Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh (KPA)Partai Aceh and the Aceh Transitional Committee (KPA)

Sejak 2005; dominan dalam pilkada 2007 dan pemilu 2009From 2005; dominant in the 2007 regional and 2009 legislative elections

Setelah MoU Helsinki, GAM berganti nama menjadi Komite Peralihan Aceh (KPA) dan mendirikan partai lokal, Partai Aceh, yang dipimpin mantan panglima tertinggi GAM, Muzakkir Manaf. Jaringan mobilisasi masa perang dialihkan menjadi mesin elektoral. Hasilnya, jaringan ini memenangkan pemilihan kepala daerah 2007 dan menguasai parlemen provinsi serta kabupaten. Keberhasilan ini memperlihatkan reintegrasi politik sekaligus kesinambungan struktur lama.

After the Helsinki memorandum, GAM renamed itself the Aceh Transitional Committee (KPA) and founded a local party, Partai Aceh, led by GAM's former supreme commander Muzakkir Manaf. Wartime mobilisation networks were converted into an electoral machine. As a result, the network won the 2007 regional executive elections and came to dominate provincial and district parliaments. This success reflects both political reintegration and the persistence of older structures.

Hak mendirikan partai lokal merupakan salah satu buah paling nyata dari proses damai. Melalui KPA dan Partai Aceh, mantan kombatan memperoleh jalur sah menuju jabatan gubernur, bupati, dan wali kota. Menurut ICG, KPA berfungsi sebagai mesin politik utama GAM dalam pemilihan tingkat kabupaten dan di wilayah tertentu pada pemilihan gubernur. Mengikuti arahan Majelis Nasional GAM untuk membangun basis politik dalam semangat Helsinki, KPA menentukan kandidat, merancang strategi kampanye, dan merekrut ribuan tenaga kampanye berbasis desa yang berakar kuat di komunitasnya.

Pada 2007, jaringan ini memenangkan pasangan Irwandi dan Nazar, yang melibatkan mantan aktivis SIRA, sebagai kepala daerah Aceh. Dalam pemilu legislatif, Partai Aceh menang di hampir seluruh kabupaten sehingga parlemen provinsi dan kabupaten didominasi wakilnya; tujuh dari sembilan belas bupati tercatat sebagai mantan anggota GAM. Kunci keberhasilannya adalah kesinambungan jaringan penggalangan yang dahulu dipakai saat berhadapan dengan TNI.

Jalan menuju kemenangan itu tidak mulus. Menjelang pemilu 2009 terjadi serangkaian serangan terhadap anggota KPA. Martti Ahtisaari, mediator perundingan Helsinki, berulang kali datang memantau dan mengingatkan pemerintah tentang maraknya operasi intelijen yang provokatif. KPA memilih tidak membalas dengan kekerasan, karena respons bersenjata dikhawatirkan menjadi dalih bagi operasi militer baru. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa demiliterisasi politik bergantung pada pengendalian diri di tengah provokasi.

Pada Pemilukada 9 April 2012, sejumlah purnawirawan jenderal yang pernah memimpin operasi militer di Aceh ikut aktif memenangkan Partai Aceh, sebuah simbol rekonsiliasi elite Jakarta–GAM.

The right to form a local party was among the most tangible fruits of the peace process. Through the KPA and Partai Aceh, former combatants gained a legitimate route to the offices of governor, district head and mayor. According to the ICG, the KPA served as GAM's main political machine in district races and, in selected areas, in the gubernatorial contest. Following the directive of GAM's National Council to build a political base in the spirit of Helsinki, the KPA chose candidates, designed campaign strategies and recruited thousands of village-based campaign workers with deep local roots.

In 2007 this network carried the ticket of Irwandi and Nazar, which included a former SIRA activist, to Aceh's top executive office. In the legislative elections Partai Aceh won in almost every district, so that provincial and district parliaments were dominated by its representatives; seven of nineteen district heads were former GAM members. The key to this success was the continuity of mobilisation networks once used against the Indonesian military (TNI).

The road to victory was not smooth. Before the 2009 elections a series of attacks targeted KPA members. Martti Ahtisaari, the Helsinki mediator, visited repeatedly to monitor the situation and warned the government about provocative intelligence operations. The KPA chose not to retaliate violently, fearing that an armed response would furnish a pretext for new military operations. The episode shows that the demilitarisation of politics depended on restraint in the face of provocation.

In the regional election of 9 April 2012, several retired generals who had led military operations in Aceh campaigned actively for Partai Aceh, a symbol of Jakarta–GAM elite reconciliation.

Gagasan kunciKey ideas

Jaringan perang menjadi mesin elektoralWar networks become electoral machines

Struktur mobilisasi GAM langsung dialihkan ke kampanye politik.GAM's mobilisation structure was transferred directly into campaigning.

Dominasi legislatifLegislative dominance

Partai Aceh menguasai hampir seluruh parlemen daerah setelah pemilu.Partai Aceh came to control almost all regional parliaments after the elections.

Menahan diri sebagai strategi damaiRestraint as a peace strategy

Penolakan membalas serangan menjaga proses damai dari dalih militer.Refusing to retaliate protected the peace process from military pretexts.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah keberhasilan elektoral mantan gerilyawan memperkuat demokrasi lokal atau sekadar memindahkan hierarki lama ke lembaga baru?Does the electoral success of former guerrillas strengthen local democracy, or merely transfer old hierarchies into new institutions?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh (KPA)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/partai-aceh-dan-kpa/