the ‘honoured’ group, the rice-field feast brings both sexes together, and the sea feast is entirely male. The pattern reveals a gendered division of space and roles.
Rumusan adat Aceh menempatkan reusam, yang dalam satu versi dikaitkan dengan bentara, sebagai ranah gaya hidup masyarakat yang tidak terlalu agamis, berbeda dari adat yang dikendalikan sultan dan mengikat seluruh negeri. Adapun upacara kerakyatan yang mengandung simbol budaya dikenal sebagai qanun bak Putroe Phang. Puteri Pahang dijadikan simbol tokoh perempuan yang mengurusi persoalan perempuan, sehingga wilayah kerja laki-laki dan perempuan dalam tradisi Aceh dibedakan dengan jelas.
Dalam pesta perkawinan, perempuan memimpin tata laksana peusijuek dan pet ranup, serta menyambut dara baro atau linto baro. Laki-laki justru lebih banyak memasak. Akibatnya, kelompok yang paling menonjol dalam pesta adalah perempuan. Tamu yang diperbolehkan makan dan minum di hadapan kedua mempelai pun kaum perempuan, yang mengenakan pakaian terbaik karena hidangan di depan pelaminan lebih mewah daripada di tenda.
Pola ini berbalik dalam kenduri keagamaan seperti nujuhan atau tahlilan: laki-laki berada di depan dan dimuliakan, sedangkan perempuan di belakang. Kerja sama kedua jenis kelamin paling tampak dalam kenduri blang, sementara dalam kenduri laot perempuan sama sekali tidak hadir, simbol bahwa laut adalah ruang kerja lelaki. Secara analitis, pembagian ini memperlihatkan bahwa otoritas perempuan dalam budaya Aceh berpusat pada ritus peralihan dan keramahan, sedangkan otoritas lelaki pada ritual keagamaan dan kerja di ruang alam terbuka.
Acehnese customary formulas place reusam, linked in one version to the bentara, as the domain of everyday lifestyle and not especially religious, distinct from adat controlled by the sultan and binding on the whole realm. Popular ceremonies carrying cultural symbolism are known as qanun bak Putroe Phang. The Princess of Pahang serves as the emblem of a woman overseeing women’s affairs, so that men’s and women’s spheres of work in Acehnese tradition are clearly distinguished.
At weddings, women lead the peusijuek and pet ranup and receive the bride (dara baro) or groom (linto baro). Men, by contrast, do much of the cooking. As a result, women are the most visible group at a feast. The guests permitted to eat and drink in front of the bridal pair are also women, who wear their finest clothes because the food before the dais is grander than that served in the tent.
The pattern reverses at religious feasts such as nujuhan or tahlilan: men sit in front and are honoured, women behind. Cooperation between the sexes is most evident at the rice-field feast (khanduri blang), whereas women are wholly absent from the sea feast (khanduri laot), a sign that the sea is men’s workplace. Analytically, the division suggests that women’s authority in Acehnese culture centres on rites of passage and hospitality, men’s on religious ritual and labour in open natural spaces.
Gagasan kunciKey ideas
Perempuan sebagai pengelola ritus peralihanWomen as managers of rites of passage
Peusijuek, ranup, dan penyambutan mempelai berada di tangan perempuan.Peusijuek, betel and welcoming the couple lie in women’s hands.
Ruang ritual yang bergenderGendered ritual space
Kenduri keagamaan dan kenduri laut menjadi ranah lelaki.Religious feasts and the sea feast are male domains.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah pembagian peran dalam kenduri mencerminkan hierarki atau justru keseimbangan otoritas antara laki-laki dan perempuan?Does the division of feast roles reflect hierarchy or a balance of authority between men and women?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Qanun bak Putroe Phang dan pembagian peran dalam kenduri”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/pembagian-peran-gender-dalam-kenduri/