Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Gejala ‘kejawen’ di Aceh'Kejawen'-like religiosity in Aceh

Praktik yang di Jawa disebut kejawen, seperti tidak shalat ke masjid, percaya pada roh dan sihir, serta tidak berpuasa, juga dapat dijumpai di Aceh. Perbedaannya, di Aceh orang yang tidak berpuasa merasa malu makan dan minum di depan umum, dan praktik gaib dibingkai doa. Aceh tidak memiliki nama khusus untuk varian semacam ini. Gejala ini menuntut penjelasan mengapa Aceh dikenal sangat religius padahal jumlah orang yang taat beribadah tidak selalu besar.

Practices that in Java are called kejawen, such as not attending mosque prayers, belief in spirits and sorcery, and not fasting, are also found in Aceh. The difference is that in Aceh those who do not fast feel ashamed to eat and drink in public, and supernatural practice is framed by prayer. Aceh has no specific name for this variant. The phenomenon calls for an explanation of why Aceh is known as deeply religious even though the number of devout worshippers is not always large.

Franz Magnis-Suseno melukiskan orang Jawa kejawen sebagai mereka yang tidak menjalankan shalat lima waktu, tidak ke masjid, kerap tidak berpuasa, dan tidak mengatur hidup menurut al-Qur’an, sambil meyakini roh-roh tak kasatmata yang mendatangkan celaka bila diusik. Kuntowijoyo menyebutnya Jawaisme atau Agami Jawi, yang mengakui Allah dan Nabi tetapi bersandar pada kitab-kitab Jawa, mitos dewa, jin, danyang, orang keramat, dan ritual seperti ruwatan. Kepustakaan seperti Serat Centhini, Darmagandul, Gatholoco, dan primbon membentuk alam pikiran ini setelah lapisan Hindu-Buddha.

Penelusuran di Aceh menemukan kemiripan. Tidak sedikit orang Aceh yang jarang ke masjid; sebagian warga sangat mempercayai roh gaib dan sihir; perdukunan, yang disebut meudukòn atau meusihè, dijumpai di seluruh pelosok; dan di kota besar ada warga yang tidak berpuasa. Bahkan di Aceh yang disebut seratus persen Muslim, praktik yang dipengaruhi Hindu-Buddha masih hidup. Tetapi ada perbedaan penting: di Jawa orang tidak malu terlihat tidak berpuasa, sementara di Aceh rasa malu membuat orang tidak makan dan minum di hadapan khalayak.

Perbandingan ini menyoroti teka-teki tentang citra religius Aceh. Jawabannya terletak pada kuatnya norma publik dan pada cara pengalaman gaib dibalut tasawuf dan doa bersama, sehingga Aceh tidak melahirkan klasifikasi seperti santri, abangan, dan priyayi. Tipologi Geertz, yang lahir dari pengujian tesis Weber di Jawa, juga dinilai sulit menampung pengalaman wujūdiyyah yang pernah hidup di Aceh dan Jawa. Gejala ini mengingatkan bahwa identitas keagamaan Aceh perlu dibaca melalui praktik nyata, bukan hanya melalui klaim normatif.

Franz Magnis-Suseno described kejawen Javanese as those who do not perform the five daily prayers, do not attend the mosque, often do not fast and do not order their lives by the Qur'an, while believing in invisible spirits that bring misfortune if disturbed. Kuntowijoyo called it Javaism or Agami Jawi, which acknowledges God and the Prophet but relies on Javanese texts, myths of gods, jinn and guardian spirits, holy persons, and rituals such as ruwatan. Writings like the Serat Centhini, Darmagandul, Gatholoco and the primbon shaped this outlook atop a Hindu-Buddhist layer.

Inquiry in Aceh finds resemblances. Not a few Acehnese seldom go to the mosque; some residents firmly believe in spirits and sorcery; healing and sorcery practices, called meudukòn or meusihè, are found throughout the province; and in large towns some do not fast. Even in an Aceh said to be one hundred per cent Muslim, practices influenced by Hindu-Buddhism persist. Yet there is an important difference: in Java people are not ashamed to be seen not fasting, whereas in Aceh shame keeps people from eating and drinking in public.

The comparison highlights a puzzle about Aceh's religious image. The answer lies in strong public norms and in the way supernatural experience is wrapped in Sufism and communal prayer, so that Aceh produced no classification like santri, abangan and priyayi. Geertz's typology, born of testing Weber's thesis in Java, is also judged ill-suited to the experience of wujūdiyya that once lived in both Aceh and Java. The phenomenon is a reminder that Acehnese religious identity should be read through actual practice, not only through normative claims.

Gagasan kunciKey ideas

Norma malu publikThe norm of public shame

Perbedaan Aceh dan Jawa terletak pada rasa malu melanggar norma agama di depan umum.Aceh differs from Java in the shame of breaching religious norms publicly.

Tanpa nama varianNo named variant

Aceh tidak mengenal kategori setara abangan atau kejawen.Aceh has no category equivalent to abangan or kejawen.

Batas tipologi GeertzLimits of Geertz's typology

Santri–abangan–priyayi sulit menampung pengalaman wujudiyah.Santri–abangan–priyayi struggles to accommodate wujudiyya experience.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah rasa malu di ruang publik merupakan ukuran keberagamaan, atau hanya ukuran kepatuhan sosial?Is public shame a measure of religiosity or only of social conformity?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Gejala ‘kejawen’ di Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kejawen-di-aceh/