Dirham emas Aceh DarussalamThe gold dirhams of Aceh Darussalam
1524 – abad ke-171524 – 17th century
Dirham atau mas emas Aceh Darussalam merupakan kelanjutan langsung tradisi penempaan Samudera Pasai. Setelah menaklukkan Pasai pada 1524, para sultan Aceh memakai formula koin Pasai, termasuk gelar al-sulṭān al-‘ādil, dari ‘Ali Mughayat Syah hingga ‘Ali Ri‘ayat Syah (1589–1604). Sejak Iskandar Muda (1607–1637) ungkapan itu tidak lagi dipakai dan diganti dengan gelar seperti ‘Johan Berdaulat’. Koin-koin ini kecil, sekitar 10–13 mm dan 0,58–0,60 gram, dengan kadar 17 karat.
The gold dirham or mas of Aceh Darussalam was a direct continuation of Samudera Pasai's minting tradition. After conquering Pasai in 1524, Aceh's sultans adopted Pasai's coin formula, including the title al-sultan al-‘adil, from ‘Ali Mughayat Syah to ‘Ali Ri‘ayat Syah (1589–1604). From Iskandar Muda (1607–1637) the phrase was no longer used and was replaced by titles such as ‘Johan Berdaulat’. These coins are small, around 10–13 mm and 0.58–0.60 g, of 17-carat gold.
T. Ibrahim Alfian menelusuri seri dirham Aceh melalui koleksi pribadinya, koleksi H. Harun Keuchik Leumiek, Museum Negeri Aceh, serta katalog J. Hulshoff Pol (1929). Dirham ‘Ali Mughayat Syah bertuliskan ‘Ali Malik al-Ẓāhir di muka dan al-sulṭān al-‘ādil di belakang. Pola ini bertahan hingga akhir abad ke-16. Contoh dari masa Sultan Husain alias ‘Ali Ri‘ayat Syah (1589–1604) yang ditampilkan Alfian memuat nama ‘Ala al-Dīn ibn Firman Syāh di muka, berukuran 12 mm dan berat 0,60 gram, dengan al-sulṭān al-‘ādil tetap di belakang. Hubungan antara nama pada koin dan sultan yang dimaksud tidak diuraikan lebih jauh dalam sumber.
Perubahan besar terjadi pada masa Iskandar Muda, yang juga bergelar Maharaja Darmawangsa Tun Pangkat. Dirhamnya (13 mm, 0,60 gram) bertuliskan Sri Sultan Iskandar Muda di muka dan Johan Berdaulat bin ‘Ali di belakang. Ungkapan sultan yang adil hilang, digantikan bahasa kedaulatan yang lebih bercorak Melayu. Sebelumnya, sejak ‘Ala al-Din Mansur Syah, gelar Malik al-Ẓāhir juga sudah ditinggalkan. Dengan demikian koin Aceh merekam dua tahap pelepasan dari model Pasai.
Dirham Aceh juga beredar dalam sistem nilai yang kompleks. Pejabat Belanda K.F.H. van Langen pada 1888 menaksir nilai dirham Sultanah Taj al-‘Alam Safiat al-Din Syah (1641–1675) sebesar f 0,625. Catatan pelaut John Davis (1599) dan tabel nilai Belanda 1691 menempatkan mas dalam jenjang satuan bersama kupang, pardu, dan tahil. Seri koin ini, meskipun kecil, menjadi sumber penting untuk membaca kesinambungan dan perubahan ideologi kekuasaan Aceh.
T. Ibrahim Alfian traced the Aceh dirham series through his own collection, that of H. Harun Keuchik Leumiek, the Aceh State Museum and J. Hulshoff Pol's 1929 catalogue. The dirham of ‘Ali Mughayat Syah reads ‘Ali Malik al-Zahir on the obverse and al-sultan al-‘adil on the reverse. This pattern lasted until the end of the sixteenth century. The example Alfian presents for Sultan Husain, alias ‘Ali Ri‘ayat Syah (1589–1604), bears the name ‘Ala al-Din ibn Firman Syah on the obverse, measures 12 mm and weighs 0.60 g, still with al-sultan al-‘adil on the reverse. The source does not elaborate on the relationship between the name on the coin and the sultan concerned.
The major change came under Iskandar Muda, also styled Maharaja Darmawangsa Tun Pangkat. His dirham (13 mm, 0.60 g) reads Sri Sultan Iskandar Muda on the obverse and Johan Berdaulat bin ‘Ali on the reverse. The just-sultan formula disappears, replaced by a language of sovereignty with a more Malay inflection. Earlier, from ‘Ala al-Din Mansur Syah, the title Malik al-Zahir had already been dropped. Aceh's coinage thus records two stages of departure from the Pasai model.
Aceh's dirhams also circulated within an intricate system of values. In 1888 the Dutch official K.F.H. van Langen valued the dirham of Sultanah Taj al-‘Alam Safiat al-Din Syah (1641–1675) at f 0.625. The navigator John Davis (1599) and a Dutch table of values from 1691 place the mas within a ladder of units alongside the kupang, pardu and tahil. Small as they are, these coins are an important source for reading continuity and change in Aceh's ideology of rule.
Gagasan kunciKey ideas
Pewarisan dari PasaiInheritance from Pasai
Formula koin Pasai dipakai Aceh selama hampir delapan dasawarsa sesudah penaklukan.Aceh used Pasai's coin formula for nearly eight decades after the conquest.
Dari keadilan ke kedaulatanFrom justice to sovereignty
Koin Iskandar Muda mengganti al-sulṭān al-‘ādil dengan ‘Johan Berdaulat’.Iskandar Muda's coin replaced al-sultan al-‘adil with ‘Johan Berdaulat’.
Koin dalam jaringan nilaiCoins in a web of values
Mas Aceh dinilai dalam sistem satuan yang mencakup mata uang lokal, Portugis, dan Spanyol.Aceh's mas was valued within a system of units spanning local, Portuguese and Spanish currencies.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apa yang ingin dinyatakan Iskandar Muda dengan mengganti ungkapan ‘sultan yang adil’ menjadi ‘Johan Berdaulat’ pada koinnya?What was Iskandar Muda signalling by replacing ‘the just sultan’ with ‘Johan Berdaulat’ on his coins?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Dirham emas Aceh Darussalam”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/dirham-emas-aceh-darussalam/