Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

BidangField 07

Ruang & ArsitekturSpace & Architecture

Rumah, masjid, kampung, kota, dan makam dibaca sebagai teks budaya yang menyimpan cara pandang masyarakat.Houses, mosques, settlements, towns and tombs read as cultural texts that carry a society’s worldview.

7.1 Istana & simbolisme sufistikThe palace & Sufi symbolism

7.2 Lanskap budaya pesisirCoastal cultural landscapes

TempatPlace Kutaraja (Banda Aceh) Kutaraja adalah nama lama pusat Kesultanan Aceh Darussalam di bibir Selat Melaka, kini Banda Aceh. Kata kota berasal dari bahasa Sanskerta koṭa yang berarti benteng, sehingga Kutaraja bermakna kota benteng…Kutaraja is the old name of the seat of the Aceh Darussalam sultanate on the Strait of Malacca, today Banda Aceh. The word kota derives from Sanskrit kota, ‘fort’, so… KonsepConcept Pasar tikungan, simpang empat, dan Pasar InpresBend markets, crossroads markets and the Inpres market Pasar tradisional Aceh di jalur pesisir lazim berdiri di tikungan jalan dan berbentuk huruf L, berdampingan dengan masjid atau meunasah dan sekolah. Bentuk ini memberi ruang pertemuan bagi ureung tunong…Traditional Acehnese markets along the coastal road typically stand at road bends in an L shape, alongside a mosque or meunasah and a school. The form gives upland and lowland… KonsepConcept Segitiga masjid–dayah–pasarThe mosque–dayah–market triangle Lanskap budaya pesisir Aceh dapat dibaca sebagai segitiga masjid, dayah, dan pasar yang dibangun dekat sungai. Dari simpul ini permukiman meluas ke kampung-kampung, lalu ke tepi hutan, dalam proses yang…The coastal cultural landscape of Aceh can be read as a triangle of mosque, dayah and market built close to rivers. From this node settlement spread to villages and then… KonsepConcept Tiga lanskap budaya: bukit–sawah–laut, bukit–sawah–kampong, hutan–sawah–kampongThree cultural landscapes: hill–paddy–sea, hill–paddy–village, forest–paddy–village Model untuk membaca masyarakat Aceh melalui tiga pola lanskap. Pola pesisir ‘bukit–sawah–laut’ melahirkan budaya kosmopolis dan kerajaan-kerajaan, pola pedalaman ‘bukit–sawah–kampong’ menjadi wilayah produksi, sedangkan pola ‘hutan–sawah–kampong’ menandai komunitas yang paling…A model for reading Acehnese society through three landscape patterns. The coastal ‘hill–paddy–sea’ pattern produced a cosmopolitan culture and the kingdoms, the inland ‘hill–paddy–village’ pattern is the zone of production,… KonsepConcept Toponimi kampung Aceh: cot, blang, gle, krueng, kutaAcehnese village toponymy: cot, blang, gle, krueng, kuta Nama-nama kampung di Aceh merekam lanskap tempat masyarakatnya bermukim. Unsur seperti cot (bukit), blang (sawah), gle (gunung/bukit), krueng (sungai), lhok, dan kuta (kota) menunjukkan letak permukiman di antara laut, sawah,…Village names in Aceh record the landscape in which their people settled. Elements such as cot (hill), blang (paddy field), gle (mountain/hill), krueng (river), lhok and kuta (town) show where…

7.3 Rumah, permukiman & kosmologi ruangHouse, settlement & spatial cosmology

KonsepConcept Jurong dan permukiman kawomJurong lanes and kawom settlements Kampung tradisional Aceh tersusun dari rumah-rumah tanpa pagar dalam satu pekarangan luas yang dihuni kerabat sedarah, yang disebut kawom. Setiap rumah wajib memiliki lorong (jurong) sendiri tanpa mengambil tanah orang…Traditional Acehnese villages consisted of unfenced houses on wide compounds inhabited by blood relatives, known as kawom. Every house had to have its own lane (jurong) without encroaching on another’s… LembagaInstitution Meunasah: poros agama, kuasa, dan adat gampongMeunasah: hub of religion, power and adat in the gampong Meunasah adalah balai ibadah kampung yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan desa dan tempat penyelesaian sengketa. Di sana otoritas keagamaan, kekuasaan, dan adat bertemu, dan dari keterlibatan di meunasah lahir peran…The meunasah is the village prayer hall that also serves as the seat of village government and the place for settling disputes. Religious authority, power and adat converge there, and… KonsepConcept Rumoh Aceh: arah kiblat dan tata ruang domestikRumoh Aceh: qibla orientation and domestic space Rumah tradisional Aceh dibangun menghadap ke barat agar memudahkan salat, mencerminkan kosmologi yang menyelaraskan manusia, alam, dan ibadah. Lantai utamanya terbagi menjadi serambi depan untuk tamu laki-laki, ruang tengah yang…Traditional Acehnese houses were built facing west to ease the performance of prayer, reflecting a cosmology aligning humans, nature and worship. The main floor is divided into a front veranda… KonsepConcept Toponimi kampung dan identitas arah mata anginVillage toponymy and compass-point identity Nama-nama kampung Aceh banyak diambil dari bentang alam, seperti cot (bukit), blang (sawah), krueng (sungai), lam (dalam), dan ulè (kepala), yang mencerminkan kosmologi permukiman. Sebagian nama berakar Sanskerta, dan sebagian…Acehnese village names are largely drawn from the landscape, such as cot (hill), blang (paddy field), krueng (river), lam (inside) and ulè (head), reflecting a cosmology of settlement. Some names…