Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Rezeki: karunia yang diusahakanRezeki: blessing that must be striven for

Konsep berkelanjutan; diamati 2008–2009Ongoing concept; observed 2008–2009

Di Aceh kata rezeki mencakup penghasilan, rezeki tak terduga, anak, bahkan ilmu, dan selalu mengandung gagasan agensi bersama antara manusia dan Tuhan. Orang Aceh menolak istilah ‘peruntungan’ yang dianggap menjadikan manusia satu-satunya penentu keberhasilan. Mengejar rezeki dengan cara yang sesuai kehendak Tuhan dipandang kewajiban etis, terutama bagi kaum muda yang hendak menikah.

In Aceh the word rezeki covers income, windfalls, children and even knowledge, and always carries the idea of joint human and divine agency. Acehnese reject the term ‘peruntungan’ (profit, luck), seen as making humans the sole authors of success. Pursuing rezeki in a way consistent with God’s will is regarded as an ethical duty, especially for young people hoping to marry.

Di sebagian Indonesia rezeki terutama berarti uang atau mata pencaharian. Di Aceh, kata itu lebih dekat ke ‘berkah’. Birchok berkali-kali dikoreksi ketika memakai kata peruntungan: ‘Bukan peruntungan, rezeki!’ Sebagian warga menjelaskan bahwa peruntungan berasal dari tatanan ekonomi sekuler dan kapitalis yang menganggap manusia agen tunggal keberhasilan materi, sedangkan rezeki menunjuk tanggung jawab manusia untuk mengupayakan peluang yang telah dibukakan Tuhan.

Karena itu, mencari rezeki bukan pilihan moral, melainkan kewajiban. Kegagalan dapat berakibat serius, dari ketidakmampuan memenuhi tuntutan timbal balik keluarga dan tetangga hingga kemiskinan. Rezeki juga terkait dengan pernikahan dan keturunan; pemuda Aceh sering khawatir tidak tampak cukup mapan untuk melamar, dan kisah cinta yang kandas karena kalah oleh pelamar yang lebih tua dan kaya beredar di antara mereka, bahkan menjadi bahan komedi VCD populer seperti Eumpang Breuh.

Kisah perantau dari Nagan Raya memperlihatkan sisi rapuh rezeki. Sejumlah pemuda merantau ke Malaysia atau Jakarta dan pulang membawa kekayaan, tetapi ada pula yang pulang hanya dengan pengalaman. Seorang lelaki yang bertahun-tahun bekerja di Jakarta menitipkan tabungannya kepada teman yang tak pernah datang membawanya, sehingga ia pulang menganggur, digunjingkan tetangga, dan ditekan istri serta mertua.

Warga juga mengakui risiko di balik rezeki: batas tipis antara usaha jujur dan keserakahan yang merusak diri dan masyarakat. Namun dalam kerangka waktu etis yang kontingen, pengejaran rezeki oleh kaum muda dipandang bagian sah dari kehidupan Muslim, bukan penyimpangan dari kesalehan.

In parts of Indonesia rezeki mainly means money or livelihood. In Aceh it is closer to ‘blessing’. Birchok was repeatedly corrected when he used peruntungan: ‘Not peruntungan, rezeki!’ Some residents explained that peruntungan belongs to a secular, capitalist order treating humans as sole agents of material success, whereas rezeki refers to the human responsibility to pursue opportunities God has made manifest.

Seeking rezeki is therefore not morally optional but a duty. Failure can have grave consequences, from inability to meet the reciprocal expectations of family and neighbours to outright poverty. Rezeki is also tied to marriage and offspring; young Acehnese men often worry about appearing stable enough to propose, and stories of love lost to older, wealthier suitors circulate among them and even feature in popular VCD comedies such as Eumpang Breuh.

Migrant stories from Nagan Raya show rezeki’s fragility. Some young men went to Malaysia or Jakarta and returned with wealth, while others came back with only experience. One man who had worked for years in Jakarta entrusted his savings to a friend who never delivered them, so he returned unemployed, gossiped about by neighbours and pressed by his wife and in-laws.

Residents also acknowledge the risks in rezeki: a thin line between honest striving and greed that destroys self and community. Yet within contingent ethical time, the young’s pursuit of rezeki is a legitimate part of Muslim life, not a departure from piety.

Gagasan kunciKey ideas

Agensi bersamaJoint agency

Rezeki adalah hasil usaha manusia yang dibukakan Tuhan.Rezeki is the fruit of human effort opened up by God.

Kewajiban, bukan pilihanDuty, not option

Gagal mencari rezeki berarti gagal memenuhi tanggung jawab sosial dan keluarga.Failing to seek rezeki means failing social and family duties.

Batas dengan keserakahanThe line with greed

Usaha yang sah dapat tergelincir menjadi keserakahan yang merusak.Legitimate striving can slip into destructive greed.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana pandangan bahwa rezeki adalah karunia Tuhan dapat sekaligus mendorong kerja keras dan menahan keserakahan?How can the view that livelihood is God’s gift both spur hard work and restrain greed?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Rezeki: karunia yang diusahakan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/rezeki/