MAPESA: Masyarakat Peduli Sejarah Aceh
2010–kini2010–present
MAPESA (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) adalah komunitas warga yang sejak 2010 bekerja menyelamatkan, membaca, dan menafsirkan tinggalan sejarah Aceh, terutama nisan dan inskripsi kuno. Berawal dari kelompok kecil di Banda Aceh, lembaga ini dikukuhkan dengan akta notaris pada 2012 dan memperoleh pengesahan Kemenkumham pada 2024. Kerja lapangannya yang paling dikenal adalah meuseuraya, gotong royong mingguan membersihkan dan mendokumentasikan situs makam yang terlantar. Dari sana MAPESA menghasilkan kajian epigrafi, arsip foto, dan narasi baru tentang kesultanan-kesultanan Aceh.
MAPESA (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh, ‘Community Concerned for Aceh’s History’) is a citizens’ group that since 2010 has worked to rescue, read and interpret Aceh’s historical remains, above all old gravestones and inscriptions. Starting as a small circle in Banda Aceh, it was constituted by notarial deed in 2012 and registered with the Ministry of Law and Human Rights in 2024. Its best-known fieldwork is meuseuraya, weekly communal work to clean and document neglected grave sites. From this it produces epigraphic studies, photo archives and fresh narratives about Aceh’s sultanates.
Kelahiran MAPESA pada 2010 berangkat dari keprihatinan sederhana: ribuan batu nisan peninggalan Samudera Pasai, Lamuri, dan Kesultanan Aceh Darussalam tergeletak di kebun, rawa, dan semak, sebagian patah, terbenam, atau diambil orang. Nisan-nisan itu bukan sekadar penanda kubur, melainkan dokumen bertulis yang memuat nama, gelar, tarikh, ayat, dan syair, sehingga setiap batu yang hilang berarti satu halaman sejarah ikut lenyap. Komunitas ini memilih jalan kerja langsung di lapangan sebelum menunggu proyek pemerintah.
Sejak 2012 MAPESA menggelar meuseuraya setiap pekan. Relawan datang ke satu situs, membersihkan semak, mengangkat nisan yang terbenam, mengukur, memotret, lalu membaca inskripsinya. Hasil bacaan kemudian diolah menjadi kajian epigrafi yang menautkan nisan dengan sumber naskah dan kronik, sehingga silsilah raja, ulama, dan pejabat yang selama ini kabur dapat ditata ulang. Pada tahun yang sama lembaga ini dikukuhkan secara notarial, dan pada 2024 statusnya disahkan Kementerian Hukum dan HAM. Sekretariatnya berada di Punge Blang Cut, Banda Aceh.
Ruang lingkup kerja MAPESA mencakup penelitian sejarah dan kebudayaan, pembaruan narasi sejarah, pelestarian tinggalan fisik, serta penyadaran publik. Program Kerja 2023 yang ditandatangani Ketua Dewan, Mizuar Mahdi, merinci empat poros: pelestarian situs, digitalisasi arsip foto nisan yang terkumpul selama lebih dari satu dasawarsa, survei kawasan Indrapuri, dan publikasi melalui seri ‘Warisan Sejarah’ serta laman mapesaaceh.com. Semboyannya, ‘Mapesa, Mengawal Kepribadian Aceh’, menegaskan bahwa pelestarian dipahami sebagai penjagaan jati diri, bukan sekadar urusan benda purbakala.
MAPESA bekerja dalam jaringan dengan komunitas serupa, antara lain CISAH (Center for Information of Samudra Pasai Heritage) di Aceh Utara, Beulangong Tanoh dan Pedir Museum di Pidie, serta Yayasan Aceh Darussalam Akademi. Lembaga ini juga menerbitkan alih aksara dokumen kolonial, seperti Maklumat Perang Aceh 7 Juni 1873, dengan bekerja sama dengan pegiat manuskrip. Kunjungan Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada awal 2025 menandai pengakuan negara atas kerja komunitas ini. Bagi studi Aceh, MAPESA menunjukkan bahwa sumber primer terpenting tentang masa kesultanan sebagian besar justru masih berdiri di lapangan dan menunggu dibaca.
MAPESA was born in 2010 out of a simple concern: thousands of gravestones from Samudera Pasai, Lamuri and the Sultanate of Aceh Darussalam lay in gardens, swamps and scrub, some broken, buried or carried off. These stones are not just grave markers but written documents bearing names, titles, dates, verses and poems, so every stone lost is a page of history gone. The group chose direct fieldwork rather than waiting for government projects.
Since 2012 MAPESA has held meuseuraya every week. Volunteers go to a site, clear the undergrowth, raise buried stones, measure and photograph them, then read their inscriptions. The readings are worked into epigraphic studies that link the stones with manuscripts and chronicles, so that obscure genealogies of rulers, scholars and officials can be reconstructed. That same year the group was constituted by notarial deed, and in 2024 the Ministry of Law and Human Rights registered it. Its secretariat is in Punge Blang Cut, Banda Aceh.
MAPESA’s scope covers historical and cultural research, renewal of historical narratives, preservation of physical remains and public awareness. Its 2023 work programme, signed by the chair of its council, Mizuar Mahdi, sets out four lines: site preservation; digitising the photo archive of gravestones gathered over more than a decade; a survey of the Indrapuri area; and publication through the ‘Warisan Sejarah’ (Historical Heritage) series and the website mapesaaceh.com. Its motto, ‘Mapesa, guarding Aceh’s character’, frames preservation as the safeguarding of identity rather than a matter of antiquities alone.
MAPESA works in a network with similar groups, including CISAH (Center for Information of Samudra Pasai Heritage) in North Aceh, Beulangong Tanoh and the Pedir Museum in Pidie, and the Yayasan Aceh Darussalam Akademi. It also publishes transliterations of colonial documents, such as the Aceh War Proclamation of 7 June 1873, in cooperation with manuscript specialists. A visit by Culture Minister Fadli Zon in early 2025 marked state recognition of its work. For Aceh studies, MAPESA shows that the most important primary sources on the sultanate era still largely stand in the field, waiting to be read.
Gagasan kunciKey ideas
Nisan sebagai dokumenGravestones as documents
Inskripsi nisan memuat nama, tarikh, dan syair yang menjadi sumber primer sejarah kesultanan.Inscriptions carry names, dates and verses that are primary sources for sultanate history.
Meuseuraya
Gotong royong mingguan sejak 2012 untuk membersihkan dan mendokumentasikan situs.Weekly communal work since 2012 to clean and document sites.
Pembaruan narasiRenewing the narrative
Hasil bacaan epigrafi dipakai menata ulang silsilah dan kronologi kesultanan.Epigraphic readings are used to reconstruct sultanate genealogies and chronology.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bisakah komunitas warga menjadi penjaga arsip sejarah yang setara dengan lembaga negara?Can a citizens’ community be a guardian of the historical record on a par with state institutions?
Kutip entri ini:Cite this entry: “MAPESA: Masyarakat Peduli Sejarah Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/mapesa/