Adat, reusam, dan hukom: tiga hubungan dalam kosmologi AcehAdat, reusam and hukom: three relationships in Acehnese cosmology
Pengetahuan tentang alam diterjemahkan orang Aceh ke dalam satu sistem yang memadukan tiga hubungan. Hubungan manusia dengan manusia diwujudkan dalam adat (undang-undang), hubungan manusia dengan alam dalam kebiasaan (reusam), dan hubungan manusia dengan Pencipta dalam syara‘ atau hukom. Hadih maja menjadi pangkal pengaturan kesejajaran hubungan antarmanusia. Islam menjadi pengikat seluruh sistem ini; bila Islam dicabut, kosmologi Aceh ikut tercerabut.
The Acehnese translated their knowledge of nature into a single system combining three relationships. Relations between people are expressed in adat (customary law), relations between people and nature in usage (reusam), and relations between people and the Creator in syara' or hukom (religious law). Hadih maja proverbs are the starting point for keeping human relations in balance. Islam binds the whole system; were Islam removed, Acehnese cosmology would be uprooted with it.
Turunan pengetahuan tentang kealaman tidak berhenti sebagai renungan metafisik, tetapi diterjemahkan menjadi tata hidup yang memadukan tiga hubungan. Hubungan manusia dengan manusia diatur oleh adat, yang di sini disejajarkan dengan undang-undang. Hubungan manusia dengan alam diatur oleh reusam, kebiasaan yang menuntun cara manusia memperlakukan lingkungan. Hubungan manusia dengan Pencipta diwujudkan dalam syara‘ atau hukom. Ketiganya membentuk satu kesatuan, dan dalam kehidupan kampung semuanya diikat oleh pemahaman tentang dīn, sehingga keharmonisan dapat terjaga.
Bentuk simbolik dari keseimbangan itu adalah peutimang, yakni sejajar: manusia yang hidup di dunia harus menjaga kesejajaran hubungannya dengan sesama, alam, dan Tuhan. Untuk mengatur kesejajaran hubungan antarmanusia, orang Aceh menuturkan hadih maja, nasihat singkat dan padat yang menjadi pangkal sistem kosmologi hubungan sosial. Karena itu sastra merupakan salah satu cara orang Aceh menyampaikan pesan penyeimbang, dan kajian kosmologi Aceh tidak cukup membedah kitab-kitab ulama; makna di balik setiap hadih maja, yang mulai dilupakan generasi muda, juga perlu ditelaah.
Di titik ini filsafat dan kosmologi bertemu, sebab membedah tiga hubungan itu berarti membedah sistem berpikir orang Aceh. Islam berfungsi sebagai magnet bagi semua sistem berpikir dalam masyarakat Aceh. Konsekuensinya tegas: ketika Islam ditarik keluar dari kerangka pikir orang Aceh, sistem kosmologinya pun tercerabut dengan sendirinya. Rumusan ini menjelaskan mengapa perubahan dalam satu hubungan, misalnya relasi dengan alam, mudah terasa sebagai gangguan terhadap hubungan lainnya.
Knowledge of the natural world did not remain metaphysical reflection; it was translated into an order of life combining three relationships. Relations among people are governed by adat, here equated with law. Relations between people and nature are governed by reusam, the customary usage that guides how humans treat their environment. Relations between people and the Creator are realised in syara' or hukom. The three form a single whole, and in village life all are bound by an understanding of din, so that harmony can be preserved.
The symbolic form of this balance is peutimang, 'keeping level': people living in the world must keep their relations with others, with nature and with God in balance. To regulate balance among people, the Acehnese recite hadih maja, short and dense counsels that are the starting point of the cosmology of social relations. Literature is therefore one of the ways the Acehnese convey messages of balance, and the study of Acehnese cosmology cannot stop at dissecting scholars' books; the meanings behind each hadih maja, now being forgotten by the young, must also be examined.
Here philosophy and cosmology meet, for to analyse the three relationships is to analyse the Acehnese system of thought. Islam acts as a magnet for every system of thought in Acehnese society. The consequence is stark: when Islam is drawn out of the Acehnese frame of thought, its cosmological system is uprooted as a matter of course. This formulation helps explain why change in one relationship, for example with nature, is readily felt as a disturbance to the others.
Gagasan kunciKey ideas
Tiga hubungan, tiga tatananThree relationships, three orders
Adat, reusam, dan hukom masing-masing mengatur relasi dengan sesama, alam, dan Tuhan.Adat, reusam and hukom govern relations with others, with nature and with God respectively.
Sastra sebagai penyeimbangLiterature as balancer
Hadih maja membawa kosmologi ke dalam etika sehari-hari.Hadih maja carries cosmology into everyday ethics.
Islam sebagai pengikatIslam as binder
Tanpa Islam, kesatuan tiga hubungan itu runtuh.Without Islam the unity of the three relationships collapses.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Dalam tiga hubungan itu, hubungan mana yang paling terganggu oleh perubahan Aceh hari ini, dan bagaimana gangguan itu merambat ke hubungan lainnya?Of the three relationships, which is most disturbed by change in Aceh today, and how does that disturbance spread to the others?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Adat, reusam, dan hukom: tiga hubungan dalam kosmologi Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/adat-reusam-hukom-tiga-hubungan/