Misi Haji RI II (1949)The Second RI Hajj Mission (1949)
Berangkat September 1949Departed September 1949
Misi Haji RI II adalah delegasi diplomatik yang dibentuk di Banda Aceh pada 1949 untuk menggalang dukungan negara-negara Timur Tengah bagi Republik Indonesia yang tengah menghadapi Belanda. Prakarsanya datang dari Mr. Syafruddin Prawiranegara, yang ditempatkan di Banda Aceh dengan mandat membentuk pemerintahan darurat bila diperlukan. Misi ini dipimpin Syeikh Abdul Hamid Samalanga dengan A. Hasjmy sebagai juru bicara. Peristiwa ini memperlihatkan pemanfaatan jalur haji sebagai saluran diplomasi revolusi.
The Second RI Hajj Mission was a diplomatic delegation formed in Banda Aceh in 1949 to rally Middle Eastern support for the Indonesian Republic in its struggle against the Dutch. The initiative came from Mr. Syafruddin Prawiranegara, stationed in Banda Aceh with a mandate to form an emergency government if needed. It was led by Shaykh Abdul Hamid Samalanga with A. Hasjmy as spokesman. The episode shows the hajj route being used as a channel of revolutionary diplomacy.
Pada akhir 1940-an, Belanda belum mengakui kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Dalam situasi genting itu, pemerintah Republik merencanakan Banda Aceh sebagai pusat cadangan pemerintahan, dan Mr. Syafruddin Prawiranegara, yang menjabat Wakil Perdana Menteri, ditempatkan di sana. Salah satu langkah awalnya adalah membentuk misi yang bertugas mengunjungi negara-negara Timur Tengah untuk mencari bantuan dan dukungan bagi perjuangan Republik.
Susunan misi mencerminkan perpaduan ulama dan intelektual. Syeikh Abdul Hamid Samalanga menjadi ketua, Muhammad Nur El Ibrahimy sekretaris, dan A. Hasjmy juru bicara, dengan anggota Prof. Abdul Kahar Muzakkir, Haji Syamsir, dan Syekh Awab Syahbal. Misi berangkat pada September 1949 dan bertemu sejumlah pemimpin dunia Islam, antara lain Raja Abdul Aziz, Amir Faisal sebagai Menteri Luar Negeri, Azzam Pasya selaku Sekretaris Liga Arab, Syeikh al-Azhar, Mufti Mesir, serta Amir Abdul Karim dari Maroko.
Misi ini menunjukkan bahwa legitimasi keulamaan dan jaringan Haramayn yang dibangun Aceh selama berabad-abad dapat dikonversi menjadi modal diplomatik negara baru. Nama ‘misi haji’ sendiri memadukan ritual dan politik: perjalanan ke Tanah Suci dimanfaatkan untuk memperkenalkan perjuangan Indonesia kepada dunia Arab. Dengan demikian, Aceh tidak hanya menjadi wilayah pendukung revolusi, tetapi juga jembatan Republik dengan dunia Islam.
Sebagian sumber menyebut misi ini, yang dikaitkan dengan Haji Akbar 1948–1949, sebagai misi haji pertama Republik Indonesia dan menghubungkan penunjukan tiga tokoh Aceh dengan penghargaan pemerintah atas jasa Aceh, termasuk sumbangan pesawat Dakota. Para delegasi tidak hanya membimbing jemaah tetapi juga menjalankan diplomasi kemerdekaan di forum dunia Islam.
In the late 1940s the Netherlands had still not recognised the independence proclaimed on 17 August 1945. In that precarious situation the Republican government planned for Banda Aceh to serve as a reserve seat of government, and Mr. Syafruddin Prawiranegara, then Deputy Prime Minister, was stationed there. One of his first steps was to form a mission to visit Middle Eastern countries in search of assistance and support for the Republic’s struggle.
The mission’s composition blended scholars and intellectuals. Shaykh Abdul Hamid Samalanga was chairman, Muhammad Nur El Ibrahimy secretary and A. Hasjmy spokesman, with Prof. Abdul Kahar Muzakkir, Haji Syamsir and Shaykh Awab Syahbal as members. It set out in September 1949 and met a range of Muslim leaders, among them King Abdul Aziz, Amir Faisal as Foreign Minister, Azzam Pasha as Secretary-General of the Arab League, the Shaykh of al-Azhar, the Mufti of Egypt and Amir Abdul Karim of Morocco.
The mission shows how the scholarly legitimacy and Haramayn networks that Aceh had built over centuries could be converted into diplomatic capital for a new state. Its very name joined ritual and politics: a journey to the Holy Land became a means of presenting Indonesia’s struggle to the Arab world. Aceh thus served not only as a bastion of the revolution but also as the Republic’s bridge to the Muslim world.
Some sources, linking it to the 'Haji Akbar' of 1948–1949, call this the Republic's first hajj mission and connect the appointment of three Acehnese leaders with the government's gratitude for Aceh's contributions, including the donation of a Dakota aircraft. The delegates not only guided pilgrims but also conducted independence diplomacy in Muslim forums.
Gagasan kunciKey ideas
Haji sebagai diplomasiHajj as diplomacy
Saluran ibadah dipakai untuk kepentingan pengakuan internasional.A channel of worship was used to seek international recognition.
Aceh sebagai jembatanAceh as a bridge
Jaringan Aceh–Arab menjadi modal diplomatik Republik.Aceh–Arab networks became diplomatic capital for the Republic.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Mengapa jaringan keagamaan sering menjadi modal diplomasi pertama bagi negara yang baru lahir?Why do religious networks so often become the first diplomatic capital of a newborn state?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Misi Haji RI II (1949)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/misi-haji-ri-ii/