Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Ada dan diri dalam pemikiran Hamzah FansuriBeing (ada) and self (diri) in the thought of Hamzah Fansuri

Abad ke-16–17 M16th–17th centuries CE

Dalam kajian Syed Muhammad Naquib al-Attas, Hamzah Fansuri memakai kata Melayu ada dengan tujuh makna metafisik dan mistik, dari mawjud hingga Zat. Kata diri, dalam konteks ontologis, tidak menunjuk ego manusia, melainkan Diri Ilahi, yaitu Huwiyyah, Sirr, dan Dhât. Rumusan ini menunjukkan tingkat abstraksi pemikiran ulama Aceh dan menjadi rujukan bagi gagasan bahwa pendidikan Aceh awal berupaya melahirkan pemikir konseptual.

In Syed Muhammad Naquib al-Attas's study, Hamzah Fansuri used the Malay word ada ('to be') with seven metaphysical and mystical senses, from mawjud to the Essence. The word diri ('self'), in its ontological sense, refers not to the human ego but to the Divine Self, that is Huwiyya, Sirr and Dhat. This shows the level of abstraction in Acehnese scholarship and supports the view that early Acehnese education sought to form conceptual thinkers.

Menurut uraian al-Attas, ada dalam karya Hamzah menjelaskan tujuh konsep: mawjud dengan dua ranahnya, lahir dan batin; mahiyyah (kuiditas); huwiyyah (individualitas); nafs (jiwa); ‘ayn (entitas); muthlaq (yang mutlak); dan Zat. Ketujuhnya bergerak antara ranah metafisik (makrokosmis) dan mistik (mikrokosmis), memperlihatkan bahwa bahasa Melayu digunakan untuk menampung ontologi sufistik yang kompleks.

Konsep diri dihubungkan dengan al-Nafs al-Kulliyyah (Jiwa Universal). Dalam konteks fanâ, diri berada di ranah mistik dan mikrokosmis; dalam konteks ontologis, diri menunjuk Diri yang Ada, yaitu Individualitas Ilahi, Kesadaran Ilahi (rahasia), dan Esensi itu sendiri. Dengan demikian, pengenalan diri dalam tradisi Aceh tidak berhenti pada psikologi, tetapi berujung pada pengenalan Tuhan.

Dalam pembacaan sejarah intelektual Aceh, rumusan ini dijadikan bukti bahwa ulama Aceh pernah berpikir secara konseptual dan hakiki, dan bahwa gaya berpikir itu ikut memengaruhi pemerintahan. Setelah Hamzah dicap membawa wahdatul wujud dan dianggap kalah oleh Nuruddin ar-Raniry, warisan ini tidak berlanjut sebagai arus utama, meskipun konsep kedirian dan kehambaannya tetap dikaji para sarjana. Penilaian atas ‘kekalahan’ Hamzah sendiri merupakan bagian dari perdebatan historiografis yang belum selesai. Kajian ini juga memperlihatkan kemampuan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu yang sanggup menampung konsep-konsep filsafat dan tasawuf yang sangat abstrak.

According to al-Attas, ada in Hamzah's writings explains seven concepts: mawjud with its two realms, outer and inner; mahiyya (quiddity); huwiyya (individuality); nafs (soul); ‘ayn (entity); mutlaq (the absolute); and the Essence (Dhat). The seven move between the metaphysical (macrocosmic) and mystical (microcosmic) domains, showing Malay being used to carry a complex Sufi ontology.

The concept of diri is linked to al-Nafs al-Kulliyya, the Universal Soul. In the context of fana', diri belongs to the mystical, microcosmic domain; in the ontological context it designates the Self that Is: the Divine Individuality, the Divine Consciousness (the secret) and the Essence itself. Self-knowledge in the Acehnese tradition thus does not stop at psychology but culminates in knowledge of God.

In readings of Acehnese intellectual history, this account serves as evidence that Acehnese scholars once thought conceptually and essentially, and that this style of thought shaped government. After Hamzah was branded a proponent of wahdat al-wujud and deemed to have lost to Nuruddin ar-Raniri, his legacy ceased to be mainstream, though his ideas of selfhood and servanthood are still studied. The judgement of Hamzah's 'defeat' is itself part of an unresolved historiographical debate.

Gagasan kunciKey ideas

Tujuh makna adaSeven senses of ada

Satu kata Melayu menampung spektrum ontologi dari wujud hingga Zat.One Malay word spans an ontology from existence to Essence.

Diri sebagai Diri IlahiSelf as Divine Self

Dalam konteks ontologis, diri bukan ego melainkan Huwiyyah, Sirr, Dhât.Ontologically, diri is not the ego but Huwiyya, Sirr and Dhat.

Pemikiran yang terputusAn interrupted line

Warisan konseptual Hamzah tidak berlanjut sebagai arus utama pendidikan.Hamzah's conceptual legacy did not continue as mainstream education.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa akibatnya bagi sebuah tradisi bila bahasa ontologi yang pernah dibangunnya tidak lagi diajarkan?What happens to a tradition when the ontological language it once built is no longer taught?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Ada dan diri dalam pemikiran Hamzah Fansuri”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ada-dan-diri-hamzah-fansuri/